Media

Cara Paling Ampuh dalam Menanamkan Etika Sopan Santun pada Anak Usia Dini

18 Juni 2017   07:38 Diperbarui: 18 Juni 2017   09:01 81 1 1

Karakter merupakan kumpulan nilai-nilai baik yang menjadi landasan atau pedoman sikap dan perilaku seseorang. Karakter memiliki nilai-nilai atau karakter yang dianggap baik atau buruk secara universal. Untuk menumbuhkan karakter yang baik ini diperlukan pendidikan karakter. Menurut Megawangi (2004), pendidikan karakter adalah suatu usaha mendidik anak-anak agar bijaksana dan berkontribusi positif terhadap lingkungan. Karakter-karakter ini juga akhirnya membentuk kecerdasan moral. Kecerdasan moral terbentuk karena adanya perkembangan moral yang baik. Menurut Santrock (2007), perkembangan moral melibatkan perubahan pemikiran, perasaan, dan perilaku berdasarkan standar benar dan salah. Perkembangan moral sendiri menyangkut intrapersonal dan interpersonal.

Dalam pendidikan karakter terdapat beberapa komponen penting yang harus ditekankan. Pendidikan karakter Lickona (1992) dalam Megawangi (2009), menekankan tiga komponen untuk membentuk karakter yang baik, yaitu moralknowing, moral behavior dan moral feeling. Moral knowing terkait dengan kesadaran moral, pengetahuan mengenai nilai-nilai moral, perpective-taking, moral reasoning, pengambilan keputusan, dan self knowledge. Moral feeling merupakan aspek yang harus ditanamkan terkait dengan dorongan atau sumber energi dalam diri manusia untuk bertindak sesuai prinsip-prinsip moral.

Sedangkan moral actionadalah bagaimana pengetahuan mengenai nilai-nilai moral tersebut diwujudkan dalam aksi nyata. Penanaman nilai-nilai pun harus dilakukan sejak dini. Menurut Kartini (2011) dalam Yuliantoro, jika sejak usia dini anak tidak diajarka nilai-nilai budi pekerti maka jika anak menginjak usia dewasa akan mengembangkan sikap destruktif atau cenderung ke arah brutal. Pertanyaannya, nilai-nilai apa saja yang harus ditanamkan kepada anak untuk membentuk karakter yang baik? Lalu, bagaimana menginternalisasi nilai-nilai tersebut, baik di rumah maupun di sekolah?

Pertama, nilai yang harus diajarkan adalah nilai yang akan menjadi pedoman hidup bagi manusia, yaitu agama. Agama merupakan pedoman kehidupan yang mengatur seluruh sendi-sendi kehidupan manusia. Jadi, jika seseorang telah memiliki dasar agama yang baik, maka nilai-nilai yang lain akan mudah diterima dan diterapkan. Kedua, tanggung jawab, mandiri, disiplin, dan jujur. Nilai-nilai ini penting agar anak nantinya bisa mandiri, disiplin dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri dan pada apa yang ia lakukan. Ketiga, menghormati dan menghargai orang lain. Keempat, etika dan sopan santun. Kelima, berbagi, kasih sayang, rendah hati. Keenam, gotong royong, saling tolong menolong. Nilai-nilai tersebut penting agar anak nantinya bisa berinteraksi social dengan baik, memiliki sikap empati, dan tidak egosentris. Dan yang terakhir, adalah kreatif, percaya diri, pekerja keras. nilai yang terakhir ini dapat menuntun sang anak agar ia tidak mudah putus asa, mampu mencari jalan keluar dari suatu masalah, dan memiliki motivasi yang tinggi.

Dalam proses pendidikan karakter tersebut tentu membutuhkan partisipasi dari berbagai pihak, terutama sekolah dan keluarga. Berikut akan dijelaskan beberapa cara agar pendidikan karakter dapat terinternalisasi dengan baik.

Anak usia balita dan pra sekolah

Pada kelompok umur ini anak masih self-oriented dan masih berada pada level moral terendah (Kohlberg). Menurut tahapan Erikson, anak berada pada fase autonomy vs doubt. Pada fase ini anak-anak cenderung egois dan hanya melakukan sesuatu berdasarkan prinsip reward and punishment.

Cara-cara yang bisa dilakukan untuk menginternalisasi nilai-nilai pada anak usia ini adalah:

Mengenalkan sopan-santun, nilai baik/buruk pada anak dg cara yg mudah dimengerti

Menumbuhkan rasa kemandirian (memberi kesempatan anak melakukan apa yg diinginkan)

Jangan memarahi anak karena keegoisannya, missal: tidak mau meminjamkan mainan, karena, jika anak dimarahi akan membuat sifat mandir tidak tumbuh dalam dirinya, dan akhirnya sifat ragu-ragu menjadi dominan.

Menanamkan kejujuran

Memberikan rewardjika anak berbuat baik dan punishmentjika anak nakal, namun punishment yang diberikan tidak boleh sampai meng-abbuse sang anak.

Anak usia 4,5-8 tahun

Pada usia ini anak berada pada fase authority-oriented morality (Bronfenbrenner) artinya, percaya sekali pada figure otoritas, misalnya guru. Sedangkan menurut Kohlberg, anak berada pada fase exchange stage, yaitu anak sudah mengerti pada kepentingan orang lain, namun masih dalam konteks “apa yang saya peroleh”. Menurut tahap Erikson, anak berada pada fase initiative vs guilt(3-sebelum 5 tahun) yang artinya anak harus diberikan kesempatan untuk mengungkapkan ekspresinya. Jika tidak, maka ia akan menjadi pribadi yang apatis. Pada usia 6,5-8 tahun, anak berada pada fase Industry vs inferiority. Pada fase ini baik orang tua maupun guru harus menanamkan rasa mampu mengerjakan tugas pada anak. Beberapa cara lain untuk menanamkan nilai-nilai pada fase ini adalah:

Mengajarkan moral baik atau buruk (perilaku baik & sopan) disertai alas an.

Memilih & menyalurkan kreativitas anak.

Memberikan anak tanggung jawab.

Mengajarkan anak tentang empati, cinta, dan kasih sayang.

Menggunakan prinsip timbal balik disertai pengertian.

Berikan contoh perilaku tentang tolong-menolong dan peduli kepada orang lain

Mendorong anak untuk bereksplorasi

8,5-14 tahun

Pada fase ini, menurut Bronfenbrenner anak berada pada fase peer-oriented morality. Anak-anak bertindak cenderung sesuai dengan teman sebaya atau peer group-nya. Pada fase ini anak telah mengerti golden rules atau moral baik atau buruk. Pada fase ini, internalisasi dapat dilakukan dengan:

Memberikan training pada anak agar memiliki keahlian tertentu (kesenian, olahraga, dll)

Memelihara hubungan & komunikasi yg baik

Membantu membangun konsep diri positif

Diskusi

Menyeimbangkan, antara memberi anak kebebasan dan mengontrol mereka.

16-19 tahun

Pada fase ini menurut Bronfenbrenner, anak berada pada fase collective-oriented morality, artinya anak merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga keutuhan kelompoknya. Menurut Kohlberg, fase ini disebutlaw & order stage / social contract stage. Anak akan patuh pada peraturan yang ada, karena ia memahami bahwa kesetiaan pada peraturan-peraturan yang ada adalah kewajibannya, agar ketertiban dan ketentraman masyarakat terjaga. Proses internalisai nilai pada remaja usia ini antara lain:

Mengajarkan untuk memegang teguh prinsip-prinsip moral dan HAM

Mengajak anak berdiskusi mengenai prinsip menghargai orang lain dan kewajiban sebagai anggota sistem social.

Masalah moral yang terjadi dalam masyarakat dan bentuk kontribusi yang bisa dilakukan untuk system sosialnya.

Berikan pengalaman nyata partisipasi dalam komunitas, misal organisasi pramuka, ekstrakurikuler, dsb.

Target di masa depan, agar anak memiliki motivasi yang kuat untuk bekerja keras mencapai tujuannya.

Lebih dari 20 tahun

Pada fase ini disebut objectively oriented morality. Menurut Garbarino & Bronfenbrenner (1975) dalam Megawangi (2004),fase ini merupakan fase tertinggi yang seharusnya dicapai manusia, karena mengacu pada prinsip moral universal,objektif, tidak tergantung pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Pada fase ini yang diperlukan adalah menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih dalam dan menanamkan sang anak agar senantiasa memegang teguh nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang telah dianut.

Perkembangan moral anak akan lebih optimal jika dilakukan sesuai dengan perkembangan anak, sejak usia dini sampai anak beranjak dewasa. Namun, bukan berarti setelah dewasa orang tua melepas anaknya begitu saja. Orang tua juga harus tetap menjaga sang anak agar anak tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulan, hingga nilai-nilai karakter yang dianutnya sejak kecil menjadi luntur, atau bahkan hilang sama sekali. Artinya, orang tua harus senantiasa memantau dan mendidik sang anak, as long as possible.

Devangga Rahmaditya Putra

201431091

Universitas Muria Kudus