Mohon tunggu...
RAISSA ZHILALSADITA
RAISSA ZHILALSADITA Mohon Tunggu... Mahasiswa - MAHASISWA JURUSAN AGRIBISNIS

MAHASISWA JURUSAN AGRIBISNIS, FAKULTAS PERTANIAN, UNIVERSITAS JEMBER

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Permasalahan Sosial Pertanian di Desa Sekardadi, Kintamani, Bali

5 Desember 2021   11:28 Diperbarui: 5 Desember 2021   11:48 92 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

  • PENDAHULUAN

Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduknya berprofersi sebagai petani. Pertanian sendiri merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam membangun perekonomian nasional termasuk perekonomian daerah, karena sektor pertanian memiliki peran sebagai penyedia bahan pangan untuk ketahanan pangan masyarakat, sebagai instrument pengentasan kemiskinan, penyedia lapangan kerja, serta sumber pendapatan masyarakat khususnya masyarakat pedesaan yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Di Indonesia sendiri tercatat terdapat 7,1 juta hektar lahan baku sawah. Hasil perhitungan tersebut dilakukan oleh pemerintah berdasarkan hasil penghitungan ulang pada tahun 2019 lalu.

Akan tetapi, sejak adanya wabah COVID-19 saat ini membawa dampak yang sangat luas pada masyarakat, tidak hanya pada sektor kesehatan tetapi juga pada sektor pertanian. Pandemi COVID-19 merupakan salah satu resiko yang dihadapi oleh sektor pertanian pada saat ini. Selain mengancam kesehatan petani, adanya kebijakan pembatasan pergerakan manusia untuk menekan penyebaran virus COVID-19 mengakibatkan terganggunya arus distribusi di sektor pertanian yang selanjutnya berdampak pada produktivitas dan pendapatan para petani. Kondisi penurunan pendapatan yang dialami petani selanjutnya berdampak pada kemampuan memenuhi kebutuhan dan ketersediaan pangan yang pada akhirnya mendorong para petani untuk bekerja sampingan diluar sektor pertanian.

  • ISI (NARASI & OPINI)

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menopang kegiatan ekonomi masyarakat pada umumnya.Karena sektor pertanian merupakan sektor yang banyak berpengaruh terhadap penghasilan, banyak hasil dari pertanian Indonesia yang dapat memenuhi kebutuhan di Indonesia, dan banyak pula hasil tersebut yang di ekspor sehingga dapat menambah devisa negara. Selain itu, sektor pertanian memiliki peran sebagai sumber pangan masyarakat setiap harinya, menyediakan bahan baku industry, dan masih banyak lagi peran dari sektor pertanian ini. Sektor pertanian juga sampai sekarang ini masih menjadi andalan dalam penyerapan tenaga kerja dari waktu ke waktu.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduknya berprofersi sebagai petani. BPS pernah mencatat luas tanah pertanian di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 7,1 juta hektar. Luasnya tanah pertanian tersebut juga di dukung bervariasinya sumber daya alam yang ada pada setiap daerah di Indonesia. Namun variatifnya sumber daya alam dan luasnya lahan pertanian tidak serta merta membuat petani menjadi sejahtera apalagi pandemi COVID-19 yang kian menghambat produktivitas pertanian atau pun usaha tani. Banyak petani yang mengalami kerugian, karena tidak berjalannya sistem usaha tani terutama pada bidang pemasaran.

Salah satu petani di Desa Sekardadi, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali memaparkan dalam wawancaranya kalau banyak sekali dampak yang dirasakannya sejak adanya pandemi COVID-19 di Indonesia. Salah satu dampak yang dirasakan yaitu terjadi penurunan distribus hasil pertanian terutama pada pendistribusian komoditas sayuran. Awal permasalahan ini terjadi karena adanya kondisi pandemi COVID-19 ini yang mengakibatkan hotel serta restoran yang biasanya sebagai pemasok sayuran terbesar banyak yang tidak buka atau bahkan berhenti beroperasi sehingga menyebabkan penurunan permintaan terhadap komoditas sayuran. Tutupnya restoran dan hotel ini pada sektor perwisataan yang berhenti beroperasi atau tidak berjalan akibat adanya pandemic COVID-19 ini.

Disisi lain, petani tersebut menjelaskan kalau terdapat komoditas lain yang masih stabil pendistribusiannya. Komoditas yang dimaksud yaitu komoditas buah-buahan khususnya buah Jeruk. Petani tersebut mengatakan bahwa permintaan buah jeruk di pasaran masih bertahan atau stabil sehingga masih ada sedikit pemasukan meskipun tidak sebesar saat sebelum terjadi pandemic COVID-19 ini.

Untuk mengatasi hal tersebut, saya memiliki sebuah opini yang mungkin dapat mengatai permasalahan yang sedang di hadapi para petani tersebut. Yang pertama para petani dapat mengalihkan atau meningkatkan produktivitas suatu komoditas yang prospeknya jauh lebih menguntungkan atau yang sedang dicari atau dibutuhkan di tengah pandemi ini. Namun disisi lain, hal ini tidak serta merta menghentikan produksi komoditas yang kurang menguntungkan seperti komoditas sayuran. Tetapi lebih memfokuskan kepada komoditas yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat saja.

Yang kedua, petani bisa melakuka pemasaran digital untuk produk hasil pertaniannya. Pemasaran Digitan ini membantu petani untuk meningkatkan distribusi komoditas sayuran dengan memanfaatkan media sosial untuk menyebar luaskan hasil produksinya sehingga dapat menjangkau lebih banyak wilayah. Secara umum pemasaran digital mencakup kemampuan untuk berkomunikasi secara interaktif dengan pelanggan melalui saluran elektronik, seperti web, email, perangkat pintar seperti ponsel dan tablet, dan aplikasi seluler. Pada masa pandemi COVID-19 saat ini, kita dibatasi untuk saling bertemu satu sama lain secara langsung. Maka dari itu dengan memanfaatkan media sosial, para petani bisa melakukan komunikasi dan transaksi dengan calon pelanggan tanpa harus melakukan pertemuan.

  • KESIMPULAN 

Jadi berdasarkan narasi opini di atas dapat disimpulkan bahwa adanya pandemic COVID-19 saat ini mendatangkan permasalahan sosial pada petani. Salah satunya yaitu terjadinya penurunan distribusi hasil produksi pertanian. Permasalahan tersebut terjadi karena banyak restoran dan hotel yang tutup atau bahkan berhenti beroperasi akibat pariwisata yang dihentikan atau tidak berjalan karena adanya pandemic COVID-19 ini. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, saya memiliki 2 opini untuk mengatasinya. Yang pertama yaitu petani mengalihkan atau meningkatkan produktivitas suatu komoditas yang prospeknya jauh lebih menguntungkan atau sedang dicari atau dibutuhkan di tengah pandemi COVID-19 ini. Tetapi petani tidak serta merta menghentikan produksi komoditas yang kurang menguntungkan tersebut, hanya saja lebih memfokuskan pada komoditas yang lebih menguntungkan saja. Yang kedua yaitu, petani bisa melakukan pemasaran digital untuk produk hasil pertaniannya. Pemasaran Digital ini membantu petani untuk meningkatkan distribusi komoditas sayuran dengan memanfaatkan media sosial untuk menyebar luaskan hasil produksinya sehingga dapat menjangkau lebih banyak wilayah. Dengan penerapan 2 solusi tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki atau memulihkan perekonomian para petani yang terdampak pandemi COVID-19 menjadi seperti semula atau lebih baik lagi.

Mohon tunggu...

Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan