Mohon tunggu...
Rahmah Salsabila
Rahmah Salsabila Mohon Tunggu... Mahasiswa

Seorang mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Konsep Integrasi Keilmuan

22 April 2021   07:00 Diperbarui: 22 April 2021   07:01 76 0 0 Mohon Tunggu...

Integrasi ilmu dimaknai sebagai sebuah proses menyempurnakan atau menyatukan ilmu-ilmu yang selama ini dianggap dikotomis sehingga menghasilkan satu pola pemahaman integrative tentang konsep ilmu pengetahuan. Dalam upaya merekonstruksi pendidikan Islam, perlu untuk memperhatikan prinsip-prinsip pendidikan Islam, yang meliputi:

  1. Pendidikan Islam merupakan bagian dari sistem kehidupan Islam, yaitu suatu proses internalisasi dan sosialisasi nilai-nilai moral Islam melalui sejumlah informasi, pengetahuan, sikap, perilaku dan budaya,
  2. Pendidikan Islam merupakan sesuatu yang integrated artinya mempunyai kaitan yang membentuk suatu kesatuan yang integral dengan ilmu-ilmu yang lain,
  3. Pendidikan Islam merupakan life long process sejak dini kehidupan manusia,
  4. Pendidikan Islam berlangsung melalui suatu proses yang dinamis, yakni harus mampu menciptakan iklim dialogis dan interaktif antara pendidik dan peserta didik,
  5. Pendidikan Islam dilakukan dengan memberi lebih banyak mengenai pesan-pesan moral pada peserta didik.

Prinsip-prinsip di atas akan membuka jalan dan menjadi fondasi bagi terciptanya konsep pendidikan Islam.

Imam Suprayogo, mengidentifikasi bahwa pendidikan Islam masih terjebak pada pemikiran-pemikiran klasik yang sudah ketinggalan zaman. Para pemikir muslim masih segan untuk melakukan reformulasi dan modernisasi pemikiran. Padahal sejarah peradaban Islam selalu menghadapi dan berhadap-hadapan dengan perubahan, karena perubahan merupakan keniscayaan bagi kehidupan manusia. Munculnya perdebatan  antara kaum modernis dan tradisionalis menjadi bukti nyata bahwa sebagian para pemikir muslim masih takut untuk melakukan pembaharuan pemikiran.

Dari berbagai problem pada pendidikan islam, maka oleh Imam Suprayogo menawarkan sebuah konsep pendidikan berparadigma al-Qur’ān dalam memimpin sebuah lembaga pendidikan Islam dengan semboyan “tarbiyah ūlūl albāb.” Tarbiyah ūlūl albāb sekarang ini menjadi konsep pendidikan Islam yang diterapkan di UIN Maliki Malang dan dalam pengembangan kampus pada masa yang akan datang. Harapan dari konsep tarbiyah ūlūl albāb adalah akan terbentuk pribadi yang cerdas secara intelektual , di samping itu cerdas secara emosional dengan spiritual . Inilah antara lain bagian dari kepribadian ūlūl albāb yang akan dibangun dan dikembangkan Imam Suprayogo di UIN Maliki Malang.

Ūlūl albāb mempunyai peranan yang sangat penting, sebagai unsur-unsur kontrol sosial yang dapat memberi perhatian terhadap masyarakat dalam mempertebal dan memperkukuh keimanan sehingga tidak tergoyahkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan antara agama dan ilmu pengetahuan terbentuk menjadi kesatuan yang sangat baik, tanpa adanya pemisah antara agama dan ilmu pengetahuan. 

Amīn 'Abdullāh juga memiliki pandangan, bahwa integrasi keilmuan mengalami kesulitan, yaitu kesulitan memadukan studi Islam dan umum yang kadang tidak saling akur karena keduanya saling mengalahkan. Dalam proses pengintegrasian ilmu sebaiknya mengacu pada perspektif ontologis, epistemologis, dan aksiologis sehingga keilmuan umum dan agama dapat saling bekerja sama.

Dari perspektif ontologis, bahwa ilmu itu pada hakikatnya, adalah merupakan pemahaman yang timbul dari hasil studi yang mendalam, sistematis, obyektif dan menyeluruh tentang ayat-ayat Allah Swt. baik berupa ayat-ayat qauliyah yang terhimpun di dalam al-Qur’ān maupun ayat-ayat kauniyah. Dari perspektif epistemologis, adalah bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi diperoleh melalui usaha yang sungguh-sungguh dengan menggunakan instrumen penglihatan, pendengaran, dan hati yang diciptakan Allah Swt. terhadap hukum-hukum alam dan sosial. Dari perspektif aksiologis, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi harus diarahkan kepada pemberian manfaat dan pemenuhan kebutuhan hidup umat manusia.

Paradigma konsep integrasi keilmuan dalam perspektif pemikiran Imam Suprayogo meletakkan agama sebagai basis ilmu pengetahuan. al-Ḥadīst dalam pengembangan ilmu diposisikan sebagai sumber ayat-ayat qauliyyah sedangkan hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis diposisikan sebagai sumber ayat-ayat kauniyyah. Dengan posisinya seperti ini, maka berbagai cabang ilmu pengetahuan selalu dapat dicari sumbernya dari al-Ḥadīst.

Daftar Pustaka

Darwis, M., & Rantika, M. (2018). Konsep Integrasi Keilmuan dalam Perspektif Pemikiran Imam Suprayogo. Fitra, 4(1), 1–11.

VIDEO PILIHAN