Mohon tunggu...
REDEMPTUS UKAT
REDEMPTUS UKAT Mohon Tunggu... Relawan Literasi

Lakukanlah segala pekerjaanmu di dalam kasih (1kor. 16:14)

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Bahasa Ibu sebagai Media Sosialisasi dan Edukasi Covid-19

22 Februari 2021   09:43 Diperbarui: 22 Februari 2021   09:50 104 3 1 Mohon Tunggu...

      Pada tahun 2020 lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan data tentang angka buta aksara di Indonesia. Dalam data itu Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam kategori propinsi dengan tingkat buta aksara tertinggi ketiga di Indonesia. 

Tercatat persentasi buta aksara NTT mencapai angka 4,24 persen di mana angka ini lebih tinggi dari angka buta aksara nasional yang berada di angka 1,78 persen. Data ini tentu membuka mata kita untuk sadar bahwa masih banyak masyarakat NTT yang tidak bisa membaca dan menulis karena tidak pernah mengeyam bangku pendidikan sama sekali.

Di masa pandemi seperti sekarang ini kenyataan tingginya angka buta aksara di NTT ternyata sangat berpengaruh pada pencegahan dan penanganan Covid-19. Pola pendekatan dan strategi pemerintah daerah yang kurang tepat bisa berdampak pada semakin meningkatnya angka penderita penyakit yang berasal dari Wuhan ini. 

Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah strategi pemerintah daerah sudah tepat? Sayangnya belum. Kita bisa lihat sendiri beberapa bulan terakhir ini angka penderita kasus covid -- 19 meningkat sangat drastis dengan munculnya kluster -- kluster baru.

Pemerintah daerah selama ini memang sudah berupaya menyosialisasi dan mengedukasi masyarakat tentang bahaya covid -- 19 dan juga protokol kesehatan yang mesti dilaksanakan. Namun sosialisasi dan edukasi ini hanya sebatas himbauan kepada masyarakat secara acak baik secara langsung pada saat razia di pos -- pos jaga maupun secara tertulis melalui berbagai platform media yang ada. 

Sosialisasi dan edukasi seperti ini sangat tidak efektif karena hanya menjangkau segelintir orang dan banyak di antaranya adalah masyarakat kelas menengah ke atas yang sudah sadar pendidikan atau bisa membaca dan menulis. 

Itu pun masih saja ada yang apatis dan masa bodoh dengan protokol kesehatan. Bagaimana dengan masyarakat kelas bawah yang tidak bisa membaca dan menulis? Mereka kesulitan mendapatkan akses informasi yang benar tentang penyakit ini dan apalagi protokol kesehatannya. Selama ini mereka cenderung mendapatkan informasi dari mulut ke mulut yang kebenarannya sangat diragukan. 

Akibatnya kita bisa lihat pasar -- pasar tradisional masih ramai dengan penjual dan pembeli yang umumnya tanpa masker dan tanpa jaga jarak, pesta -- pesta masih tetap ada dan ramai, aktivitas masyarakat berjalan normal seperti tidak ada apa -- apa yang terjadi kecuali anak -- anak sekolah, ASN, TNI dan Polri.

Atas dasar itu saya menyarankan kepada pemerintah daerah untuk mengadakan sosialisasi dan edukasi secara sistematis dan masif kepada seluruh masyarakat dengan cara turun secara langsung ke masyarakat di lokasi mereka masing -- masing mulai dari rumah, kebun, pasar, dan mana saja mereka berada dengan melibatkan semua RT, RW, kepala -- kepala dusun, pendamping PKH, Pendamping TKSK, Tagana, TNI, Polri dan ASN. Apa pentingnya sosialisasi dan edukasi ini? 

Pertama, memberi kepastian kepada masyarakat bahwa covid-19 benar -- benar ada dan mengancam kehidupan kita. Kedua, memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya memakai masker dan mencuci tangan serta mengajari mereka memakai masker dan mencuci tangan menggunakan sabun yang benar secara langsung. Ketiga, memberikan informasi tentang siapa -- siapa saja yang rentan terhadap covid-19 dan siapa saja yang bisa menjadi penyebar virus kepada orang -- orang yang rentan itu.

Satu hal yang penting dalam sosialisasi dan edukasi ini adalah penggunaan bahasa ibu atau bahasa daerah sebagai media sosialisasi dan edukasi. Karena sasaran kita adalah seluruh masyarakat khususnya yang buta aksara maka penggunaan bahasa ibu menjadi sebuah keharusan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x