Mohon tunggu...
Ramyi Prayogani
Ramyi Prayogani Mohon Tunggu... Penggiat Sosial dan Penulis Bebas

Berfikir, Mencari, Menulis Solusi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Meredam Radikalisme Sejak Dini

20 Mei 2018   21:59 Diperbarui: 21 Mei 2018   22:29 748 0 0 Mohon Tunggu...

Beberapa hari lalu saya dikejutkan berita bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga, diposting oleh salah satu member grup WA yang saya ikuti. Bagaimana tidak terkejut, pada foto keluarga tersebut ada wajah yang saya pernah kenal sangat akrab, ya Dita Oepriarto. Saat itu langsung timbul rasa sedih, kecewa dan penasaran , kok bisa - bisanya teman saya melakukan hal keji diluar nalar. Bagaimana mungkin pribadi yang saya kenal santun, ramah dan dan baik hati itu tega melakukan perbuatan itu. 

Walaupun berbeda angkatan ( saya angkatan 92 , sementara Dita 91)  tetapi kami sering bersama baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam mengikuti kajian agama ,dimasa kami bersekolah di SMA negeri 5 Surabaya dulu. Tentu saja kajian tersebut tidak dilakukan oleh institusi resmi sekolah tetapi dilakukan oleh pihak luar yang bekerjasama dengan beberapa aktivis secara diam - diam. Memang dimasa itu ada isi pengajian yang kami ikuti mengajarkan hal - hal radikal yang menjurus ketidak percayaan pada Pancasila dan NKRI, dan sempat dimasa itu kami terpengaruh pada paham itu, apalagi ustadz  yang mengajarkan ajaran Islam radikal mempunyai kharisma yang kuat, didukung kemampuan retorika seperti seorang provokator. 

Tetapi dengan seiringnya waktu, kegiatan  dan usia yang matang, saya meyakini bahwa radikalisme itu akan luntur seperti yang saya alami sendiri dan banyak teman yang lain juga. Tetapi  hal itu tidak terjadi pada teman saya Dita . Bisa jadi Dita mengikuti kelompok kajian yang lebih keras dalam menjalankan radikalisme selepas dari SMA 5 sehingga berbeda dengan teman yang lain. Bahkan menurut saya pertumbuhan radikalisme pada dirinya sungguh diluar nalar. Bagaimana seorang ayah tega mengajak serta istri dan keempat buah hatinya melakukan serangan bom bunuh diri yang kemaren terjadi di Surabaya. 

Serangan yang dilakukan oleh sebuah kelompok radikal memanfaatkan beberapa keluarga yang didalamnya ada beberapa remaja laki laki dan  gadis kecil yang mengakibatkan korban sipil  yang banyak.  Mungkin inilah bentuk serangan paling keji terhadap kemanusiaan yang belum pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia. Tentu saja juga mencoreng wajah Islam , karena pelaku dan keluarganya menggunakan simbol - simbol Islam dalam kehidupan sehari - harinya.

Menyadari hal itu semestinya semua yang peduli dengan kemanusiaan menghentikan polemik bahwa ini adalah rekayasa menyudutkan Islam, atau hal lain yang tidak berhubungan dengan masalah itu. Pada beberapa waktu lalu teman saya mas Faiz Zainuddin menuliskan artikel yang bagus dan langsung viral dengan judul "Dari Islam Muram dan Seram menjadi Islam Cinta dan Ramah" , terlepas pro kontra terhadap artikel itu, tetapi semestinya tema utama untuk solusi meredam radikalisme yang ditawarkan beliau serta warning  terhadap radikalisme dan absolutismelah  yang terpenting untuk mendapat perhatian lebih. 

Karena kalau kita tidak peduli dalam masalah ini dan menyerahkan semua urusan ini pada pihak kepolisian , maka dimasa mendatang akan muncul Dita - Dita baru yang akan melakukan bom bunuh diri dengan istri dan anak gadisnya. Dan mungkin dengan cara yang lebih canggih serta lebih merusak. Yang lebih ditakutkan lagi adalah kemungkinan terpaparnya anak - anak atau saudara kita  oleh radikalisme agama seperti Dita dan keluarganya.

Ada beberapa hal berdasarkan pengalaman saya, tentang bagaimana bisa terlepas dari paparan ideologi radikal semasa sekolah dulu, dan opini saya tentang solusi  yang mungkin bisa digunakan oleh siapapun khususnya orang tua dan  guru untuk mendidik anak atau siswanya Agar terhindar dari pengaruh radikalisme agama, berikut hal - hal yang perlu dilakukan :

  • Penanaman dogma agama Islam dimasa kecil hingga masa sekolah menengah pertama dengan dogma bahwa Allah sang maha pencipta adalah Maha Pengasih dan Penyayang, bahwa nabi Muhammad adalah suri tauladan kehidupan yang utama, bahwa Islam  adalah agama yang menghargai perbedaan, Islam agama cinta damai, islam agama yang harus disampaikan dengan lemah lembut, Islam mengedepankan pemaafan dan musyawarah. Dan lain sebagainya yang merujuk pada Islam rahmatan lil 'alamiin. Pada intinya dogma yang ditanamkan adalah berisi  ayat AlQuran dan akhlaq nabi Muhammad yang sangat bertentangan dengan paham radikalisme. Bagaimana cara untuk  menanamkan dogma agama yang efektif yaitu dengan menunjukkan buku cerita serta tontonan film mengenai kehidupan nabi Muhammad  serta sahabat beliau. Banyak buku - buku yang berisi dogma yang saya sebutkan diatas terutama dalam bentuk cerita sejarah nabi Muhammad dijual ditoko -- toko buku . Penanaman dogma harus dimulai dilingkungan keluarga , tentu dalam hal ini peran orang tua yang memilihkan buku bacaan anaknya sangat penting. Dari peran orang tualah yang diharapkan  menentukan seseorang bisa terhindar dari radikalisme. Dalam skala nasional untuk tujuan meredam radikalisme ,  pemerintah seharusnya mengambil peran utama dalam  menanamkan dogma Islam yang rahmatan lil 'Alamiin kedalam kurikulum pendidikan nasional. Diharapkan dengan tertanamnya dogma dasar yang saya sebutkan diatas paling tidak anak - anak kita dalam peribadatan dan tingkah laku mencerminkan perbuatan nabi yang jauh dari pemahaman radikalisme hingga nanti dewasa.
  • Ketika menjelang remaja , pada saat inilah mulai diajarkan berfikir kritis. Befikir kritis bukan berarti kita mengajarkan untuk anak suka mendebat atau suka menentang tetapi lebih kepada meragukan segala pendapat dan ide yang berbeda dengan dogma Islam yang sudah diajarkan sejak kecil yang saya sebutkan pada poin kesatu diatas. Mayoritas pemeluk agama Islam diindonesia mempunyai kebiasaan untuk menghormati seseorang yang telah dipanggil ustadz, kyai, atau ulama , yang kadangkala penghormatan itu melebihi dari seharusnya. Bahkan hingga sampai apa yang dikatakan mereka tidak pernah salah.  Hal inilah yang mungkin dialami oleh pelaku bom Surabaya Dita Oepriarto, ketika difatwa untuk menjalankan bom bunuh diri oleh ustadz spiritualnya. Menurut ajaran Islam , semestinya perbuatan dan perkataan yang tidak pernah salah adalah perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad dan Nabi Muhammad adalah uswatun Hasanah.  Selain Nabi , itu hanya penafsiran dari orang biasa yang terbatas dan tidak bebas dari kesalahan. Seandainya saja pelaku bom Surabaya sedikit kritis bahwa tidak ada contoh dari nabi Muhammad untuk melakukan bom bunuh diri apalagi dengan mengajak anak dan istrinya bersama - sama tentu dia akan ragu melakukan perbuatan yang difatwakan oleh pimpinan atau ustadz spiritualnya. Apalagi ancaman untuk perbuatan bunuh diri dan membunuh orang lain sangat keras didalam ajaran Islam. Cara mudah mengajarkan berfikir kritis pada anak adalah mengajak ikut menghadiri kajian - kajian Islam dari berbagai forum pengajian yang berbeda. Dan mengajak dialog apabila ada perbedaan. Selain itu dalam skala nasional semestinya  peran pemerintah untuk memasukkan kurikulum metode berfikir kritis pada dunia pendidikan di Indonesia sangat diharapkan. Khususnya pada sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.
  • Kebanyakan pelaku teroris memiliki pergaulan yang tertutup dan sangat berbeda dengan masyarakat sekitarnya. Khususnya dalam kebiasaan peribadatan dan pendidikan pada anak mereka. Kalaupun merek berbaur pada masyarakat tidak sepenuhnya karena mayoritas waktu dan kegiatan mereka dihabiskan dengan kelompok pengajian mereka. Akibat dari ketertutupan ini mudah sekali mereka untuk menerima doktrin atau fatwa menyesatkan tanpa perbandingan dengan pemikiran yang berbeda dengan kelompok mereka. Dan juga pergaulan yang tertutup itu juga mengakibatkan hilangnya rasa empati mereka pada masyarakat sekitarnya . Sehingga tidak ada jalan lain masyarakat harus ikut serta dalam membantu deradikalisasi  dengan cara lebih peduli dengan lingkungan tetangga sekitarnya. Dengan cara merayakan dan menghidupkan perayaan hari besar agama Islam dikampung - kampung yang melibatkan semua anggota masyarakat yang tinggal disana. Kegiatan istighozah, perayaan mulud nabi serta kegiatan pengajian rutin dengan ustadz yang berbeda  semestinya dikembangkan sehingga menjadi tradisi bulanan. Diharapkan dengan berbaurnya mereka yang sudah terlanjur terpapar oleh ideologi radikalisme, menumbuhkan empati pada jiwa dan nurani mereka sehingga melunakkan pengaruh radikalisme dalam pikiran mereka.
  • Apabila kita mempunyai teman , tetangga atau saudara yang terindikasi terpapar ideologi radikalisme , biasanya mereka jika mengajak atau berdebat selalu menggunakan dalil agama yang berhubungan dengan jihad, perang dan khilafah maka cukup beri pertanyaan kritis, mengapa nabi Muhammad tidak melakukan seperti kamu lakukan? Lebih tahu mana ustadzmu apa nabi Muhammad tentang AlQuran? Bukankah nabi Muhammad adalah orang yang santun dan tidak suka melukai orang lain? Bukankah nabi Muhammad berperang hanya untuk membela diri?. Pertanyaan - pertanyaan kritis ini cukup merepotkan dan sedikit memberi pencerahan pada mereka.

Demikian sedikit tulisan yang mungkin bisa menjadi masukan bagi siapapun yang peduli atas peristiwa bom bunuh diri di Surabaya dan berniat untuk menjadi bagian yang melakukan aksi solutif untuk mencegah hal serupa terulang kembali.

Penulis adalah mantan ketua SKI SMAN 5 Surabaya angkatan 92

VIDEO PILIHAN