Reni Pebriyani
Reni Pebriyani Pelajar

Saintis yang lagi belajar nulis

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Jangan "Segitunya" dengan Bahasa Arab

11 September 2018   19:41 Diperbarui: 13 September 2018   18:32 3000 16 6
Jangan "Segitunya" dengan Bahasa Arab
The Great Course Daily


Saat saya masih kanak-kanak, saya selalu diminta untuk menghormati apapun yang bertuliskan bahasa Arab. Tidak memperlakunnya sembarangan, diduduki, atau pun diinjak.

Menariknya, saat saya pertama kali haid, saya disarankan untuk tidak membuka Alquran atau buku-buku dengan teks bahasa Arab. Saya sangat disangsikan bila saya melakukan hal tersebut. Alasannya, saya berada di dalam keadaan yang kotor.

Saya pun sering melihat banyak sekali orang yang dengan mudah terkagum-kagum kepada manusia yang pandai berbicara dalam bahasa Arab.

Mereka dianggap seolah-olah seperti sedang membacakan Alquran dengan penuh niat dan kecintaan. Dan, kekaguman ini disederhanakan menjadi pengertian sempit bahwa orang yang pandai berbahasa arab adalah orang yang memahami agama Islam.

Hal ini terang menyimpan bahaya laten bila terus dibiarkan menjadi paradigma publik terhadap Bahasa Arab yang dipandang sangat subjektif dan terlalu suci.

Yang paling terang efeknya adalah pembodohan umat dengan akal-akalan "saya bisa bahasa Arab, apa yang dikatakan saya pasti benar. jadi, nurut yah!", padahal konten yang dibawakan belum membawa maslahat bagi kemajuan peradaban.

Sekilas: Mengapa Ada Bahasa?

Bahasa dibidani dari kebutuhan manusia untuk mengungkapkan apa yang kita pikir dan apa kita rasa. Kita tidak perlu repot-repot menyuguhkan realitas murni.

Coba kalau tidak ada bahasa, bagaimana kita bisa memahamkan bahwa kita sedang lapar, sedih, murka atau butuh kasih sayang? Ingat isyarat pun bahasa.

Sehingga, bahasa memang penting dan jadi kealamiahan manusia untuk menyimbolkan apa yang kita rasa dan kita pikirkan.

Bahasa terlahir dari kesepakatan masing-masing kelompok

Ratusan bahasa tercipta dari bentukan budaya yang disepakati dan dimengerti oleh suatu kelompok. Indonesia dengan bahasa Indonesianya sendiri, diserap dari berbagai keheterogenan bahasa-bahasa inlander yang bernaung dalam kedaulatan negara ini, ditambah dari bahasa yang datang dari negeri-negeri yang pernah singgah, baik untuk berdagang, menyebarkan agama, atau menjajah.

Kita bisa temui kata seperti: ibadah, berkat, kitab, rok, handuk, wortel, sekolah, kantor, om, tante, dipinang, dll dari bahasa yang bisa kita temui pula dalam bahasa Arab, Belanda, Sunda, Melayu atau bahasa lainnya yang pernah bersentuhan dengan kehidupan sosial Indonesia di masa lampau.

Keminggris pun bukan sesuatu yang tiba-tiba lahir menjadi bahasa a la anak Jaksel yang literally gado-gado.

Seperti yang pernah diriset di salah satu artikel tirto.id latar belakang, sosial, budaya, gaya hidup anak-anak Jakselberasal dari keluarga yang sering bersentuhan dengan kegiatan-kegiatan berbahasa Inggris, baik pekerjaan maupun sekolah yang bertaraf internasional.

Begitu juga bahasa Arab, bahasa padang pasir ini bukanlah bahasa yang lahir bersamaan dengan agama Islam. Islam turun jauh belakangan sebelum bahasa Arab terbentuk.

Masyarakat pagan Quraisy tentu bukan masyarakat yang tak berbahasa, justru sebelum Islam terwahyukan, kumpulan manusia-manusia nomaden ini sudah mengenal sastra, hingga kekayaan kosakatanya jauh bila dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Untuk menyebutkan istilah unta saja, bisa hingga ratusan kata yang merujuk pada hewan yang sama. Tapi, untuk kosakata terkait teknologi 2000-an, Bahasa Arab pun kebanyakan menyerap dari Bahasa Inggris yang lebih maju dalam menciptakan realitas teknologi terkait, seperti telepon atau pun komputer.

Pengguna Bahasa Arab Tidak Hanya Orang Islam

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3