Mohon tunggu...
Rendra Prihandono
Rendra Prihandono Mohon Tunggu...

Mantan guru Sekolah Ciputra Surabaya, Kepala SMP YPPI 2 dan SD YPPI-1 Surabaya, dan kini menjadi litbang Kurikulum & SDM di Peek A Boo & Vision School Sidoarjo. Rendra juga adalah Pembicara Publik, Motivator dan Konsultan Pendidikan.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Mungkinkah Student-centred Approach di Sekolah yang Exam-oriented?

11 Januari 2012   15:13 Diperbarui: 25 Juni 2015   21:01 203 1 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mungkinkah Student-centred Approach di Sekolah yang Exam-oriented?
1326298918772524544

[caption id="attachment_163147" align="aligncenter" width="640" caption="ilustrasi/admin(shutterstock.com)"][/caption]

Adalah sebuah dilema ketika kita menyadari bahwa pendidikan kita sudah memasuki abad 21 di mana kompetensi akademik saja tidak cukup membuat anak didik kita memiliki peluang bertahan hidup. Abad 21 menyediakan berbagai ketidakpastian: pekerjaan yang di masa sekarang belum ada, serta permasalahan-permasalahan yang saat ini belum terpikirkan. Peluang dan ancaman yang tidak jelas ini menuntut lebih dari sekedar anak pintar, namun menuntut anak yang cerdas.

Cerdas berarti sanggup beradaptasi dengan ketidakpastian. Sanggup mencari pemecahan masalah secara kreatif walaupun kemungkinannya sangat kecil. Sanggup memutar dan mencari jalan lain ketika jalan yang dilalui mentok. Dan mampu menguasai diri ketika semua alternatif penyelesaian sudah tak lagi eksis.

Sudah banyak panduan mengenai praktik belajar-mengajar apa yang cocok dalam mempersiapkan anak menghadapi abad 21 ini. Namun harus diakui, masih terlalu banyak pihak-pihak yang keras kepala dan menganggap model yang saat ini berlaku masih sangat relevan menghadapi tantangan jaman.

Saya tak hendak mengajak Anda mendebatkan hal ini. Saya hanya ingin berbagi mengenai bagaimana kita harus bersikap ketika pandangan yang sangat ideal ini berhadapan dengan sistem yang sudah sangat mapan, di mana sekolah berorientasi pada ujian, di mana keberhasilan pendidikan di sekolah diukur dengan pencapaian target nilai oleh peserta didik. Pertanyaannya adalah “Mungkinkah menggunakan pendekatan Student-centred Approach dalam sekolah yang berorientasi pada nilai dan ujian tulis?”.

Mengapa student-centred approach? Student-centred approach, atau pembelajaran berpusat pada siswa adalah model yang saya yakin pas untuk mengembangkan anak agar siap menghadapi abad 21. Dengan menempatkan anak sebagai pusat dari siklus pembelajaran, maka yang penting dalam proses belajar adalah anak itu sendiri, bukan target ketercapaian kurikulum atau kelulusan sekolah sebagai hasil akhir.

Masalahnya, dengan berorientasi pada exam atau ujian tulis, apakah mungkin anak kemudian menjadi pusat dari kegiatan belajar-mengajar? Idealnya tidak, itu sudah jelas. Mengejar target kurikulum tidak akan mempedulikan posisi anak. Walaupun para pelaku sistem ini selalu berkilah bahwa kepentingan anak diasumsikan sudah terpetakan di dalam setting kurikulum, sehingga ketercapaian target kurikulum diasumsikan sama dengan keberhasilan terukur pendidikan seorang anak di sekolah. Namun saya yakin bahwa pencapaian itu sifatnya parsial. Nilai ujian tulis memang bertindak sebagai indikator pencapaian belajar anak. Namun tidak bisa dijadikan acuan keberhasilan proses belajar anak. Dengan perbedaan konseptual seperti ini mungkinkah keduanya dikerangkakan bersama?

Jawabannya, mungkin, walaupun tidak ideal.

Saya ingin berbagi sedikit hal yang baru saja menjadi bahan diskusi gayeng saya dengan mantan staf ahli Ministry of Education Singapura, Mr. Koh Boon Long dalam kunjungannya ke sekolah saya baru-baru ini. Mr. Koh menekankan hal-hal berikut yang bisa Anda lakukan di sekolah masing-masing:

1. Inti dari student-centred approach yang bisa dipraktikkan di kelas adalah membangun kebiasaan bertanya. Bertanya akan memicu anak untuk berpikir aktif.

2. Mau bertanya tidak bisa dibangun dengan “menyuruh anak didik untuk bertanya”. Tapi dengan guru memancing anak-anaknya untuk bertanya. Mulailah pelajaran dengan apersepsi yang aktif dan provokatif bagi anak sehingga keingintahuannya timbul, dan mau bertanya.

3. Guru harus menjaga agar atmosfir kelas ramah bagi anak-anak agar berani bertanya. Banyak strategi yang bisa dipakai. Misalnya dengan memulai pelajaran menggunakan teknik curah pendapat (brainstorming), Think-Pair-Share, dan lain-lain.

4. Kurangi dominasi guru aktif berbicara. Kendalikan diri Anda agar tidak menguasai jalannya pembicaraan di kelas. Berpanjang lebarlah ketika menyampaikan instruksi, namun berikan ruang seluas-luasnya kepada siswa agar mau mengekspresikan opini.

5. Buku teks masih dipakai sebagai rujukan, namun jangan langsung terjun ke buku teks untuk mencari jawaban benar. Merujukkan hasil curah pendapat (brainstorming) para siswa dengan referensi buku teks akan lebih bermakna bagi siswa Anda.

6. Bersiaplah dengan kemungkinan waktu pembahasan sedikit lebih panjang dibandingkan dengan Anda langsung terjun menjelaskan materi. Hindari sedapat mungkin menjadikan diri Anda sebagai sumber informasi satu-satunya.

7. Bila Anda menugaskan proyek, pastikan ekspektasi Anda dipahami anak-anak, dan mereka melakukan aktifitasnya merujuk pada panduan Anda. Termasuk di dalamnya tenggat waktu pengerjaaan proyek dan bagaimana proyek itu akan dinilai. Jelaskan semua itu di awal Anda memberikan proyek. Ingat, pembelajaran berbasis proyek bukan sekedar bermain dan beraktifitas!

Demikian poin-poin hasil diskusi saya dengan Mr. Koh Boon Long mengenai peluang melakukan student-centered approach di lingkungan sekolah berorientasi ujian tulis. Semoga bisa menginspirasi. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x