Mohon tunggu...
Rendra Prihandono
Rendra Prihandono Mohon Tunggu...

Mantan guru Sekolah Ciputra Surabaya, Kepala SMP YPPI 2 dan SD YPPI-1 Surabaya, dan kini menjadi litbang Kurikulum & SDM di Peek A Boo & Vision School Sidoarjo. Rendra juga adalah Pembicara Publik, Motivator dan Konsultan Pendidikan.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Cara Mendesain Student-centred Approach di Sekolah yang Exam-oriented

12 Januari 2012   17:17 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:58 261 0 0 Mohon Tunggu...

Tulisan ini menyambung tulisan saya sebelumnya,”Mungkinkah Student-centred Approach di Sekolah yang Exam-Oriented?”. Di sana saya menyatakan, mungkin saja melakukan student-centred approach di sekolah berorientasi ujian tulis dan nilai, meskipun pasti tidak maksimal. Nah, terus caranya bagaimana?

Berikut, saya akan coba berbagi pengalaman yang mungkin bisa Anda pakai di kelas. Tentunya dengan penyesuaian sesuai kondisi kelas Anda.

1.Sedapat mungkin desain aktivitas belajar Anda dengan memperhatikan gaya belajar anak yang berbeda-beda. Memperhatikan gaya belajar anak bukan berarti Anda mendesain satu rencana dengan berbagai alternatif dalam satu pertemuan. Kalau bisa sih bagus, luar biasa. Saya saja belum bisa seideal itu. Paling tidak, buat variasi dalam setiap kali pertemuan kelas. Jangan melulu ceramah, atau melulu bermain games, atau melulu membaca. Jangan monoton, anak akan bosan. Dan juga, akan kabur sebenarnya tujuan pembelajaran Anda itu apa. Variasi di setiap pertemuan berbeda akan membuat anak dengan gaya belajar tertentu merasa nyaman saat itu, dan berusaha untuk tetap merasa nyaman di pertemuan berikutnya.

2.Atur agar atmosfir kelas membuat anak nyaman mengungkapkan pendapat atau (yang lebih penting) bertanya. Anak berani mengungkapkan pendapat dan bertanya adalah indikator utama telah berjalannya Student-centred Approach di sekolah Anda. Berani bertanya akan menggiring arah pembelajaran menjadi dinamis, dan menggali banyak hal (yang, percaya atau tidak, akan mengarah pada content kurikulum). Sedangkan berani mengungkapkan pendapat akan membangun suasana dialogis yang sehat, yang kelak memunculkan ide-ide baru guna mendukung pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dibangun sebelumnya.

3.Lakukan pembelajaran kolaboratif (Collabortive Learning). Belajar bersama secara kolaboratif akan memunculkan nilai-nilai kerjasama serta membuka peluang munculnya ide-ide baru yang luas, karena dihasilkan oleh banyak kepala.Suasana pembelajaran menjadi dialogis dua arah dan tidak didominasi guru saja. Dominasi dialog yang didominasi guru adalah ciri dari teacher-centred learning, dimana guru memegang kendali arus informasi secara total.

4.Desain pembelajaran harus memperhatikan Taksonomi Bloom. Menempatkan siswa di pusat pembelajaran berarti kita harus membangun daya kritis dan kreatifitas siswa sebagai pembelajar. Disinilah peran Taksonomi Bloom. Level berpikir yang diuraikan Taksonomi Bloom akan mengeksplorasi pola pikir anak didik kita agar tidak sekedar menghafal informasi. Tapi yang lebih penting adalah mengolah informasi dan mempergunakannya lebih jauh untuk menghasilkan buah pemikiran baru.

5.Batasi peran guru sebagai sumber informasi tunggal. Menempatkan siswa di pusat pembelajaran berarti kita bukan lagi sumber informasi tunggal yang harus dirujuk oleh mereka. Kita lebih berperan sebagai stage manager, orang yang mendesain agar anak lebih berperan aktif. Berperan aktif dalam belajar berarti sungguh-sungguh menggunakan alat belajar, misalnya membaca, bertanya, berdiskusi, membuat kesimpulan, berbagi informasi dan lain sebagainya. Guru berusaha membuka jalan bagi siswa untuk mendapatkan sumber informasi baru sehingga siswa memiliki banyak alternatif untuk mempelajari hal-hal baru. Jadi, guru berperan mendesain wadah di mana siswa yang nantinya secara langsung melakukan pembelajaran itu sendiri.

6.Penekanan assessment selama proses belajar adalah Assessment FOR Learning dan bukan Assessment OF Learning. Penilaian formatif lebih dikedepankan daripada penilaian sumatif. Ujian tulis adalah penilaian sumatif yang dilakukan di akhir proses belajar, dan itu menjadi tujuan bagi sekolah yang berorientasi ujian tulis (exam-oriented). Namun toh, selama anak belajar, guru harus menekankan pemberian masukan yang bermakna agar siswa tahu dan sadar benar dimana posisinya dalam proses. Masukan yang bermakna akan membangun pemhaman yang nantinya akan diuji secara tertulis di akhir semester. Masukan bermakna inilah yang media dan tujuannya harus untuk membangun pemahaman belajar bukan menguji seberapa banyak informasi yang dimiliki siswa. Hal yang terakhir ini akan dilakukan nanti di ujian tulis di akhir pembelajaran.

7.Terakhir, sekali lagi harus diingat, PROSES menentukan HASIL. Walaupun toh nantinya anak harus menjalani ujian atau ulangan sebagai penguji akhir, namun yang menentukan bagaimana performa anak itu kelak adalah proses belajarnya saat ini. Guru tak akan bisa mengeksplorasi soal-soal ujiannya, bila dalam proses anak juga tidak bisa mengeksplorasi banyak hal untuk dipelajari. Minimnya eksplorasi selama proses berujung pada soal-soal ujian yang berkutat pada menguji hafalan informasi, bukannya mendorong anak mengekspresikan apa yang ia tahu secara panjang lebar. Kedalaman pemahaman anak tidak akan benar-benar diuji secara tertulis bila dalam proses belajar ia juga tidak mengeksplorasi apa-apa.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x