Rappi Darmawan
Rappi Darmawan Wiraswasta

punya seabrek cita-cita, belum taat beribadah, ingin memperbaiki diri

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Coba Review Medsosmu"

19 Maret 2019   17:16 Diperbarui: 19 Maret 2019   18:04 29 7 4
"Coba Review Medsosmu"
Foto : Dok Kompal

Coba review akun mu di media sosial! 

Itulah kalimat yang ada dibenak saya ketika mengikuti diskusi yang digelar Universitas IBA dan Kompal di Aula Lantai 2, Kampus Universitas IBA, Sabtu (16/3) lalu. Peserta diskusi terdiri dari pengguna media sosial (medsos), mahasiswa dan masyarakat umum. Sementara, sebagai pemantik ada Deddy Huang, Nindy, dr Posma Siahaan dan Dues K Arbain. 

Diskusi berjalan santai namun berisi. Masing-masing berbicara sesuai dengan latarbelakang profesi dan cara mereka bermedia sosial. Sesuai topik ya "Positif Bermedia Sosial". 

Menjadi orang yang positif thingking tentunya tidak mudah ya. Terutama bagi saya. Yang kadang sangat hetrogen. he he he he

Banyak point penting yang bisa dipetik dari empat pembicara yang diundang panitia dalam diskusi ini. Deddy Huang mengatakan bahwa "Your media is your footprint". Dia menjelaskan, bahwa apa yang kita posting, share dan komentar kita akan tersimpan dan menjadi catatan massa lalu. 

Dimana suatu saat nanti akan dilihat dan dibaca orang. 

Terbayangkan kalau kita posting atau share yang jelek-jelek. Lantas dibaca oleh anak cucu. he he he he

Deddy Huang bilang sebelum posting atau komentar hendaknya berpikir lagi dan lagi. Coba tanya pada hati nurani apakah postingan tesebut bermanfaat untuk kita dan orang lain? Apakah foto atau berita tersebut layak dibagi-bagi? Apakah pengaruh dari posting tersebut terhadap orang banyak dan diri kita? 

Betul. Kalau sesuatu itu bisa mendatangkan kemarahan, kecekewaan dan kebencian pada orang lain mending tidak diposting. Atau komentar kita hanya menambah luka orang lain sebaiknya tidak perlu. Kasihan orang yang sudah terluka dan dilukai lagi. 

Materi yang disampaikan Deddy Huang ini mengena sekali buat yang suka posting dan share sembarangan. Dulu saya pernah menampilkan foto yang isinya larangan membuang sampah disuatu tempat. Tapi dalam foto tersebut ada tulisan kata-kata yang dalam budaya timur tidak pantas. Besoknya langsung ditegur sama senior. 

Katanya, kalau kita menampilkan foto yang ada tulisan kata-kata tidak pantas, sama saja dengan ikut mengumpat, seperti orang yang menulis. Padahal, saya bermaksud ikut mengajak orang lain untuk tidak membuang sampah sembarangan ditempat tersebut. 

Paham ya. Sebaiknya, dalam bermedia sosial itu seperti yang dikatakan dr Posma Siahaan. Pria yang berprofesi sebagai dokter di rumah sakit swasta di Palembang ini memanfaatkan media sosial sharing ide, pengetahuan dan pengalaman. Pastinya bisa dilihat medsosnya dok posma (panggilan akrab kami) @posma_md. 

Pun begitu dengan Nindy (@hello.bondy) dan Dues K Arbain (@dues_68). Mang du-begitu kami biasa menyapa Dues K Arbain-memanfaatkan media sosial sebagai salah satu tools untuk tahu rekam jejak seseorang. Konon katanya, medsos sudah lazim digunakan sebagai alat untuk mengetahui latarbelakang ataupun karakter seseorang. 

Seram ya. Tapi boleh-boleh saja toh hanya sebagai salah satu refrensi, bukan mutlak. Saya saja tidak terlalu tertarik dengan orang-orang yang suka men-share ujaran kebencian, kekerasan seksual dan semisalnya. Apalagi kalau yang diposting atau share tersebut tidak jelas asal usulnya. Tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. 

Kembali kepada pesan Deddy Huang tadi, kalau tidak ada menfaatnya untuk apa dishare. Apalagi kalau hanya menambah keruh suasana. Alih-alih persoalan yang terjadi redam justru bisa memicu persoalan baru. Inilah yang disebut dengan "Positif Bermedia Sosial". Tidak posting dengan bumbu kebencian, tidak komentar dibawah kendali hawa nafsu dan tidak berbagi sesuatu yang kotor. 

dok. Kompal
dok. Kompal