Ramaditya DH
Ramaditya DH

Pemuda yang sedang belajar membaca dan menulis | Saya tidak kekinian, hanya aktif di Twitter | Silahkan main ke @ramaditya_20 jika ingin mengenal lebih dekat :)

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

Kisah Francesco Totti; Sosok Inspiratif dan Wujud Nyata Sebuah Loyalitas

13 Juni 2017   11:00 Diperbarui: 13 Juni 2017   11:12 200 2 0
Kisah Francesco Totti; Sosok Inspiratif dan Wujud Nyata Sebuah Loyalitas
Photo: FrancescoTotti.Pict


"Ketika saya masih kecil, saya bermimpi untuk mengakhiri karir saya hanya dengan membela satu klub yang saya cintai."

Diawal tulisan ini, sengaja saya cantumkan pernyataan Francesco Totti yang pada akhirnya menjadi realita dan fenomenal. Sebenarnya dalam hal ini saya tak ada maksud apapun. Hanya saja saya ingin menuntun kalian kepada suatu hal yang bagi saya prinsipil dan juga konstan, yang kiranya tak mungkin dilakukan pesepakbola manapun selain oleh seorang loyalis dan penuh taat satu ini.

Dari ucapan Totti yang demikian, saya yakin banyak yang bertanya tentang kebodohan sikap seorang Totti yang mementingkan karirnya (yang tidak begitu cemerlang) di satu klub, dibanding meraup gelimang komplimen bersama beberapa klub besar yang berniat memakai tenaganya.

Saya sendiri terpaksa bingung kenapa "Sang Pangeran" begitu nyaman dengan stagnasi yang dialaminya. Meskipun bagi dirinya apapun yang menjadi keputusannya diyakini akan baik-baik saja, namun itu tidak membahagiakan. Dia telah mengorbankan banyak hal yang seharusnya bisa menyandingkan namanya setara dengan pemain hebat pada masa emasnya seperti Zidane, Henry, atau Ronaldinho. Lebih dari itu, bahkan dia bisa mengalahkan nama Michael Owen, Raul Gonzalez, Oliver Kahn, dan David Beckham dalam perburuan Ballon d'Or.

Saya merupakan orang yang menggemari seorang Fransesco Totti semenjak dia terlihat moncer bersama dua attacante milik AS Roma kala itu, Montella dan Batistuta. Saya cukup menyaksikan kedigdayaan trio duet maut yang dimiliki allenatore Fabio "Don" Capello ini. Hingga pada ujungnya kerjasama mereka mampu membawa tim pujaan Romanisti meraih gelar Serie A ketiganya setelah 17 musim hanya puas menjadi kontestan semata.

Meskipun saat itu ada nama Hidoteshi Nakata yang terkadang mengganggu romantisme mereka bertiga, namun peran Totti tak tergantikan. Bagi saya Totti adalah protagonistatim Serigala Ibukota dalam setiap laga yang dimainkan. Sentuhan magic yang kerap ia pertontonkan memicu saya untuk bergegas mengklaim bahwa dia pesepakbola pertama yang (wajib) saya idolakan.

Kita sangat memahami bahwa caranya men-dribble bola tak selicin kompatriotnya di AS Roma kala itu, Marco Delvecchio. Dalam bersepakbola saya berusaha keras meniru gayanya yang tak banyak bergerak di lapangan, namun mampu menafsirkan ruang dan menciptakan peluang berbahaya. Pada lain sisi, instingnya yang tajam terutama dalam membaca kelengahan kiper adalah superioritas yang dimilikinya.

Cukup teringat sekali bagaimana ia mencongkel bola ke gawang Julio Cesar dari luar kotak penalti setelah terlebih dahulu melakukan solo run dari tengah lapangan dan mengecoh Esteban Cambiasso yang sampai saat ini terus saya praktekan di lapangan meskipun tak sekalipun berhasil. Pergerakannya yang dinamis, dipadu dengan perbawa bak figur seorang Mahatma Gandhi dalam memimpin India dan rakyatnya hingga mengantarkan negara kelahirannya itu ke gerbang kemerdekaan, sekali lagi, mempertegas bahwa Totti layak menjadi panutan dan sosok inspiratif yang sesungguhnya.

Sampai-sampai, saking terpesonanya, secara kebetulan nickname saya adalah "Tyok", setiap jersey yang saya beli atas nama Totti selalu saya tambahkan kata "yok" dengan alat tulis seadanya hingga menjadi "Tottiyok". Dari kekonyolan ini saya tak jarang mendapat bullying dari teman-teman kecil saya lantaran sikap yang dianggap ndeso dan kampungan.

Bahkan akibat ke-alay-an macam ini, amukan dari bapak saya kerap terjadi. Kejadiannya selalu berawal setelah ibu menyetrika. Lalu, dengan suara sedikit lantang, bapak berkata, "kaos larang-larang kok ditulisi ngono. Mbok ya diregani lek ditukokno wong tuo. Iki lek wis ngene, terus piye ? Arep dibusek yo raiso!"(Kaos mahal-mahal malah ditulisi seperti itu. Hargailah sesuatu yang dibelikan oleh orangtua. Kalau sudah begini lantas bagaimana? Mau dihapus juga tidak bisa!).

Sang Loyalis Abadi

Francesco Totti menempatkan dirinya pada tempat yang dirasa tepat. Keputusan dan tindakan yang dilakukan nampaknya tanpa melalui pemikiran yang panjang atau mungkin perdebatan sengit. Dia mengikuti absurditas visi batinnya; meyakini suatu hal yang tak pasti arahnya. Memberanikan diri untuk berjuang dalam suatu klub yang kala itu reputasinya tak sebaik Sampdoria, Napoli, juga AC Milan.

Totti memang makhluk aneh. Ia cepat mengambil langkah tanpa memikirkan dampaknya. Bermain sepanjang 24 tahun dan hanya dihabiskan pada satu klub itu bukan hal yang baik untuk karir pesepakbola. Sebab manusia adalah makhluk sosial. Manusia membutuhkan banyak teman untuk menambah saudara. Dan sampai usianya yang sudah berkepala empat sekarang, saya kira Totti tidak cukup banyak mengenal pesepakbola dari beberapa liga top Eropa lainnya.

Namun ada sedikit hal positif yang patut diketahui. Totti adalah anak yang berbakti kepada orangtua, terutama kepada ibundanya. Fiorella Totti, ibunda Totti, adalah orang yang paling berjasa dalam karirnya di AS Roma. Dia orang pertama yang bersikukuh agar Totti kelak dapat membela panji l Gialorossi. Layaknya paranormal, Fiorella sepertinya mempunyai indera keenam; mampu menerawang masa depan Totti yang suatu saat akan menjadi raja di tanah kelahirannya.

Sejatinya, Totti sekeluarga adalah Romanisti. Saya pun tak tau persis apakah Fiorella benci setengah mati kepada Lazio layaknya sinisme yang kerap dipertunjukkan Romanisti pada umumnya ketika melihat tim rivalnya tersebut mengangkat trophy, atau mungkin ada alasan logis lainnya sehingga tidak mengirimkan anaknya ini ke akademi sepakbola SS Lazio.

Padahal saat itu akademi Lazio tidaklah buruk. Ada sosok Alesandro Nesta yang akan menjadi teman kecil Totti dalam mengenyam pendidikan sepakbolanya. Juga namanya pasti mudah melejit karena saat itu Lazio tidak banyak dihuni pemain bintang. Mungkin, seandainya Totti melakukan debut pada tahun yang sama seperti di tim Serigala Ibukota, hanya nama Marco Di Vaio lah yang menjadi pesaing beratnya. Bahkan, lebih jauh lagi, nama Totti akan diagungkan oleh fans Lazio, mengungguli nama Simone Inzaghi atau Silvio Piola sekalipun.

Namun, ibu adalah makhluk mulia yang paling mengerti untuk kebaikan anaknya. Begitupun dengan Fiorella. Dia paham tentang segala baik buruk untuk anaknya. Seandainya saja Fiorella kurang over protektif, dan Milan sukses mendatangkan Totti di usia yang sangat belia, 13 tahun, maka saat ini kita tidak akan sibuk menangisi kepergian Totti. Dan pesta monumental seperti yang dilakukan di Stadion Olimpico (28/5) tidak akan pernah terjadi.

Seperti kenang pemain yang pernah menyandang predikat kapten termuda AS Roma pada usia 21 tahun ini, "Hal itu tidak terjadi karena ibu saya menolaknya. Dia tak ingin saya jauh-jauh pergi dari rumah karena khawatir mungkin akan terjadi sesuatu. Sulit memang untuk mengatakan tidak kepada klub seperti AC Milan yang memiliki banyak uang untuk keluarga kami. Tetapi, hari itu ibu saya memberi pelajaran bahwa rumah adalah sesuatu yang paling penting di dalam hidup."

Untuk urusan kesetiaan dan loyalitas, di Italia hanyalah nama Paolo Maldini yang menyamai jejak "Pangeran Roma" ini. Untuk ranah Britania Raya, nama Ryan Giggs dan Paul Scholes dapat disandingkan dengan pemain yang mendapat penghargaan Golden Foot pada 2010 tersebut.

Namun Totti adalah Totti. Bagi saya, dia adalah wujud nyata sebuah loyalitas. Namanya tak sementereng Ballotelli yang masyhur karena kontroversinya, atau seperti Paul Pogba yang menjadi pelanggan tetap barber shop di Manchester. Dia dapat dikenal dengan cukup sederhana. Hanya menyebut namanya, orang akan tau bahwa Totti adalah AS Roma, dan AS Roma adalah Totti. Sesimpel itu cara untuk mengenangnya.

Kisah kesetiaan dan loyalitasnya tak bisa disejajarkan dengan segenap militansi (yang dilakukan mati-matian oleh) relawan pengusung pasangan calon Pilkada yang sering kita lihat. Seperti ucapan Totti yang telah saya cantumkan diawal tulisan ini, dia mencintai AS Roma melebihi segalanya. Begitupun cintanya pada Romanisti. "Saya bisa saja memenangkan satu atau dua Ballon d'Or jika dulu saya menerima tawaran dari Real Madrid. Namun, Ballon d'Or saya adalah cinta dari Romanisti," cetusnya.

Dia memiliki hikayat yang tak mungkin mudah untuk dilupakan bagi penggemarnya juga pecinta sepakbola. Dia adalah legenda dari Ibukota Italia (sekalipun pendukung Lazio tidak semua mengakuinya) yang nama dan raganya patut untuk diabadikan tidak hanya lewat mural. Semua cerita tentangnya berakhir dimana cerita itu berawal.

Melalui keputusan Totti yang baru saja mengundang tangis berjuta pasang mata, akhirnya dengan penuh rasa duka, dalam suasana berkabung, hati ini mendesak otak untuk memikirkan dan mengeluarkan sebuah sabda motivasi yang berbunyi: "Totti meninggalkan AS Roma bukan berarti kecintaannya sudah hilang. Namun, lebih dari itu, Sang Pangeran ingin klub yang dicintainya menjadi lebih baik."

Kisahnya ini merupakan metamorfosa kehidupan yang sangat nyata yang hanya dapat dicapai dengan keyakinan serta kesabaran yang konsisten untuk menuju kesempurnaan. Siapa sangka, Totti yang berangan untuk berkarir dalam satu klub akhirnya berakhir dengan peristiwa yang unforgettable baginya, keluarganya, dan Romanisti se-jagat raya. Sifat kepercayaan pada dirinya lah yang mampu menghantarkan ia menuju kebahagiaan.

Kini, "Sang Pangeran" telah tiada. Kita tak dapat lagi melihat sontekan chip-nya yang selalu menjadi jurus mutakhir dalam mencetak gol. Kita takkan lagi menyaksikan selebrasi khas dengan isapan jempol kanan yang ditujukan untuk istrinya, Ilary Blasi.

Entah karir sepakbolanya akan lanjut ke negeri Paman Sam atau Tirai Bambu untuk mengikuti jejak pemain veteran lainnya, atau bahkan ke klub rival abadi, Biancolesti, yang nampaknya mustahil untuk terjadi, yang jelas namanya termaktub abadi sebagai Ksatria Roma, Il de Roma !One of  'one man one club' at the history of football !

Grazie, Il Capitano ! Grazie, Totti !