Mohon tunggu...
Rahman Wahid
Rahman Wahid Mohon Tunggu... Menggapai cita dan melampauinya

Menggapai cita dan melampauinya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Di Balik Tragedi Corona dan Narasi Bias Kelas

20 Maret 2020   21:57 Diperbarui: 20 Maret 2020   22:49 186 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Di Balik Tragedi Corona dan Narasi Bias Kelas
Sumber foto: Pixabay/_freakwave_

Setelah hampir lebih dari dua bulan menggerayangi seantero dunia, virus corona atau dikenal dengan nama Covid-19 kini peta penyebarannya makin menjadi.

Sejak pertama kali virus ini muncul di kota Wuhan Cina dan kini di negara asalnya mulai mereda, korban yang terpapar virus Korona di negara lain justru semakin hari semakin bertambah parah, misalnya di Italia, Iran, dan bahkan Indonesia.

 Virus jenis baru ini kini menjadi sorotan di awal tahun 2020. Wajar saja jika pemberitaan di berbagai media seolah terfokus pada isu corona, pasalnya wabah yang telah ditetapkan WHO sebagai pandemi global ini secara nyata memberikan dampak bukan hanya pada aspek kesehatan saja, akan tetapi berlanjut pada kerugian moril dan materil di bidang ekonomi, sosial, juga pendidikan.

Indonesia yang kini menjadi salah satu negara terdampak corona cukup parah dengan 8,4 persen killing rate mulai kelabakan dalam menangani kasus ini. Padahal awalnya banyak orang menyepelekan wabah corona dengan berbagai macam guyonan seperti katanya orang Indonesia kebal corona. Namun buktinya kini justru presentase data kematian corona paling tinggi adalah di Indonesia, dua kali lipat dari rata-rata dunia yaitu 4 persen.

Menghadapi kenyataan tersebut pemerintah meskipun agak terlambat mencoba mengantisipasi penyebaran virus corona agar tidak semakin meluas. Berbagai upaya dilakukan seperti himbauan untuk menjaga pola hidup bersih, sekolah libur, social distancing, dan diam di rumah, serta kabarnya mulai juga terpikirkan untuk melakukan lockdown seperti Malaysia dan Filipina.

Jelas corona telah menciptakan kegaduhan luar biasa, tetapi dalam tinjuan ini saya akan coba melihat dari perspektif sosial dari upaya pemerintah untuk memberantas penyebaran virus corona terutama di Indonesia.

Soal imbauan diam di rumah yang sering digaungkan oleh pemerintah, tentu tujuannya bagus untuk mencegah penularan virus, namun jika kita mau melihat realitas di lapangan, apakah semua orang bisa diam di rumah dan melanjutkan misalnya pekerjaannya?

Narasi diam di rumah ini akan sangat bisa dipahami dan diikuti oleh mereka yang berprofesi sebagai karyawan kantor, ASN, atau pekerjaan kantoran lainnya. Mereka dengan mudah dapat memindahkan urusan kantor ke rumah, lalu dengan hanya duduk di depan komputer urusan pekerjaan menjadi selesai dan tinggal menunggu corona usai juga kiriman uang gaji bulanan. Lantas bagaimana dengan profesi yang upah kerjanya harian semisal driver online, pedagang, buruh bangunan, dan tukang cukur?

Sebuah kesulitan besar bagi mereka tentu saja untuk memindahkan urusan pekerjaan ke rumah, karena pada dasarnya penghasilan mereka ditentukan oleh seberapa giat kerja keras mereka dari hari ke hari, tidak akumulatif dan pasti seperti penghasilan ASN atau karyawan.

Adapun buruh pabrik yang juga punya gaji tetap bulanan tidak dapat meninggalkan pekerjaan karena perusahaan harus terus beroperasi, dan juga memang rata-rata tidak bisa dipindahkan ke rumah, misalnya pekerjaan buruh pabrik tekstil, makanan, dan otomotif.

Oleh karena itu imbauan kerja di rumah tidak serta merta dapat dilakukan oleh semua orang. Ada kondisi yang mengharuskan mereka secara terpaksa ke luar rumah setiap hari. Tentu saja mereka dalam bayangan saya tidak bermaksud melanggar imbauan pemerintah, akan tetapi mereka juga terdesak untuk menutupi kebutuhan hariannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN