Mohon tunggu...
Bulukbukbulukbuk
Bulukbukbulukbuk Mohon Tunggu... mahasiswa salah jurusan

it's worth it

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Apakah dengan Menanam Pohon Sebanyak-banyaknya Dapat Menghentikan Perubahan Iklim?

3 Desember 2020   12:56 Diperbarui: 3 Desember 2020   13:04 48 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Apakah dengan Menanam Pohon Sebanyak-banyaknya Dapat Menghentikan Perubahan Iklim?
Sumber gambar: https://climate.nasa.gov/effects/

Sejak kita duduk di bangku sekolah dasar, kita mengatahui bahwa pohon merupakan salah satu mahkluk hidup yang memberikan begitu banyak manfaat bagi manusia, mulai dari menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida, menambah cadangan air tanah, dan lain sebagainya. Bahkan, kita juga diajarkan oleh guru-guru di sekolah untuk bisa menanam, merawat, dan menjaga pohon.

Karena keberadaanya yang sangat penting itu, maka manusia dituntut untuk bisa memanfaatkan pohon secara bijaksana dan bertanggung jawab. Namun, meskipun begitu, banyak manusia yang tidak memperdulikan arti penting keberadaan pohon dan lebih memilih untuk mengeksploitasi pohon-pohon tersebut secara berlebihan untuk diambil manfaat ekonominya, misalnya seperti penebangan pohon di hutan secara berlebihan tanpa adanya upaya pemulihan kembali hutan yang telah ditebang. Tentu keadaan tersebut menyebabkan banyak terjadinya bencana alam, seperti banjir, longsor, kekeringan, hingga terjadinya perubahan iklim.

Sebagai salah satu masalah yang timbul akibat perilaku manusia yang kurang bersahabat dengan alam, seperti melakukan penebangan pohon secara berlebihan, perubahan iklim membawa banyak dampak negatif bagi umat manusia dan lingkungannya, serta harus segera diantisipasi agar tidak dampak tersebut tidak berlangsung dalam jangka panjang.

Dikutip dari Australian Academy of Science, perubahan iklim adalah perubahan pola cuaca, dan perubahan terkait di lautan, permukaan tanah, dan lapisan es, yang terjadi dalam skala waktu beberapa dekade atau lebih. Perubahan iklim ini terjadi karena adanya panas matahari yang terperangkap dan dihentikan oleh beberapa macam gas agar tidak kembali ke luar angkasa. Proses ini lebih kita kenal dengan sebutan efek rumah kaca. Adapun gas-gas yang berperan dalam proses rumah kaca tersebut, seperti karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (N2O), metana  (CH4), dan freon (SF6, HFC, dan PFC). Efek rumah kaca tersebut berasal dari proses yang terjadi secara alami serta dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Dan aktivitas yang dilakukan oleh manusia ini merupakan factor terbesar penyebab terjadinya perubahan iklim.

Karbondioksida atau (CO2) merupakan gas dalam proses rumah kaca yang paling sering dihasilkan oleh manusia. Gas karbondioksida ini berkontribusi sebesar 64% terhadap proses pemanasan global.

Saat ini konsentrasi karbondioksida di atmosfer 40% lebih tinggi dibandingkan dengan saat proses industrialisasi dimulai. Dan salah satu yang menjadi penyebab utama meningkatnya kadar gas karbondiosida tersebut adalah penebangan pohon atau deforestasi. Hal ini disebabkan karena pada saat pohon ditebang, CO2 yang sebelumnya telah terperangkap dalam pohon lepas ke atmosfer yang pada akhirnya memperparah efek rumah kaca. Jika memang begitu faktanya, ide untuk menanam pohon sebanyak-banyaknya terdengar sebagai solusi terbaik bukan? Ya, itu merupakan ide yang brilian. Tapi, ternyata tidak semudah dan sesederhana itu pelaksanaannya.

 Perjanjian iklim Paris 2015 merupakan bentuk nyata dari ide bahwa pohon dapat memberikan kontribusi pada upaya untuk mengatasi masalah perubahan iklim. Mayoritas negara dalam perjanjian tersebut memilih cara perluasan hutan dalam rencana mereka untuk mengurangi emisi gas. Rencana ini diperkuat dengan adanya hasil studi di Swiss pada tahun 2019 yang menyebutkan bahwa bumi memiliki potensi untuk menanam pohon di suatu lahan yang berukuran 3,5 juta mil persegi. Dan apabila hal tersebut dilakukan, maka diperkirakan sekitar 25% tutupan bumi akan meningkat dan seperempat zat karbon akan terserap oleh pohon saat hutan sudah berkembang. Meskipun begitu, waktu yang diperlukan pohon-pohon untuk berkembang hingga bisa berfungsi secara optimal ada di kisaran 50 hingga 100 tahun dan apabila umur tersebut sudah tercapai maka diperkirakan pohon-pohon tersebut bisa melenyapkan hingga 200 miliar ton karbon.

Meskipun semua penjelasan tersebut terlihat sangat menyakinkan dan memberikan harapan bagi manusia untuk mengatasi masalah perubahan iklim ini. Namun, menurut ahli biologi evolusioner Yale dan ahli ekologi, Carla Staver, apabila hanya cara penanaman pohon saja yang dilakukan, maka tidak akan cukup untuk memperbaiki masalah perubahan iklim yang saat ini sedang berlangsung. Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa yang harus lebih dijadikan prioritas adalah bagaimana cara mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Scott Denning, seorang ilmuan atmosfer dari Universitas Colorado, Amerika Serikat, dalam temuannya berpendapat bahwa, "But very little of the world is available for planting a trillion trees. Most of the land that might be suitable is in use for farms and cities. Most of the places that can support forests, like the Amazon, Congo, Indonesia and Southeast Asia, already have forests." Atau yang jika diterjemahkan secara bebas, "Tetapi sangat sedikit dari dunia yang tersedia untuk menanam satu triliun pohon.

Sebagian besar lahan yang mungkin cocok digunakan untuk pertanian dan kota. Sebagian besar tempat yang dapat mendukung hutan, seperti Amazon, Kongo, Indonesia dan Asia Tenggara , sudah memiliki hutan." Sehingga, dapat disimpulkan bahwa penanaman pohon hanya berkontribusi kecil terhadap penyelesaian masalah perubahan iklim. Sedangkan upaya terbesar yang dapat dilakukan oleh manusia adalah dengan melepaskan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sedikit demi sedikit, dengan dibarengi upaya untuk mencari energi alternatif yang dapat menggantikan fungsi energi fosil.

Sumber :

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x