Rachmah Dewi
Rachmah Dewi Content Author

DEW. Moeslems. Media Worker. Author soon to-be. I'm write based on my experience. Email: dhewieyess75@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Antara Dilan, Milea, dan Netizen yang "Kepo" Maksimal

7 Februari 2018   12:04 Diperbarui: 7 Februari 2018   18:10 1709 13 6
Antara Dilan, Milea, dan Netizen yang "Kepo" Maksimal
Ilustrasi Pidi Baiq dan

Mau mengucapkan Selamat Tahun Baru 2018 tapi kayaknya udah telat, ya? Ya sudah, saya ucapkan selamat saja deh kepada film "Dilan 1990" yang telah mencapai 4 juta penonton hanya dalam waktu kurang dari dua minggu. Suatu pencapaian yang fantastis dalam dunia perfilman di Indonesia.

Di tulisan kali ini, saya bukan mau mengomentari bagaimana akting Iqbal sebagai Dilan atau akting Vanesha Prescillia sebagai Milea di film "Dilan 1990." Karena pasti sudah banyak sekali artikel-artikel yang mengulas hal demikian. Namun, yang akhir-akhir ini membuat saya cukup resah adalah kekepoan netizen Indonesia perihal siapa sosok Dilan dan Milea di dunia nyata. Apakah memang mereka benar-benar tokoh nyata yang bukan sekadar cerita yang ditulis oleh Ayah Pidi? (sapaan akrab Pidi Baiq)

Baru-baru ini dalam akun instagramnya, Pidi Baiq memposting foto yang isinya seperti ini:

ayah-pidi-5a7a844ddcad5b3576055b23.jpg
ayah-pidi-5a7a844ddcad5b3576055b23.jpg
Dan ditambah lagi salah satu postingan yang ada di Instastory Iqbaal Ramadhan yang berperan sebagai Dilan adalah sebagai berikut:

postingan instastory Iqbaal Ramadhan | sumber: Instagram @iqbaal.e
postingan instastory Iqbaal Ramadhan | sumber: Instagram @iqbaal.e
Jadi intinya apa? Wahai para netizen Indonesia yang budiman, hendaknya stop deh mencari-cari tahu siapa tokoh Dilan dan Milea di dunia nyata. Karena saya yakin, itu adalah privacy dari Si Penulis novel tersebut. Karena bukan sediit lagi, sudah banyak akun-akun yang memberitakan dengan mengunggah foto dengan caption "Inilah sosok Dilan dan Milea yang asli", bla, bla, bla dan seterusnya.

Memang itulah risikonya bagi seorang penulis fiksi yang terbiasa menulis cerpen atau novel. Kehidupan pribadi mereka pasti akan terusik oleh pertanyaan-pertanyaan dari netizen ataupun pembaca tentang siapa tokoh yang mereka tulis dalam cerpen atau novelnya. Dan hal ini sudah menjadi risiko untuk penulis yang menuliskan kisah aslinya ke dalam sebuah novel atau cerpen, akan banyak sekali pembaca yang kepo!

Pertanyaannya jadi, boleh atau nggak sih menulis cerpen atau novel berdasarkan kisah nyata yang dialami Si Penulis? Tentu saja boleh. Dalam hal ini, saya juga banyak mendapat masukkan dari rekan-rekan saya yang banyak berprofesi sebagai penulis, bahwa sebaiknya jika mau menuliskan novel atau cerpen dari kisah nyata ada baiknya memerhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Penulis jangan curhat dalam tulisannya

Jangan curhat? Maksudnya gini, boleh-boleh saja jika Si penulis hendak menuliskan kisahnya ke dalam sebuah novel atau cerpen. Namun, hendaknya Si Penulis jangan benar-benar curhat seperti dia tengah menulis buku diary. Tambahkan juga bumbu-bumbu kata-kata yang lain yang menarik pembaca untuk betah berlama-lama membaca tulisan tersebut. Buatlah pembaca penasaran tentang siapa sih tokoh yang sedang ditulis oleh Si Penulis?

2. Penulis butuh menulis dengan cara menghipnotis pembaca

Jika penulis ingin menuliskan novel atau cerpen sesuai dengan kisah nyatanya, maka buatlah tulisan yang tidak monoton, buat tulisan yang mengalir sehingga pembaca merasa enjoy ketika membaca tulisanmu. Saya berikan contoh begini:

Diceritakan bahwa Ronny menyatakan cintanya kepada Diana melalui pesan singkat di Whatsapp. Diana menolaknya juga melalui Whatsapp. Alasannya, Diana sudah memiliki tambatan hati. Karena sakit hati, Ronny pun melempar handphonenya dan meluapkan kemarahannya dengan membanting gelas.

Coba bandingkan dengan yang ini

Hati Ronny berdebar tatkala HP-nya berdering. Ada notifikasi Whatsapp masuk. Tangannya dan juga hatinya gemetar saat membukanya. Whatsapp yang sangat ia tunggu-tunggu. Bagaimana tidak? Whatsapp perjuangan hidup dan mati dalam memperjuangkan cintanya dengan Diana. Apakah Diana menerima cintanya? Apakah Diana mempunyai perasaan yang sama terhadapnya?

"Maaf, Ron. Bukan tidak mau menerima cintamu. Tapi, untuk saat ini sudah ada yang singgah di hatiku."

Hatinya pedih menatap kenyataan. Diana seorang gadis yang begitu didambakan telah menjalin cinta dengan laki-laki yang entah siapa namanya. Ia mengenggam HP-nya erat-erat, lalu melemparkan sekenanya. HP-nya. Hatinya sakit bagai tertusuk ribuan duri.

Nah lebih enak dibaca yang mana? Pasti lebih menyayat hati yang bagian bawah bukan?

3. Penulis tidak perlu memaksakan konflik

Ketika kisah yang kita tulis adalah kisah nyata, maka kita harus menyajikan konflik yang apa adanya dengan sajian yang sedikit dilebihkan. Sama seperti yang sudah saya tulis di poin nomor dua, konfilknya simpel saja: ditolak cinta. Namun, gaya penyajiannya yang menyayat-nyayat hati pembaca itulah yang membuat cerita lebih greget.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2