Mohon tunggu...
Rahmat Setiadi
Rahmat Setiadi Mohon Tunggu... Buruh - Karyawan swasta yang suka nulis dan nonton film

Saya suka baca-tulis dan nonton film.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Kehendak Bebas dan Petunjuk Allah

28 Oktober 2022   10:31 Diperbarui: 28 Oktober 2022   10:47 132
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mengingat AllaH yang Maha bijaksana, niscaya Dia Maha suci dari perbuatan sia-sia dan tiada guna. Manusia tercipta demi menggapai puncak kesempurnaan dan kebahagiaan abadi. Dunia sebagai pengantar kehidupan akhirat terdapat relasi kausal bahkan identik  perbuatan di dunia dan efeknya di akhirat.

Pilihan jalan hidup amat tergantung secara lebih awal dan lebih banyak pada pengetahuan ketimbang kehendak bebas, karena daya pilih dan kehendak hanya akan bermakna bila didahului pengetahuan tentang mana jalan dan mana jurang.

Mana ajakan setan yang  anti agama dan penyangkalan akhirat versus ajakan Nabi yang menyejukkan hati dan membina jiwa. Hal tersebut bisa kita lihat jelas pada jalan hidup anak-anak, di mana tanpa pengetahuan maka kehendak bebas bisa membahayakan, yang tidak diketahuinya.

Sarana umum untuk memperoleh pengetahuan ( indra dan akal ) tidak mampu mengenali jalan hidup yang benar. Ranah pengetahuan indrawi sebagai hasil kontak langsung dengan alam eksternal sangatlah terbatas karena  hanya berhubungan langsung dengan subyek pengindra.

Rangkaian pengetahuan ini memang sangat berguna namun tidak memadai dalam menentukan jalan hidup yang benar menuju kebahagiaan abadi. Pengetahuan rasional hanya mampu mengetahui rangkaian konsep-konsep universal dan relasi-relasinya, namun tidak cukup memberi gambaran terperinci tentang jalan hidup yang benar serta hubungan dunia akhirat.

Pengetahuan empiris sebagai produk kerjasama indra dan akal tidak memiliki kemampuan tentang pengaruh perbuatan atas kebahagiaan atau kesialan. Selama tidak mengetahui proses Aksi-reaksi, seseorang tak akan mampu menyusun rancangan hidupnya yang benar dan utuh.

Perjalanan peradaban manusia kerap menunjukkan kehancuran, kefanaan. Yang terkubur digali kembali sekedar mengingat kejayaan yang teramat sedikit sebagai usaha akal mempengaruhi inderawi. Namun begitu tetap saja kehancuran dan kefanaan masih akan terjadi dan sulit disangkal.

Konsekwensinya, kebijakan AllaH menuntut diri-Nya untuk menunjukkan manusia jalan lain agar memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan, yaitu wahyu. Maka petunjuk dan tuntunan agama yang ditransmisikan pada Para utusan Ilahi adalah keniscayaan. Dengan kata lain manusia selalu butuh utusan Ilahi.

Kehadiran para utusan Allah tidak bisa dihilangkan bagaimanapun caranya. Sejarah sudah membuktikan bahwa penentang-penentang utusan Allah kerap musnah dan pendukungnya semakin bertambah. Kuantitas tidak menjadi ukuran dalam menentukan arah kemenangan. Jalan akhirat masih tetap ada meski jalan lainnya dibangun, tetap lurus meski terkadang terjal, curam, dan berkerikil tajam.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun