Mohon tunggu...
Rafinita Aditia
Rafinita Aditia Mohon Tunggu... Mahasiswi program Komunikasi dan Penyiaran Islam

Penapak Jenjang s1 yang masih belajar.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menyambangi Pasar Minggu Kota Bengkulu yang Berdebu, Tempat Joko Mengais Rezeki Demi Membeli Sagu

25 Juni 2019   05:59 Diperbarui: 25 Juni 2019   06:16 0 1 0 Mohon Tunggu...
Menyambangi Pasar Minggu Kota Bengkulu yang Berdebu, Tempat Joko Mengais Rezeki Demi Membeli Sagu
Menyambung Hidup dengan Berjualan, Meski Sudah Lelah Berjalan

Terik matahari tak pernah menciutkan semangatnya. Deras hujan tak pernah memberhentikan langkahnya. Dinginnya angin tak pernah membekukan asanya. Baginya, setiap peluh yang jatuh pasti akan membentuk raga yang lebih tangguh.  

Hari masih menunjukkan pukul 06.00 pagi, namun suara lalu lalang kendaraan, para penjual dan pembeli yang saling menawar barang belanjaan, dan suara percikan ikan, menambah ramainya suasana di pasar Minggu Kota Bengkulu pagi itu. Hari itu merupakan pagi di hari sabtu, tanggal 22 Juni 2019. Mungkin sebagian orang masih terlelap dalam tidurnya, namun berbeda dengan para pedagang yang sudah bangun dan bersiap mencari rezeki di pasar Minggu Kota Bengkulu.

Pasar Minggu merupakan salah satu pasar tradisional di Kota Bengkulu yang berada di kawasan KZ. Abidin. Di pasar ini, menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, muali dari beras, telur, sayuran, ikan, ayam, dan masih banyak lagi. Semuanya lengkap, apa yang dicari pasti ada disini. Namun tentu saja, jika ingin berbelanja kebutuhan pangan, haruslah di pagi hari. Karena jika sudah siang, biasanya sayuran yang dijual sudah agak layu, dan para penjual pun sudah tak banyak lagi. Berbeda jika berkunjung ke pasar Minggu ini di pagi hari, semua sayur yang dijual masih segar, dan banyak sekali pilihan dagangan yang dapat dibeli oleh para pembeli yang berkunjung ke pasar ini.

Biasanya, selepas subuh sudah banyak pedagang yang menggelar dagangannya di pasar Minggu Kota Bengkulu. Meskipun suasana pagi begitu dingin, dan kondisi pasar becek dan berdebu, tak menyurutkan semangat para pedagang mengais rezeki di pasar Minggu Kota Bengkulu ini. Ada sekitar 100 pedangang yang berjualan di pasar ini, ada yang berjualan di auning, di emperan toko, di sisi jalan, bahkan ada yang menjajakan dagangannya sambil berjalan berkeliling pasar, sembari menawarkan dagangan yang dibawa.

Dari sekian banyak pedagang itu, salah satunya yaitu Joko. "Ya namanya juga rezeki harus dicari, kalau cuma duduk dirumah, ya nggak akan dapat uang. Meskipun di pasar becek, berdebu, kotor, tapi disini ramai, dagang apapun pasti laku, asal mau", ujar Joko. Meskipun telah menginjak usia senja, tak menjadi alasan Joko untuk berpangku tangan. Ia tetap mau bekerja membanting tulang demi memenuhi kebutuhan ia dan sang istri.

"Meskipun cuma jual pisang nggak papa. Yang penting nanti bisa beli sagu untuk istri saya di rumah. Sagu itu nanti di buat jadi empek-empek, nanti empek-empek nya dijual lagi buat beli kebutuhan lain", sahut Joko. Peluh sudah membahasi wajah Joko yang telah keriput dimakan usia, namun tentu saja tak memakan semangatnya. Joko tetap mengeluarkan pisang dari dalam karung yang dibawanya, sembari menyusunnya di atas meja.

Hari itu memang Joko berjualan pisang, namun di hari lain Joko bisa menjual barang yang berbeda. "Ya namanya ngandalin hasil alam. Kalo yang mateng kates, ya bawa kates. Kalo ubi, ya ubi. Apa yang ada saja, yang penting dijual, beli sagu", pungkas Joko. Joko biasa berjualan di pasar Minggu mulai pukul 06.00 -- 10.00. Lapak joko juga tidak menetap, ia bisa berjualan di mana saja, kadang di emperan toko, kadang di depan kios yang tutup, bahkan terkadang hanya di jinjing saja. Tentu saja hal ini dilakukan karena Joko tak meiliki biaya untuk menyewa auning di pasar.

Beruntungnya, Joko memiliki istri yang paham akan kondisi meraka. Sang istri juga membantu mencari rezeki dengan berjualan empek-empek. Biasanya sang istri berjualan di depan sekolah dasar yang berada tak jauh dari rumah mereka. Sungguh potret pasangan yang saling menguatkan dikala suka dan duka.

"Namanya juga suami, apa yan nggak untuk istri. Capek memang, apalagi kai suka keram. Tapi nggak papa, yang penting istri seneng", ujar Joko sambil tertawa. Tak ada guratan kesedihan di wajahnya. Ia tetap ceria, meskipun hidupnya penuh duka. Bahkan di keadaannya yang sulit untuk berjalan sekalipun, Joko tetap semangat untuk berjualan. Penyemangatnya tentuk ta lain dan tak bukan, sang istri yang telah menunggu kepulangannya dan sagu yang dibelinya.

Semakin siang, suasana pasar semakin ramai. Syukurnya, dagangan Joko sangat laris hari itu. Pisang yang dibawanya hanya bersisa 2 sisir lagi. Tak lama berselang, sekitar pukul 8, seorang ibu ibu datang dan membeli dagangan Joko. Tentu saja sinar kebahagiaan terpancar dari mukanya. Dagangan yang dibawa telah habis terjual. Joko bergegas merapikan lapak nya dan segera membeli sagu titipan sang istri. Rupanya memang bukan harta yang menjadi tolak ukur suatu kebahagiaan, namun ketulusan dan kesetiaan bisa menjadi suatu kebahagiaan yang tak ternilai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2