Mohon tunggu...
RAKHMAT ZAENURI PRIBADI
RAKHMAT ZAENURI PRIBADI Mohon Tunggu... Hoteliers - Pegawai Hotel

Saya bekerja sebagai pegawai hotel. Saya pernah juga bekerja di kapal pesiar sebelumnya. Hobi saya menulis, oleh karenanya saya membuat akun disini. Selain menulis disini saya juga berprofesu sebagai penulis konten lepas. Selain itu, saya juga memiliki hobi menyelam, naik gunung, berenang, sepak bola, nonton film dan bermain musik.

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Hobi Kok Tertekan?

12 Juli 2022   17:09 Diperbarui: 12 Juli 2022   17:15 228 8 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Hobi. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Hobi dipahami sebagai sesuatu yamg dilakukan dengan senang hati. Sehingga tanpa ada yang menyuruh pun akan tetap dilakukan. Istilah zaman sekarang itu healing, dimana orang yang melakukan hobi seperti sedang melakukan suatu penyembuhan utamanya mental. Kata itu digunakam karena secara mayoritas orang yang bekerja adalah orang-orang yang tertekan yang harus mengikuti target dan aturan-aturan.

Melakukan hobi seperti menjadi dunia lain yang harus dilakukan demi seimbangnya kebutuhan fisik dan psikis. Tak heran jika ada idiom "paling enak itu hobi yang dibayar". 

Bisa jadi benar, akan tetapi apakah ketika suatu hobi yang kamu senangi kemudian menjadi pekerjaanmu (menghasilkan income) itu tidak menimbulkan tekanan diri? Padahal hobi itu seharusnya bersifat merilis rasa gundah, penat, dan stress dalam diri. 

Malah dengan menjadi pekerjaan ia bukan lagi menjadi tempat merilis kepenatan melainkan mendatangkan kepenatan baru. Sebab tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan seenaknya tanpa ada pertanggungjawaban waktu atau target tertentu. 

Jika apa yang kamu sukai sudah menjadi pekerjaan utama, maka kamu perlu hal lain untuk tetap ada pilihan relaksasi. Kreasikan hobi barumu, temukan dimana kamu menemukan kelegaan hati dalam melakukannya.

Ada juga idiom lain seperti "follow your passion". Kalimat demikian kerap membakar orang-orang yang merasa bekerja tidak pada passion-nya. Padahal, ketersediaan lapangan pekerjaan itu menyangkut banyak faktor, bukan soal passion semata.

 Misalnya saja, ada 1000 anak memiliki passion sebagai pemain sepakbola namun di lapangan hanya dibutuhkan beberapa saja untuk bisa menyelenggarakan pertandingan, apakah harus semuanya diakomodasi sebagai pemain sepakbola? Lantas jika semuanya menjadi pemain sepakbola, siapa yang melatih, penyelenggara kompetisi, orang-orang Back of the House, penonton, dan lain sebagainya. 

Hal lain pula, passion itu memang diartikan sebagai dorongan yang menyenangkan. Padahal jika kita mau menggali lebih dalam dengan merujuk pada akar katanya, passion itu satu akar kata dengan patient, yakni pasio atau penderitaan.

Kok bisa penderitaan? Baiklah, sebentar. Sebetulnya apa pun yang kamu putuskan dalam hidup mengandung risiko penderitaan bukan? Misalnya, kamu bermimpi menjadi dokter, karena itu passionmu. Maka kamu harus rajin belajar agar nilaimu bisa masuk kriteria untuk masuk ke perguruan tinggi jurusan kedokteran. 

Belum lagi faktor biaya, untuk kuliah jurusan kedokteran tidak semurah jurusan lain pada umumnya walaupun tetap tersedia peluang beasiswa. Belajar dengan tekun dan serius di bangku universitas tentu akan memberikan penderitaan tersendiri. Tugas yang menumpuk, presentasi yang sulit, membuat paper atau jurnal, UAS yang menguras pikiran, bahkan skripsi yang mengharuskanmu berusaha ekstra untuk menyelesaikannya.

Ketika hal-hal yang menyusahkan tadi terlewati, baru mimpi menjadi dokter kian terbuka lebar untuk menjadi kenyataan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan