Mohon tunggu...
Reis Rivaldo R
Reis Rivaldo R Mohon Tunggu... MIND SHAPES YOU AND WORDS REPRESENT YOU

Mhs. Hubungan Internasional ak. 2017. Membuka diri untuk menerima kritik, masukan, dan arahan dari teman-teman pegiat literasi, akademisi, aktivis, kaum rebahan, personil militer aktif, seniman, influencer, dan pemangku kebijakan. Berniat untuk berbagi ilmu dan bertukar pikiran ? saya bisa dihubungi di 085705095046

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tanggapan Utsman bin Affan terhadap Oposisinya

1 November 2019   09:28 Diperbarui: 1 November 2019   09:31 53 0 0 Mohon Tunggu...

Utsman bin Affan mengalami perlawanan yang keras terhadap dirinya. Pangkal utama dari pergerakan melawan Utsman adalah kabar palsu atau HOAX yang semakin bertebaran luas. Surat tersebut berisi bahwa khalifah menginstruksikan kepada setiap gubernur di Provinsi untuk mengeksekusi pemberontak ditambah lagi terdapat surat palsu yang mengatasnamakan Thalhah, Zubair, dan isteri Nabi untuk memulai pemberontakan. Sejatinya tidak ada satupun dari surat yang tersebar itu bernilai benar. Sayangnya, kebanyakan masyarakat sudah banyak termakan kabar palsu sehingga pemberontakan sulit dikendalikan.

Oposisi Utsman yang paling kuat berlawanan dengannya ialah Abdullah bin Mas'ud, dia menentang beberapa kebijakan yang diterbitkan oleh Khalifah Utsman. Pertentangannya pertama kali pada kasus tenggat waktu bagi Gubernur baru bernama Walid mengembalikan uang pinjaman dari baitul mal. Khalifah Utsman dan Mas'ud berbeda pendapat terkait waktu tenggat pengembaliannya. Mas'ud mengajukan agar tidak ada perpanjangan waktu lagi karena yang dipakai oleh Gubernur tersebut adalah uang ummat. Namun, Utsman menanggapi bahwa Walid boleh diberikan perpanjangan waktu lagi agar bisa mengembalikan apa yang telah dia pinjam. Dari perkara ini, Mas'ud mengalah tapi tetap teguh pada argumennya yaitu khalifah Utsman telah melindungi pengutang negara, melindungi pengutang yang mempunyai hubungan dengannya.

Pada kasus lain, Utsman dan Mas'ud kembali berbeda pandangan dalam menyikapi pembakaran mushaf Al-Quran. Saat itu khalifah Utsman dalam rangka memusnahkan banyaknya Al-Quran yang tidak akurat maka beliau memerintahkan agar membakar Al-Quran kecuali mushaf yang telah ditetapkan dan yang telah disortir oleh Utsman. Tentu Mas'ud memandang kebijakan ini sebagai langkah yang tidak baik. Mas'ud berargumen bahawa Utsman telah melakukan bid'ah (hal yang tidak dilakukan di zaman Rasulullah). Utsman menyita dan membakar mushaf ditangan Mas'ud karena Mas'ud tidak bersifat kooperatif ketika Khalifah meminta agar mushaf yang ada ditangannya dikumpulkan. Utsman lebih mementingkan urusan ummat yang lebih besar, beliau dengan berat hati bertentangan dengan sahabatnya dengan membakar mushaf yang ada di Mas'ud.

Beberapa kebijakan Utsman yang senantiasa mendapat respon dari oposisi menyebabkan diri Mas'ud sendiri ditahan bayarannya. Khalifah Utsman memberikan penangguhan izin Mas'ud untuk menunggalkan Madinah guna memudahkan khalifah untuk memonitoring dirinya. Akhir hayat Mas'ud, jenazahnya diimami langsung oleh Khalifah. Padahal, ketika Mas'ud masih hidup, dia sempat menyatakan bahwa dirinya enggan diimami oleh Khalifah ketika sudah menjadi jenazah. Tapi itulah jati diri seorang Khalifah, tidak akan membalas dendam kepada orang-orang yang beroposisi dengannya. Utsman tidak pernah menjatuhkan satu sanksi apapun, mencelakakan, dan memojokkan posisi Mas'ud.  Anak-anak Mas'ud juga mendapat perhatian lebih dari Khalifah sebagai balasan dari pengabdian yang telah dilakukan oleh ayah mereka kepada Khalifah.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x