Mohon tunggu...
Rakkyan Bhudi Wasesa
Rakkyan Bhudi Wasesa Mohon Tunggu... Buruh - Hanya manusia biasa yang biasa-biasa saja

It's me

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Hidup Diri Ini, Bukan Milik Kita

28 Februari 2022   16:38 Diperbarui: 28 Februari 2022   16:41 138
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hidup ini, adalah perjalanan menuju tidak 'hidup'. Dan, kehidupan ini adalah proses menunaikan hidup. Jadi, menunaikan hidup adalah sebuah ibadah panjang.

Jika hidup adalah serangkaian ibadah panjang, tentu kita akan melaksanakannya dengan hikmat dan khusyuk. Hidup yang khusyuk, akhirnya adalah ibadah yang khusyuk pula.

Selanjutnya, jika hidup adalah sebuah proses, sebuah perjalanan menuju tidak hidup. Apalah artinya kaya - miskin, penguasa - rakyat, bahagia - sedih, sehat - sakit.

Masih relevankah kita mengeluh? Masih relevankah kita bangga? Atas nama kesempurnaan prosesi / ritual ibadat hidup, apakah rela dibatalkan oleh sebuah keluhan, kesedihan, kesombongan, dan kebanggaan.

Sekali lagi hidup ini adalah tugas. Hal yang harus kita sadari adalah hidup kita ini bukan milik kita. Hitam-putihnya adalah kehendak Sang Pemilik hidup.

Serba neka dalam hidup ini adalah ritual-ritual peribadatan, ya begitulah setiap orang memiliki ritual-ritual yang spesifik, dan unik.

Tidak ada di dunia ini yang memiliki ritual ibadat hidup yang sama. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun lahir saja tidak ada yang sama. Apalagi detik, menit, jam, hari, Minggu, bulan, dan tahun akhir hidup pun tidak pernah sama.

Pun, dengan tapak-tapak kaki kita sepanjang hidup, tidak pernah ada yang sama. Panjangnya langkah, posisi tapaknya, timing langkah dan tapaknya, ada yang sekalipun sama?

Kita ini bukan siapa-siapa. Bahkan anak, istri atau suami itu bukan siapa-siapa. Suami bukan pimpinan atas ibadatmu, istri dan anak bukan jemaatmu. Semua tapak dan langkah dilaksanakan sendiri, pribadi dan unik.

Inginku, hanya sebuah hikmat dan khusyuk dalam setiap detik-detik hidup ini. Setiap detik adalah keputusaan yang tidak pernah bisa  dibatalkan, dihapus atau didelite. Detik lalu sudah mati, detik nanti belum hidup. Jadi yang dikuasi adalah detik ini saja, sehebat apapun sebuah individu itu.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun