Mohon tunggu...
Rachmat Hidayat
Rachmat Hidayat Mohon Tunggu... Budayawan Betawi

a father, batavia, IVLP Alumni 2016, K1C94111, rachmatkmg@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Sialnya Remaja Tahun 1990-an

10 Maret 2017   14:28 Diperbarui: 11 Maret 2017   16:16 2698 7 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sialnya Remaja Tahun 1990-an
Sumber: http://jejak-andromeda.blogspot.co.id/2009/04/rano-karno-dalam-selamat-tinggal-masa.html

Baru saja aku membaca kisah hidup Rano Karno yang dibukukan oleh penerbit Gramedia. Bukunya berisi kisah dan perjalanan hidup putra aktor legendaris Sukarno M. Noer, dari sejak kecil, yang tinggal di gang sempit berbau (maaf) ta*, di kawasan Kemayoran, hingga ia menjadi gubernur Banten menggantikan Atut. Meski aku dan Rano tidak seumuran, dan berbeda generasi, saat aku kecil, aku sangat akrab dengan film-film yang ia bintangi. Maklum saja, zaman aku SD hanya film yang dibintangi oleh Si Doel lah yang merajai jagat bioskop di Tanah Air. Film-film Rano sering pula diputar di TVRI sebagai satu-satunya tipi pada masa itu. Jadi, tak mengherankan bila hanya Rano lah bintang dan idola remaja saat itu. Bukan profile Rano yang ingin aku ulas, namun aku ingin berbagi kisah tentang figur dan idola remaja pada masaku. Figur mereka tentu tak lepas dari film-film yang mereka bintangi.

Bagi remaja seusiaku, saat itu di tahun 1990-an, kami nyaris tak punya figur idola remaja. Memang selepas era Rano, aku masih ingat, ada beberapa artis yang menjadi teen figure. Saking ngetop-nya, wajah mereka dengan mudah ditemukan di sampul buku tulis sekolah. Namun figur seperti Dina Mariana, Richi Ricardo ataupun Ongky Alexander, menurutku, (maaf) kualitas dan ketokohan mereka masih jauh di bawah Rano, cs. Sialnya lagi, di samping krisis figur, tak ada satu pun film yang mewakili generasi kami. Kalaupun ada, palingan cuma sinetron serial “Rumah Masa Depan” yang dibintangi oleh Septhian Dwi Cahyo Cs dan serial “Aku Cinta Indonesia” (ACI).

Lain halnya bagi kakak-kakakku yang lahir di tahun 1960-an, mereka masih sempat menyaksikan film dari kisah percintaannya Rano Karno dan Yessy Gusman. Sebut saja misalnya film “Selamat Tinggal Masa Remaja” ataupun “Ali Topan Anak Jalanan”. Rano, sang legenda remaja saat itu sering tampil di film-film ber-genre percintaan dan kisah kasih remaja di sekolah. Saat ini mungkin sosok Rano bisa diwakilkan oleh Reza Rahardian Si pemeran Habibie yang laris ditanggap sebagai pemeran utama film-film ber-genre anak muda.

Sama seperti generasi remaja tahun 1980-an, begitu pun halnya dengan remaja yang tumbuh di era tahun 2000-an, mereka punya kisah kasih romantis yang bisa diceritakan untuk anak-cucu mereka. Mereka punya film “Ada Apa Dengan Cinta” (AADC) yang fenomenal, yang dibintangi oleh Dian Sastro, perempuan dengan kecantikan khas Jawanya, dan Nicholas Saputra sebagai ikon remaja saat itu.

Bagiku yang lahir tahun 1970-an, tentu sudah out of datetuk hanyut dalam kisah romantika Rangga dan Cinta. Pasalnya, saat film itu diluncurkan, aku baru saja tamat kuliah. Tak seumur dengan setting film AADC itu yang berseragam putih abu-abu anak remaja SMA. AADC adalah filmnya generasi adikku. Ya, saat film itu booming, adikku baru saja lulus SMU.

Sejujurnya aku iri dengan mereka yang lahir pada tahun 1980-an dan 1960-an. Betapa bahagianya mereka. Ada cerita dan kisah film atau tontonan yang bisa diceritakan di antara mereka. Ada tokoh yang menjadi idola, kebanggaan, dan pujaan mereka. Bagi mereka, kelahiran tahun 1960-an saat beranjak remaja, maka mereka hidup di tahun 1980-an. Banyak film berkisah asmara anak muda hadir di tengah-tengah mereka. Saya masih ingat bintang idola remaja kelahiran 1960-an antara lain Rano Karno, Herman Felani, Lydia Kandau, dan Yessy Gusman. Film-film remaja yang dibintangi mereka pun banyak, seperti "Selamat Tinggal Masa Remaja", "Selamat Tinggal Duka", "Masih Adakah Cinta", dan film-film roman picisan yang menjadi hits dan merajai blantika perbioskopan Tanah Air.

Bayangkan saja, anak remaja seusiaku, saat itu tak ada film percintaan remaja yang layak diobrolkan. Kalaupun ada hanya film-film seks murahan seperti “Ratu Laut Selatan” dengan bintang film sekelas Febby Lawrence, Meriam Bellina, Yurike Prastica ataupun Sally Marcellina. Tak ada yang lain. Tahun 1990-an itu, saat aku remaja, jagat perfilman di Tanah Air hanya dipenuhi dengan 3 (tiga) tema, yakni: Sex; Action (laga); Dan mistis. Judulnya pun tak jauh dari kata-kata yang ada dalam stensilan-nya Enny Arrow; seperti “Gairah Malam”, “Kenikmatan Tabu”, ataupun “Ranjang yang Ternoda”. 

Masih untung tak selamanya judul-judul seperti itu merajai jagat perbioskopan nusantara. Film-film bermutu pun bukannya tak ada, namun segmennya terlalu luas untuk dibilang sebagai film anak muda/remaja. Film berjudul “Perwira dan Ksatria” yang dibintangi Dede Yusuf boleh juga dikatakan sebagai film yang mewakili genre remaja, namun film itu tidak se-booming film remaja generasi AADC.

Itulah zaman saat aku remaja. Meski tak ada kisah (film) yang patut diceritakan, aku bangga pernah menjadi anak yang tumbuh dan besar tanpa gadget dan masih menikmati aneka permainan khas anak kampung. Mungkin generasikulah, generasi (remaja) terakhir yang selamat dari arus informasi dan hoax yang diakibatkan oleh kemunculan media sosial macam Twitter, Facebook, dan kroni-kroninya. Dan, Rano Karno masih menjadi legenda, setidaknya bagiku.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x