Mohon tunggu...
Rendra Trisyanto Surya
Rendra Trisyanto Surya Mohon Tunggu... I am a Lecturer, IT Auditor and Trainer

I am a Lecturer of IT Governance and IT Management. And IT AUDITOR and Trainer in CISA, CISM, CGEIT, CRISC, COBIT, ITIL-F, PMP, IT Help Desk, Project Management, Digital Forensic, E-commerce, Digita Marketing, CBAP, and also Applied Researcher. My other activity is a Citizen Journalist who like to write any interesting small events in my around to be excellent articles that would share with DIARY approached style. Several items which I was writing in here using different methods for my experimental, such as "freestyle with maybe avoided certain grammar," "feeling record on my certain expression," "poetry," "short stories," "pros," "travel writing," and also some about popular science. I use this excellent weblog (Kompasiana) as my experiment laboratory in writing exercise and increasing my Personal Branding... So, hopefully..these articles will give you beneficial inspiration and motivation for other people like my readers...! ... Rendratris2013@Gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kreativitas Pahlawan “Bintang Gerilya” Itu, Akhirnya Terhenti di KALIBATA

18 April 2013   22:45 Diperbarui: 12 April 2017   00:30 0 1 3 Mohon Tunggu...
Kreativitas  Pahlawan “Bintang Gerilya” Itu, Akhirnya Terhenti di KALIBATA
(Keterangan: Wajah cerianya di usia muda, 47 tahun waktu dilantik menjadi Danrem-012/Teuku Umar di Meulaboh, Aceh Barat pada tahun 1976 oleh Panglima Kodam-I Iskandar Muda saat itu. / Photo by: dok pribadi)


Dia adalah pejuang, yang ikut memerdekakan negara ini, sejak usianya remaja dengan  "melalang" di hutan belantara "Medan Area" di Sumatera. Ketika menjadi Danrem 012/Teuku Umar dan Danrem 011/Lilawangsa di Aceh, ia berupaya membujuk masyarakat yang terlibat pemberontakan GAM, agar kembali kepangkuan Ibu Pertiwi  dengan pendekatan "Sistem Sosial" (persuasif) yang damai. Bukan dengan senjata yang dimiliki pasukannya. Tapi akhirnya, dia justru"terpental" dipindahkan ke Jakartadi dalam keramaian hiruk-pikuk yang justru dijalaninya dalam "Sunyi". Masa pensiun  yang panjang, yang kemudian dilewatinya itu, lalu dinikmatinya dengan mengurus taman bunga kecil disudut rumah bersama isteri tercinta. Menulis novel dan puisi serta membuat beberapa lukisan digital dengan Komputer hampir tiap hari. Dia tetap terus berkarya meski dalam bentuk lain, yang sebenarnya tidak umum dilakukan oleh seorang periwra militer. Hingga di usianya yang 81 tahun, ketika akhirnya dia dipanggil Yang Maha KuasaBagi dia,seorang  perwira pejuang yang juga seniman tentara tersebut, ladang pengabdian bisa di mana saja, dalam bentuk apa saja... Dia pun kemudian juga menjadi Pahlawan Keluarga.....!

***


Usianya sudah melebihi umumnya orang Indonesia, yaitu 80 tahun, ketika ditemui dalam suatu obrolan santai pada suatu sore di Bulan Januari 2010 lalu.  Dia masih terlihat gagah, meski dengan guratan wajah yang sudah tampak semakin berkerut dan renta. Profil hidung bangir  menjadi wajah khas  priyayi asal  Jawa ini. Garis ketampanan yang dimilikinya merupakan kombinasi turunan Jawa  dan Tapanuli Selatan ini, yang masih terlihat jelas merona, ketika akhirnya ikut tertawa renyah dalam obrolan. Logat bicara yang berdialek khas Sumatra itu,   menunjukkan sosok sepuh ini pernah tinggal lama  di wilayah ini. Ya, memang begitulah…!   Ibunya bernama KRA Samsiah berasal dari Yogyakarta,  menikah dengan  Ayahnya  yang bernama H. Tengku Kotjik Zulad, seorang bangsawan dari kerajaan kecil di sekitar Labuan Batu, Sumatera Utara.

Ritme suaranya masih terdengar tegas dan  berwibawa, saat membahas masalah politik dengan semangat dan  serius. Hal yang memperlihatkan bahwa mantan perwira tentara dan komandan militer senior ini, pernah berjaya pada jamannya dengan memimpin berbagai jabatan startegis seorang Kolonel. Photo besar dengan pakaian dinas aktif disertai atribut lengkap militer itu, terpasang berwibawa dalam figura  coklat muda yang tertempel di dinding ruang tamu rumah  sederhananya. “Photo ini diambil tahun 1978 sewaktu saya masih berusia 47 tahun, dan menjabat Komandan Resor Militer (Danrem) 011/Lilawangsa di Lhokseumawe, Aceh” katanya.


Pejuang Kemerdekaan di Usia Remaja

Pada seragam berwarna hijau tua kecoklatan itu, terlihat susunan kotak kecil warna-warni di dada sebelah kiri, yang menjadi ciri khas pakaian dinas seorang perwira. Jumlah kotak sebanyak 16 buah itu menunjukkan bahwa sosok ini berhasil mengumpulkan  16 buah tanda jasa (prestasi) dari negara selama karirnya di militer. Saat itu, jarang perwira menengah berpangkat Kolonel berhasil memiliki 16 tanda jasa sebanyak ini. Hal yang menyiratkan atas kepiawaian dan pengalamannya yang luas  di masa lalu, baik sebagai pejuang kemerdekaan jaman revolusi maupun ketika kemudian aktif mengikuti berbagai operasi militer di berbagai daerah meredam pemberontakan di Indonesia setelah kemerdekaan. Termasuk penugasan keluar negeri sebagai salah seorang anggota Kontingen Garuda III di Kongo, Afrika.   “ Saya sudah ikut berjuang sejak usia remaja tahun 1945 di wilayah Medan Area, Sumatera Utara,” jelasnya.

Yang menarik, sebuah piagam  tanda jasa Pahlawan Gerilya yang diberikan dan di tanda tangani oleh Presiden Soekarno, tertanggal 10 November 1958 itu, yang terpampang di dinding ruang tamu. Piagam yang sudah agak lusuh tersebut,  bercerita banyak tentang kiprah pejuang kemerdekaan ini.

Semua pejuang angkatan 45 memperoleh piagam ini,” katanya merendah ketika ditanya asal muasal Piagam yang menjadi salah satu dari tujuh tanda jasa, yang menyebabkan seseorang di Indonesia diakui oleh  negara sebagai  PahlawanPerbincangan pun melebar ke hal-hal lebih luas termasuk mengkritisi situasi politik dan ekonomi di tanah air. Ketertarikan dengan permasalahan politik sudah ia mulai ketika tahun 1980, bertugas sebagai  Kepala Staf Kekaryaan Daerah (Kaskarda-A/Aceh) di era ABRI di masa Orde Baru yang dijadikan  instrumen penting dalam menerapkan politik tentara. Dia pernah memproses calon Wakil Gubernur Aceh dan beberapa Bupati dari kalangan perwira tentara di Aceh,  melalui mekanisme yang disebut dengan Dwi Fungsi ABRI. Fungsi sosial ABRI itu begitu  populer saat itu, yang menunjukkan bahwa perwira-perwira  TNI di Jaman ORBA  piawai berpolitik.  Secara nasional, jabatan ini dipimpin oleh Kepala Staf Kekaryaan ABRI di MABES Jakarta dengan pangkat Letnan Jenderal. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  merupakan Kassospol ABRI terakhir sebelum kemudian instrumen ini dibubarkan pemerintah di era Reformasi.


Kelihatannya jaman Orba dulu situasi ekonomi terlihat lebih stabil dibandingkan era reformasi sekarang. Harga-harga tidak semakin mahal seperti saat ini..,” katanya mengomentari berbagai berita TV mengenai kenaikkan harga-harga kebutuhan pokok yang terus terjadi dan semakin membebani masyarakat banyak, terutama pensiunan. Hal yang membuat dia bersama rekan-rekan veteran dan pejuang 45 lain menjadi miris dengan perkembangan bangsa ini di era reformasi. Pandangan khas "orang-orang tua" yang dibesarkan pada jaman orde baru terhadap situasi reformasi yang serba transparan dan apa adanya ini. 


(Keterangan: Piagam Tanda Jasa sebagai Pahlawan Gerilyaini / Kemerdekaan, tertempel di dinding ruang tamu rumah sang Kolonel yang sederhana ini, yang diperolehnya dari Presiden Soekarno pada tahun 1958 / photo by: Rendra Tris Surya)
(Keterangan: Piagam Tanda Jasa sebagai Pahlawan Gerilyaini / Kemerdekaan, tertempel di dinding ruang tamu rumah sang Kolonel yang sederhana ini, yang diperolehnya dari Presiden Soekarno pada tahun 1958 / photo by: Rendra Tris Surya)


Pejuang yang memperoleh Bintang Gerilya ini memiliki nama lengkap Surya Sutrisno. Lahir  05 Oktober 1929 di Yogyakarta, ketika Ayahnya yang asli orang Sumatera Utara itu, sedang melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian UGM. “Saya sejak usia 5 tahun sudah dibawa oleh ibu ke Sumatera mengikuti Ayah yang ketika selesai kuliah, lalu pulang kembali ke kota Medan, " katanya, mengawali cerita. Masa jaman kemerdekaan tahun 1945 pun akhirnya dilaluinya di Sumatera Utara yang dikenal dengan epik perjuangan "Medan Area" tersebut. Keterlibatannya sebagai pejuang di daerah inilah  yang menyebabkan dia memperoleh Bintang Gerilya “Saya pernah terkena pecahan mortir Belanda  di pungung yang hampir saja merenggut nyawa,” katanya bangga, sambil menunjukkan bekas-bekas luka tersebut. “Waktu itu, hanya beberapa orang dari pasukkan kami  yang selamat dari pertempuran besar melawan  tentara Belanda di sekitar Tanjung Brandan, “ tuturnya.

Demikianlah, di dalam setiap epos peperangan itu memang, sering kali kita mendengar prajurit-prajurit yang  berani dan juga yang "beruntung" karena mendapat "hoki". Mereka dengan sebab yang sulit diterima oleh akal sehat, dan sering tidak terduga-duga,  terselamatkan nyawanya dalam suatu episode kemelut pertempuran yang sengit. Perwira sepuh ini tampaknya merupakan salah satu dari  The Soldier of Fortune di antara berbagai kejadian tragis  selama Perang Kemerdekaan yang sebenarnya sangat tidak berimbang dari sisi persenjataan tersebut. Tentara Belanda dengan persenjataan lengkap, justru "kalah" dilawan oleh para pejuang yang kebanyakan adalah anak-anak remaja (gerilyawan) dengan hanya bermodalkan bambu runcing serta semangat juang yang gigih  untuk memerdekakan negara Indonesia ini.

"Tapi saya pernah juga tertangkap dan di penjara oleh Belanda." Semua tahanan tersebut   sudah dipersiapkan untuk dihukum mati, karena dianggap pemberontak/ekstremis yang  berbahaya. Terlihat matanya seperti menahan air mata, ketika menceritakan hal tersebut. "Teman-teman saya sudah lebih dahulu di eksekusi," katanya melanjutkan ceritanya yang keemudian  dengan agak terbata-bata.


Danrem 011/Lilawangsa Aceh dan  GAM

Keberuntungan demi keberuntungan daan kerja keras serta keuletannya, kemudian membawanya menjadi perwira menengah (pamen) senior hingga ditugaskan ke Propinsi Aceh. Berbagai pengalaman traumatis tersebut, justru membuatnya semakin bijak dan menghargai kehidupan manusia. Hal yang kemudian menjadi sikap dan pandangan filosofi humanistisnya (Humanism) yang dianut. Ketika menjabat Danrem 011/Lilawangsa yang di kota Lhokseumawe di bagian utara Propinsi Aceh,  yang juga merupakan kawasan pusat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada waktu itu. Dia merasa tidak yakin, bahwa permasalahan pemberontakan GAM yang waktu itu bisa diselesaikan dengan senjata (kekerasan). "Saya lebih yakin  dengan  pendekatan persuasif. Sebenarnya metode ini bila dengan  serius dikedepankan waktu itu, dapat mengatasi permasalahan GAM  ini dengan tuntas, tanpa banyak korban" katanya menyesali. “Perdebatan sengit” mengenai pendekatan apa yang paling sesuai untuk mengatasi permasalahan pemberontakan GAM waktu itu, dengan atasannya langsung, yaitu Panglima Kodam- I / Iskandar Muda Aceh di era tahun 1978-1980,  justru menyebabkan dia kemudian "kalah" dan "terpental" karena dipindahkan  secara mendadak  ke Jakarta (Mabes AD)  tanpa jabatan apapun.

"Saya perintis pertama  apa yang dikenal oleh masyarakat Aceh waktu itu, Pekan Olah Raga Daerah (PORDA). PORDA saya jadikan sebagai sarana menyatukan semua elemen masyarakat di wilayah Aceh bagian utara, timur, tengah dan tenggara yang menjadi wilayah Korem-011 tugas saya yang sedang konflik. Dalam kebersamaan melalui kegiatan berkompetisi berolahraga dan berkesenian mudah-mudahan hubungan sosial yang menjadi mencair. Saya tahu, sewaktu upacara defile pembukaan PORDA tersebut, ada kontingen dari kecamatan tertentu  yang diikuti  oleh beberapa anggota pemberontak GAM. Tapi saya biarkan saja...!  Ini bagian dari strategi persuasif  saya yang dalam pelajaran teritorial dan politik tentara disebut dengan Pendekatan SISSOS/Sistem Sosial," ujarnya menjelaskan. 

Dengan mengajak mereka melakukan kegiatan bersama, mereka merasa dihargai sebagai manusia, bukan justru ditakut-takui dan dimusuhi. Tahap berikutnya nanti,  akan mudah bagi saya membujuk mereka untuk kembali ke Ibu Pertiwi. "Orang Aceh itu wataknya keras. Tapi kalau kita berhasil mengambil hati mereka, maka mereka mau berbuat apa saja buat kita," ujarnya.

Sebenarnya, penyebab utama terjadinya pemberontakan GAM di Aceh, lebih disebabkan masalah ketidakadilan distribusi ekonomi antara pusat dan daerah. Banyak di antara mereka yang bergabung ke GAM, karena  ikut-ikutan saja, akibat kemiskinan yang dialami di kampung. "Itu sebabnya, saya menerapkan pendekatan ‘Sissos’  dalam mengatasi masalah GAM di Aceh. Inti pendekatan ini mengasumsikan bahwa GAM  yang orang Aceh tersebut, merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Saya memilih membujuk dan menyadarkan mereka daripada menembakinya dengan  sengit," tuturnya lebih lanjut.

Sayang sekali, ultimatum penyelesaian masalah GAM di Aceh ini, oleh Markas TNI di  Jakarta ke kami terlalu cepat. Kami kekurangan waktu untuk  membuktikan, bahwa strategi ini efektif. Sehingga janji kami dengan Panglima ABRI waktu itu, Jenderal M.Yusuf ,  agar  dapat menuntaskan masalah GAM hingga akhir tahun 1979 itu pun, akhirnya tidak terwujud. Jenderal M Yusuf  tampaknya 'marah' dan mengganti semua petinggi militer di Aceh, yang kemudian mengubah strategi menghadapi GAM, dengan pendekatan ‘sistek. Mendatangkan pasukan tempur elite Indonesia seperti Kostrad dan Kopassus. Mereka kemudian aktif mencari lalu menembaki para GAM tersebut  bagaikan  musuh besar negara. Maka sebagaimana yang kita saksikan kemudian, era setelah tahun 1980-an terjadilah berbagai ekses pelanggaran HAM berat, akibat dijadikannya  Aceh sebagai  DOM/Daerah Operasi Militer,” jelasnya dengan nada haru. Mungkin dia teringat beberapa tokoh GAM yang berhasil dibujuknya yang tewas. 

Sepertinya dia dianggap tidak berhasil menangani masalah GAM di Aceh Utara. Lalu “dihukum” dengan dipindahkan ke MABES AD di Jakarta sejak tahun 1981,  tanpa mendapat posisi apapun.   “Kenangan itu menyakitkan..!” katanya. Padahal pada waktu itu, dia sudah memperoleh pangkat Kolonel  senior karena dipundaknya  selama delapan tahun. Suatu hal yang sangat langka terjadi di TNI AD, bahwa seorang perwira senior berpangkat Kolonel "dibiarkan" begitu saja dalam  jangka 8 tahun hingga pensiun.  Seharusnya, jika semua proses dijalankan dengan "fair", mungkin dia sudah menyandang pangkat jenderal  berbintang dua. Terutama, jika dahulu pendekatan dan strategi SISSOS-nya terbukti berhasil  mengatasi permasalahan GAM. Mungkin begitulah....dalam banyak hal karir itu ditentukan juga oleh nasib dan keadaan yang berkembang saat itu. 

“Saya tidak menyesal terhadap semua ini. Karena itulah resiko dalam mempertahankan kebenaran dan prinsip. Apalagi jika harus menentang atasan langsung, yang berbeda pendapat dalam menyelesaian masalah," katanya memberi alasan. Akan tetapi, sebenarnya institusi TNI AD  tidak betul-betul melupakannya. Menjelang  pensiun dengan pangkat Kolonel purnawirawannya tersebut, dia pernah ditawarkan untuk mendapatkan  kenaikkan pangkat kehormatan untuk menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen).  Tapi dia menolak, "Buat apa jadi Brigjen, kalau tidak lama kemudian  pensiun. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi buat institusi!  Tidak usahlah, pangkat-pangkatan begitu sudah tidak perlu lagi bagi seorang purnawirawan seperti saya.  Saya ingin menjadi rakyat biasa saja, dan menikmati masa tua saya dengan tenang.." katanya menjelaskan alasannya menolak.


Menjadi Seniman,  Menikmati Pensiun

Pejuang sepuh ini menikah tahun 1960 dengan wanita asal Melayu Deli bernama  Rosteinnie Dahlia. Kegiatan sehari-hari di masa tuanya dilalui dengan menekuni hobi,  mengurus tanaman dan bunga bersama istri tercinta, serta mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan seni.  “Ini lukisan digital saya yang pertama lho,"katanya menunjukkan karya seninya dengan bangga. "Waktu membuat lukisan ini saya masih belajar komputer,  hadiah dari anak-anak. Saya 'oprek-oprek' sendiri  saja menggunakan software Paintbrush. Lalu, saya buat software ini seperti kanvas untuk melukis. “  Dia menunjukkan lukisan digital yang ternyata cukup bagus dan menarik! Melukis menggunakan perangkat lunak komputer merupakan kegiatan yang unik, apalagi  jika dilakukan oleh seorang perwira tentara yang biasanya dididik keras untuk berperang. Ternyata "seniman" itu bisa saja muncul dari mana-mana,  ya! Dari kalangan tentara banyak juga....

(Keterangan: Lukisan digital ini, dibuatnya dengan menggunakan software sederhana yang terdapat di dalam software sistem oerasi WINDOWS, yaitu PAINTBRUSH. Sungguh, tidak mengira bukan? Bahwa dengan software kategori asesori sederhana ini, bisa menjadi lukisan digitaal unik. Ternyata, seorang perwita tentara, bisa juga membuat lukisan menarik dengan teknologi komputer. / Photo by: Surya Sutrisno)
(Keterangan: Lukisan digital ini, dibuatnya dengan menggunakan software sederhana yang terdapat di dalam software sistem oerasi WINDOWS, yaitu PAINTBRUSH. Sungguh, tidak mengira bukan? Bahwa dengan software kategori asesori sederhana ini, bisa menjadi lukisan digitaal unik. Ternyata, seorang perwita tentara, bisa juga membuat lukisan menarik dengan teknologi komputer. / Photo by: Surya Sutrisno)


Berbagai pengalaman manis dan pahit yang dialaminya sebagai tentara, justru sering menjadi sumber inspirasi dalam karya-karya seninya. Dalam usianya yang  senja dan renta itu, terlihat dia tetap semangat untuk terus berdiskusi  tentang berbagai hal. Dia tidak pernah menyurutkan semangat pula, untuk terus belajar hal-hal baru, seperti melukis dengan komputer, menulis Puisi dan Novel yang kemudian menjadi kesehariannya.

Yang menarik,  sosok perwira pejuang ini  ternyata menyimpan  banyak puisi, yang ditulisnya sejak remaja, hingga di hari tua. Yang merefleksikan tentang  apa saja yang menarik di hatinya. Puisi-puisi ini dijadikan semacam sarana pelepasan energi kegalauan, terutama  di malam-malam istirahat, saat perang gerilya usai, dalam bentuk catatan harian.  Beberapa Puisi tersebut, menceritakan korban peperangan di tengah kemelut dentuman suara senjata. Kontras yang menarik dan unik! Bahwa seseorang bisa menulis dengan bahasa rasa  di tengah kekerasan perang yang sedang terjadi. Mungkin, puisi seperti ini bisa dikategorikan sebagai genre Puisi baru : Puisi Sejarah atau Puisi Epik(Catatan: Mengenai Puisi Sang Pejuang Gerilya ini, akan ditulis  dalam artikel tersendiri)


(Keterangan:" Kumpulan puisi tersebut, kemudian di bukukan/ Photoby: Rendra Tris Surya)
(Keterangan:" Kumpulan puisi tersebut, kemudian di bukukan/ Photoby: Rendra Tris Surya)
[/




Salah satu petikan puisinya yang unik:

"Kukira kicau burung pagi,

Hanya untukku seorang...

Tapi kiranya..

Karena menyongsong

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x