Mohon tunggu...
muhammad rafi iriawan
muhammad rafi iriawan Mohon Tunggu... Instagram : @mrafiiriawan

Malang, 21 April 2001

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Hidup Bermartabat dengan Saling Menghormati Antar Umat Beragama di Lingkungan Masyarakat

30 Maret 2020   07:09 Diperbarui: 30 Maret 2020   07:08 184 0 0 Mohon Tunggu...

Hidup Bermartabat dengan Saling Menghormati Antar Umat Beragama di Lingkungan Masyarakat Agama yang kita peluk sekarang merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa? karena hal ini merupakan kodrat ilahi yang diberikan oleh Tuhan kepada Hambanya. Mulai dari kecil kita dilahirkan oleh rahim ibu kita, kita masih belum mengerti tentang apa itu agama, bahkan kita saat dilahirkan di dunia ini tidak tahu tentang apa-apa. Hanya menangis dan merengek saja kita saat pertama kali hadir di alam yang fana ini.

Suatu kenikmatan yang hakiki dari Tuhan Yang Maha Pencipta seluruh Alam Semesta kita bisa hidup di dunia ini. Agama yang dibawa oleh orang tua kita itulah yang membawa kita untuk memegang pernana penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila sila pertama : "Ketuhanan Yang Maha Esa". Ini merupakan kompromi antara gagasan negara sekuler dan negara Islam.

Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Menurut hasil Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010; 87,17% dari 237.641.326 penduduk Indonesia adalah beragama Islam (Nusantara merupakan wilayah dengan penduduk muslim terbanyak di dunia). 6,96% Kristen ; 2,9% Katolik ; 1,69% Hindu ; 0,72% Buddha ; 0,05% Konghucu ; 0,13% agama lainnya, dan 0,38% tidak terjawab atau tidak dinyatakan. 

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 dinyatakan bahwa "tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaanya" dan "menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaanya". Dalam Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, bagaimanapun, secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu.

Baru-baru ini, aliran kepercayaan (agama asli Nusantara) telah diakui pula sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia tertanggal 7 November 2017. Dengan banyaknya agama maupun aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar agama sering kali tidak dapat dielakkan. Lebih dari itu, kepemimpinan politis Indonesia memainkan peranan penting dalam hubungan antar kelompok maupun golongan. 

Kita sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendirian dengan golongan agama kita sendiri, akan tetapi kita harus tetap bersosialisasi dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Toleransi dilakukan agar selalu hidup rukun antar umat beragama, sehingga apabila terjadi perbedaan pendapat tidak menimbulkan kontra fisik maupun batin, yang menimbulkan perpecahan di antara masyarakat yang berbeda keyakinannya.

Sebagai contoh toleransi yang terdapat di masyarakat, yang berada di lingkungan Sawojajar 2 kabupaten Malang ini tepatnya berada di Gereja Pantekosta Di Indonesia (GPDI) yang didirikan sejak tahun 1999. Kemarin pada hari Sabtu, 21 Maret 2020 saya bersama teman dari UIN Maliki Malang melakukan wawancara di gereja tersebut. Di sana kami berbincang banyak sekali tentang Agama yang dianut oleh tetangga saya sendiri di lingkungan sawojajar 2 tersebut karena letak gereja tepat berada di depan rumah saya. Beliau bernama Heri Worotikan yang menjabat sebagai pimpinan jemaat (Gemala). 

Orang nya sangat baik sekali, beliau tidak memandang orang yang beragama ini atau itu untuk saling tolong menolong. Karena pada ajaran agama Kristen Protestan yang dianutnya mengajarkan pada umatnya untuk Saling Mengasihi, Saling Menghormati, Kerendahan hati, Melayani, dan Mengampuni. Pada saat saya masih sekolah menengah pertama (SMP) pernah meminta bantuan kepada Pak Heri untuk mengantarkan saya ke sekolah karena pada waktu itu di rumah tidak ada yang mengantar ke sekolah, akhirnya beliau lah yang mengantarkan saya ke sekolah. Juga pada saat hari Raya Idul Fitri, beliau tidak sungkan untuk mengunjungi rumah kami untuk mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri kepada keluarga kami.

Kami sekeluarga pernah diundang dalam acara beliau yaitu perayaan Hari Natal yang di selenggarakan tiap tahun pada tanggal 25 Desember yang acara nya yaitu makan-makan. Dan kami sekeluarga menghadiri acara Natal tersebut. Tidak lupa kalau kami sekeluarga mempunyai acara hajatan atau sholawatan, kami biasa nya juga memberi nasi berkat untuk tetangga kami, walaupun itu berbeda agamanya, beliau juga menerima nasi berkat tersebut. Juga pada saat ada tetangga kami itu meninggal, beliau membantu dengan meminjamkan kursi yang biasanya dipakai di gereja untuk digunakan orang-orang yang takziah (berkunjung ke orang yang meninggal). Tidak memandang bahwa orang yang meninggal itu agamanya Kristen atau Islam. Jadi di lingkungan masyarakat kami selalu membantu walaupun berbeda keyakinannya.

Beliau juga berpesan untuk saling menghormati kepada sesama manusia, apabila kita di dzolimi (sakiti) jangan balas dengan kejahatan namun doakan saja supaya orang itu menjadi baik, banyak rezeki dan seluruh keluarganya diberi kebaikan. 

Memang sebagai makhluk sosial kita diharuskan berinteraksi sosial dengan baik, maupun orang tersebut berbeda keyakinan dengan kita. Tidak memandang apa agamanya dan apa pangkatnya, sebagai makhluk yang hidup di masyarakat banyak ini, kita harus bertoleransi dengan baik. Agar, hidup kita ini menjadi ayem & tentram. Sekian dari penulis mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang mengena di hati anda semua. Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

VIDEO PILIHAN