Rappi Darmawan
Rappi Darmawan karyawan swasta

punya seabrek cita-cita, belum taat beribadah, ingin memperbaiki diri

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Jangan Alergi, Jadikan WhatsApp Group Lebih Bermanfaat

12 Juli 2018   13:40 Diperbarui: 12 Juli 2018   13:54 601 6 2
Jangan Alergi, Jadikan WhatsApp Group Lebih Bermanfaat
screenshot pribadi

Aksi Penggalangan Dana

Satu bulan ini, kami yang tergabung dalam WhatsApp Group (WAG) Persaudaraan Lontar, TsL dan KmJ menggalang pengumpulan dana untuk pengobatan Ige Gumai, penderita kanker usus kronis. Pemuda asal Desa Lontar, Kecamatan Muara Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) ini harus menjalani pengobatan rutin untuk membunuh sel kanker yang menggerogoti tubuhnya.

Aksi ini bermula dari diskusi di WAG. Ketika itu salah satu anggota WAG menshare foto Ige Gumai yang dalam kondisi sakit. Tubuhnya kurus, tulang rusuknya terlihat jelas, matanya cekung dan sudah mengalami kesulitan berbicara. Ige sudah menjalani operasi di rumah sakit, namun harus menjalani kemoterapi di RSMH Palembang. 

Ucapan duka cita pun berseliweran di group. Hingga akhirnya ada yang tercetus untuk pengumpulan dana guna membantu biaya pengobatan Ige Gumai. Diskusi pun mengerucut hingga akhirnya ada salah satu anggota group, Abdul Halim, bersedia menjadi penanggung jawab. Sekaligus rekening pribadinya dijadikan tempat penampungan sumbangan. 

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Dalam sepekan sejak penggalangan dana dibuka, hasilnya lumayan bagus. Penggalangan dana sendiri direncanakan tutup pada 10 Juli 2018. Sementara itu, Ige Gumai, masih menjalani perawatan di RSMH Palembang. Namun, takdir berkata lain, Minggu 8 Juli 2018, sekitar pukul 19:00 Ige menghembuskan nafas terakhir. Inalillahi Wainalillahi Rojiun. 

Sumbangan yang terkumpul berjumlah Rp 7.725.000 tersebut, telah diserahkan kepada ahli keluarga Ige Gumai, di Desa Lontar oleh Abdul Halim didampingi sejumlah anggota group dan disaksikan perangkat desa. Semoga almarhum Ige Gumai, diampuni dosanya dan keluarga yang ditinggal diberi kesabaran. Aaminn

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Jadikan WAG Lebih Bermanfaat

Pengguna sosial media seperti WhatsApp, Telegram, Facebook dan sejenisnya pasti tidak asing lagi dengan group diskusi. Ya, selain bisa berkomunikasi secara personal, aplikasi tersebut telah memudahkan orang-oranng yang mempunyai kesamaan untuk membentuk group. Dimana komunikasi tidak lagi antar individu, tapi beralih menjadi diskusi. 

Lazimnya sebuah organisasi, group terbentuk karena ada kesamaan dari anggota group itu sendiri. Kesamaan hobbi, asal daerah, kepercayaan, alumni, profesi, selera musik, atau makanan kesukaan. Saya mempunyai dua WAG yang terbentuk karena hobbi. Pertama saya suka main bulutangkis. Sebagai wadah komunikasi, bersama teman-teman membentuk WAG PB Sumeks. Kedua saya juga suka menulis dan mempunyai blog di www.kompasiana.com. Lantaran itu saya juga tergabung dalam WAG Kompal. Yaitu kumpulan blogger asal Palembang yang suka menulis di kompasiana.com. 

Selain itu, ada juga WAG yang terbentuk karena kesamaan asal daerah. Namanya, WAG Persaudaraan Lontar, TsL, KmJ. Group ini terdiri dari warga asal Desa Lontar, Tangsi Lontar dan Kemalajaya yang tinggal diperantauan. Ketiga desa tersebut masuk dalam Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan. 

Selanjutnya, WAG yang terbentuk karena kesamaan kepercayaan atau agama. Disini yang menjadi topik utama pembicaraan info kajian. Saling mengingatkan, saling menyemangati dan saling mendoakan. Misalnya jika ada perubahan jadwal kajian atau ada kajian tematik yang tidak terjadwal. Anggota group yang mendapat informasi lebih dulu akan berbagi informasi sehingga anggota group yang lain dapat hadir dan mengambil hikmah dari tausyiah yang disampaikan ustad. 

Beda latar belakang tentu beda pula isi dari group. Tetapi bukan berarti pembicaraan dibatasi dalam satu topik. Sah-sah saja jika bercerita tentang bulutangkis di WAG lain. Begitu pula sebaliknya, tidak dilarang membahas pemilihan presiden yang sekarang sedang jadi topik utama obrolan mulai ditingkat masyarakat awam hingga elit politik. 

Berapa jumlah WAG, Facebook Group, Line Group dan semisalnya tak begitu penting. Menurut saya, mungkin bagi yang masih enggan bergabung dalam sebuah group diskusi, jangan alergi. Masuk lalu keluar group atau tidak menggubris undangan untuk bergabung dalam sebuah group. Namun, kembali kepada pribadi masing-masing. Setiap orang mempunyai hak untuk berserikat dan berkumpul serta mengungkapkan pendapatnya. 

Mari jadikan WAG ataupun group diaplikasi apa pun lebih bermanfaat. Jangan justru menjadi sumber permusuhan, tempat penyebaran infomasi hoax atau fitnah. WAG dan sejenisnya  merupakan wadah dan sangat tergantung dengan siapa saja yang ada didalamnya.* 

#SalamKompal