Ganendra
Ganendra Jakarta Worker

demen melekan - suka ngeVlog

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tol Cipali Mengantarku Bersilaturahmi di Kampung

3 Agustus 2015   20:34 Diperbarui: 4 Agustus 2015   08:30 1089 9 7

MUDIK tiba. Sebagai perantau di Ibukota, mudik menjadi hal ‘wajib’ yang aku lakukan bertahun-tahun. Bermacet ria, ‘berdesak-desakan’ di jalan dengan pengguna jalan jalur mudik lainnya serta menikmati jalur pantai utara/ Pantura sudah menjadi ‘hidangan’ yang aku rasakan selama ini. Maklum aku mudik selalu via jalur darat. Soo, buatku kunci mudik adalah menikmati setiap perjalanan menyusuri ratusan kilometer menuju kampung halaman. Yaaa, enjoy aja pokoknya.

Begitu pun di momen mudik 2015 ini, agenda mudik aku lakukan menuju Wonogiri, sebuah Kota Kabupaten di Jawa tengah yang berbatasan dengan Kab. Pacitan di Jawa Timur. Kota kecil, kotanya perantau di ujung pantai selatan. Dan menjadi bersejarah karena mudik kali ini, aku sudah bisa mencicipi ruas tol baru Cikopo-Palimanan (Cipali). Tol yang sudah diresmikan Presiden Joko Widodo pada Sabtu, 13 Juni 2015. Terlebih lagi saya merasakan betul, mudik kali ini lebih lancar daripada tahun-tahun sebelumnya. Jarak tempuh pun terpangkas, karena tidak terkena praktik pengalihan lalu lintas yang biasanya menjadi lebih jauh. Tahun ini perjalanan mudik Bogor - Wonogiri selama 19 jam, tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai 25 jam.

Intensitas Kemacetan Arus Pemudik

Sebagai pemudik sejak 12 tahun belakangan ini, problem utama yang paling populer tentu saja soal kemacetan. Jalur pantai utara yang menjadi jalur mudik utamaku dari Bogor menuju kampong halaman di Wonogiri, Jawa Tengah sangat akrab dengan arus yang berjubel alias macet. Tentu saja faktor utamanya adalah tingginya para pelaku mudik. Tak bisa dipungkiri, jumlah pemudik yang akan berlebaran di kampung halaman dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Melansir data dari Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan 2015, jumlah pemudik pada 2015 ini diperkirakan mencapai 20.002.724 orang. Hal ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yakni 2014 mencapai 19.618.530 orang, atau mengalami kenaikan sebesar 1,96 persen. Begitu pula pemudik pada 2013 hanya 17.615.197 orang dan pada 2013 sebanyak 18.587.668 orang.

Jumlah pemudik diatas menggunakan transportasi udara, laut dan darat. Untuk pemudik pada transportasi darat memang mengalami penurunan. Jumlah pengguna transportasi darat baik umum maupun pribadi pada 2014 sebanyak 5.231.389 orang, sementara pada 2015 diperkirakan hanya 4.918.964 orang. Artinya mengalami penurunan sebesar (-5,97 persen). Nah dari total jumlah pemudik itu, diperkirakan yang menggunakan kendaraan pribadi mengalami peningkatan. Meningkat sebesar 5,8 persen untuk mobil pribadi dan 7,77 persen untuk sepeda motor.

Pemudik di jalur darat, khususnya yang menggunakan kendaraan pribadi pada 2015 mengalami peningkatan. (dokpri)

Pemudik dengan sepeda motor selalu terlihat di momen mudik tiap tahun. Khususnya yang melalui jalur pantura menuju daerah-daerah di Jawa Tengah dan sekitarnya. (dokpri)

Mudik Ritual Tahunanku Selama 12 Tahun

Sejak merantau meninggalkan kampung halaman pada 2003 silam, kesempatan momen lebaran selalu menjadi spesial. Mudik menjadi agenda tahunan yang aku gunakan untuk mengunjungi orang tua di kampung. Bersilaturahmi pada saudara, dan utamanya ‘sungkem’ pada orangtua, yang alhamdullillah masih lengkap. Bapak dan Ibu.

Ritual mudik sendiri sangat berarti buat saya pribadi. Menjenguk orangtua yang tentu dirindukan, soalnya setahun sekali baru bisa pulang ke kampung. Kadang-kadang saja pulang di luar momen lebaran jika ada kebutuhan mendesak. Dan tentu sangat berbeda nuansanya dengan momen lebaran. Di momen lebaran aku bisa bertemu dengan sanak saudara, kerabat dan teman. Saling bersilaturahmi karena saat bersamaan mudik. Tentu sebuah hal yang sangat membahagiakan. Kecuali itu menggali kenangan masa lalu. Masa kecil. Berasa bahagia bisa mengingat kembali masa-masa silam. Mengunjungi tempat-tempat ‘bersejarah’ dalam kehidupan masa dulu. Tempat-tempat manis yang membahagiakan. Gedung sekolah, melintasi jalur kampung yang sudah berubah lebih baik, wisata jaman dulu, nuansa malam di kampung, bertemu dengan teman sepermainan dan masih banyak lagi.

Telah menjadi kebiasaan dalam 5 tahun belakangan, saat mudik menggunakan mobil pribadi bersama-sama dengan 3 saudara saya. Tentu mudik membawa kendaraan pribadi menjadi pertimbangan. Pasalnya di kampong kami membutuhkan kendaraan untuk bersilaturahmi ke tempat saudara yang jaraknya lumayan. Jadi sangat penting untuk menunjang aktivitas ‘wira-wiri’ di kampong. Disamping itu dengan membawa mobil sendiri biaya perjalanan lebih irit alias ekonomis hehee. Khan 4 orang memakan ‘tiket’ satu BBM, sementara kalau tiket umum mesti beli 4 tiket. Lebih ekonomis. Apalagi bisa bawa muatan sesuai keinginan. Tentunya tak melebihi kapasitas kendaraan dong yaaa. Hehehe.

Mudikku di Momen Lebaran 2015

Sabtu, 11 Juli 2015, aku berangkat mudik bertolak dari Bogor. Artinya H-6 sebelum lebaran Idul Fitri 17 Juli 2015. Sengaja waktu kupilih jauh hari sebelumnya. Terbayang di tahun-tahun sebelumnya, kemacetan luar biasa saat mepet waktu mudik melalui jalur Cikampek, Subang, Indramayu dan seterusnya jalur pantura. Beban over jalur pantura yang memang sering terjadi kala momen lebaran. Momok macet di jalur Subang, Indramayu, Cirebon terbayang jelas. Dulu pada momen lebaran 2012, saat menuju jalur pantura, dialihkan via Sadang melewati hutan-hutan yang menambah jauh jarak. Perjuangan menuju perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah, di Brebes lumayan melelahkan. Kemacetan yang bertahun-tahun yang berulang dan berulang. Dan mimpi yang selalu terbayang adalah, kapan kondisi mudik bisa lebih lancar? Paling tidak kemacetan bisa terkurangi alias lebih ‘manusiawi’.

Mudik pada tahun 2012, saat dialihkan via Sadang yang lebih jauh jaraknya. (Ganendra)

Mudik pada tahun 2012, saat melewati Sadang. (Ganendra)

Nah aku termasuk warga yang cukup senang saat diresmikannya jalur alternatif Tol Cipoko – Palimanan (Cipali). Tol yang diproyeksikan mampu mengurangi beban Pantura dari mulai Cikopo – Jomin – Ciasem – Pamanukan – Lohbenar – Palimanan ini memberi harapan baru bagi kelancaran di jalur Pantura wilayah Jawa Barat. Harapan menikmati jalur yang lebih ‘manusiawi’ kemacetannya tentu aku harapkan. Menghilangkan kemacetan? Tentu belum berharap sejauh itu, minimal arus masih dinikmati ramai lancar. Pasalnya banjirnya kendaraan pemudik tentu sulit dihindari saat momen tahunan lebaran.

Saat ikut acara Kompasiana Visit Tol Cipali bareng Kemen PUPR. (Ganendra)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4