Rachmah Dewi
Rachmah Dewi Content Author

DEW. Moeslems. Media Worker. Author soon to-be. I'm write based on my experience. Email: dhewieyess75@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Cerita di Balik Bergengsinya Profesi Pramugari

9 Januari 2017   15:40 Diperbarui: 9 Januari 2017   21:00 2609 3 3
Cerita di Balik Bergengsinya Profesi Pramugari
sumber: music.infokasi.com

Menjadi seorang pramugari di salah satu perusahaan penerbangan terbaik di Indonesia adalah dambaan bagi semua orang. Selain karena prestige-nya profesi seorang pramugari ini, tentunya berbagai keuntungan seperti keuntungan materi pun akan didapatkan bagi seseorang yang berprofesi sebagai pramugari.

Dengan paras yang cantik, tubuh yang proporsional, pengetahuan bahasa asing yang mumpuni menjadikan profesi pramugari selalu menjadi incaran bagi semua orang. Rasa-rasanya sudah pasti akan bangga ketika ada reuni tiba, dan masing-masing dari kita memberitahu pekerjaan masing-masiing, seseorang dengan profesi Pramugari atau Pilot pasti akan bangga memberitahukan pekerjaan nya tersebut di depan teman-teman nya.

Sudah sejak lama, saya ingin bertanya-tanya langsung pada seseorang yang berprofesi sebagai seorang pramugari. Karena menurut saya, pekerjaan ini sangat menarik dan pastinya penuh suka duka serta tantangan. Tidak sembarangan orang bisa lolos seleksi menjadi seorang pramugari.

Baru-baru ini saya berbincang dengan seorang pramugari di salah satu perusahaan penerbangan ternama di Indonesia, Anggi Rospidia atau biasa disapa dengan Teh Anggi ini, selain berprofesi sebagai seorang Pramugari juga berprofesi sebagai penulis buku.

Buku-bukunya pun selalu menjadi inspirasi bagi yang membacanya. Adapun buku-buku yang ditulisnya adalah “Diary of Flight Attendant Wannabe” dan yang terbaru adalah “Emergency 90: Sujud yang Mengudara” Buku yang saya sudah baca adalah buku yang pertama, dan memang isinya sangat kaya manfaat juga kaya inspirasi.

Emang bisa jadi pramugari sekaligus jadi penulis buku? Bisa! Teh Anggi ini adalah contoh nyata bahwa profesi apapun tidak menghalangi untuk menyebarkan inspirasi melalui tulisan. Sebagaimana yang kita ketahui juga, menulis itu membuka jalan kebaikan untuk orang lain, membuka inspirasi bagi orang lain. Kelak, jika kita sudah tidak ada lagi di dunia ini, kita masih punya karya yang akan dikenang oleh orang lain, salah satunya dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat.

Teh Anggi bercerita kepada saya bahwa  “Saya mulai menekuni profesi pramugari sejak tahun 2010, Awal mulanya karena saya berpikir dengan apa saya bisa membahagiakan kedua orang tua dan mengangkat derajatnya?"

"Jujurnya sebelum FA (Flight Attendant) ini saya ingin sekali menjadi Kowad bahkan Akpol, pikir saya dulu yang masih SMA ya pekerjaan yang keren banget (karena saya dulu tomboi), hehe. Sampai akhirnya menuju UAS SMA saya mendapat informasi mengenai pendaftaran FA (Flight Attendant) melalui radio di daerah tempat saya tinggal dulu sampai flyer di sebuah hotel saya lihat ada Pembukaan Walk in interview Pramugari perusahan penerbangan pelat merah ternama di Indonesia. Eh, saya malah kepincut sama pekerjaan ini yang sebenarnya saya belum tahu apa sih kerjaannya di pesawat itu? karena saya belum pernah naik pesawat sama sekali. 

"Pada saat itu tahun 2009. Kemudian saya ikut perekrutan memulai belajar mengetahui latar belakang perusahaan, dasar-dasar ilmu pengetahuan aviasi, ohya, penyeleksiannya sangat ketat sekali. Saat itu sekitar 500 pendaftar FA dari Banten yang lolos hanya 11 orang dan sampai lolos di Pendidikan hingga Inagurasi hanya 9 orang saja.”

Buku pertama yang ditulis oleh Anggi Rospidia | Sumber: Twitter Anggi Rospidia
Buku pertama yang ditulis oleh Anggi Rospidia | Sumber: Twitter Anggi Rospidia

***

Lebih lanjutnya lagi, ia bercerita bahwa menjadi seorang pramugari yang juga menekuni profesi sebagai penulis buku itu, suka nya banyak sekali jika bisa berbagi melalui tulisan. mulai dari pengalaman, proses, bahkan belajar memiliki sudut pandang yang positif.

Tapi tentu di balik suka pasti terselip duka, apa dukanya? Ia bilang, dukanya adalah ketika dirinya ‘tidak berdaya’ untuk menulis bahkan membalas pesan yang masuk baik di twitter, instagram bahkan email teman-teman yang sekedar menanyakan gimana caranya untuk jadi Pramugari? karena jadwal terbang yang padat apalagi kalau lagi ada deadline nulis. Makanya dirinya menulis buku, hingga blog, jadi teman-teman yang lain, bisa dapat infonya disitu.

Buku terbaru yang Anggi Rospidia tulis | Sumber: gramedia.com
Buku terbaru yang Anggi Rospidia tulis | Sumber: gramedia.com

***

Kemudian, nah sampailah pada pertanyaan “Apa sih suka duka nya jadi seorang pramugari” pertanyaan ini yang dari dulu mengusik rasa penasaran saya. Lebih lanjut, Teh Anggi bercerita pada saya, banyak hal menyenangkan menjadi seorang Pramugari. Pekerjaan ini pasti menjadi dambaan banyak orang juga, karena pekerjaan ini bisa membawa kita pada pengalaman hidup yang luar biasa; mengenal dan bertemu beraneka ragam kultur, watak, dan kita harus profesional menghadapi penumpang-penumpang yang beraneka ragam tersebut dengan ikhlas, sehingga penerbangan menjadi nyaman.

Karena menjadi FA (Flight Attendant) bukan hanya sekadar memberikan makan dan minuman saja selama penerbangan, pekerjaan menjadi FA itu unik sekali karena dari FA merangkap menjadi security, dokter, public speaker, fire fighter, bomb fighter, service deliver, intinya menyiapkan, memberikan, memastikan penerbangan berjalan aman dan nyaman. Dan ucapan terimakasih dan senyum hangat dari penumpang juga menjadi value yang luar biasa juga untuk kami. Selain itu bisa kerja sambil jalan-jalan ke destinasi Indonesia hingga mancanegara.

Nah tapi, ada juga hal yang tidak menyenangkan di balik profesi pramugari ini, hal yang tidak menyenangkannya adalah ketika penumpang tidak mengindahkan aturan penerbangan, dan membentak para pramugari jika makanannya tidak dapat pilihan (sebenarnya para pramugari selalu berusaha memberikan layanan terbaik, karena makanan yang naik ke pesawat adalah 50:50% dari jumlah penumpang yang naik sesuai manifes).

Terakhir dalam ngobrol-ngobrol ringan saya dengan Teh Anggi ini, ia berkata bahwa Inspirasi menulis bisa didapatkan di mana saja dan dari mana saja. untuk buku selanjutnya, ia pun berencana untuk menerbitkan novel. Intinya adalah, profesi apa saja tidak akan menyurutkan niat untuk menghasilkan karya lewat tulisan. Dan intinya di setiap pekerjaan itu adalah Ridho dari Sang Maha Pencipta, kalau pekerjaan yang tidak dilandaskan dengan ridho dan keberkahan, hanya sia-sia belaka. (DEW)


Salam Kompasiana!