Mohon tunggu...
Ahmad Irsan
Ahmad Irsan Mohon Tunggu...

thought, feeling and hope

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Negeri yang Tertinggal karena Manusianya

2 November 2014   16:14 Diperbarui: 17 Juni 2015   18:52 80 1 3 Mohon Tunggu...

Sebenarnya tidak masalah sebuah negeri ketinggalan dari negeri-negeri tetangga, jika negeri tersebut miskin dan kering. Juga tidak masalah sebuah negeri terpuruk, jika saja letaknya tidak strategis. Dan tidak masalah sebuah negeri kalah bersaing, jika sumber daya manusianya kurang gizi dan tidak kompeten.

Namun, menjadi miris dan sebuah ironi jika sebuah negeri yang kaya akan sumber daya alam, negeri yang secara geografis begitu strategis dan memiliki sumber daya manusia yang pintar harus tertinggal bahkan di kawasan regional. Tulisan ini bukan merupakan hasil penelitian dengan metode ilmiah, tapi hasil kompilasi mozaik-mozaik pengalaman hidup di suatu negeri. Pengalaman memberi informasi negeri tersebut tertinggal karena MANUSIAnya SUKA :

1.melihat kebaikan namun enggan melakukannya;

Silahkan angkat sebuah berita kebaikan atau keberhasilan seseorang ke media atau sosmed, maka akan menoreh banyak “like” atau komentar pujian. Namun setelah itu apakah kebaikan-kebaikan lain akan muncul? Jawaban sudah sama diketahui, sangat minim dilakukan. Bahkan mungkin berita tersebut hanya dibaca judulnya saja, tapi karena banyak yang “like” maka ikutan untuk klik “like” juga. Minimnya sekali mengambil hikmah inspirasi dibalik berita tersebut dan ikut menjadi virus-virus kebaikan lainnya.

2.berharap orang lain untuk melakukannya lebih dahulu;

Manusia negeri tidak menyukai sesuatu yang negatif dan secara spontan akan bereaksi menolaknya. Namun, apakah ada upaya perbaikan? Semuanya akan berada pada posisi menunggu. Menunggu orang lain untuk melakukannya terlebih dahulu. Berharap orang lain melakukan perubahan untuk dirinya.

3.menjadi follower untuk berkompetisi daripada bersinerji;

Tipe lain dari manusia negeri adalah selalu berusaha menyaingi konsep kebaikan yang dipublikasikan. Tapi bukan dengan niat untuk bersinerji dalam memberi manfaat, namun lebih agar konsep terdahulu terpatahkan. Sehingga yang terjadi adalah perdebatan konsep mana yang lebih hebat. Dan pada akhirnya tidak ada satu pun konsep kebaikan yang diimplementasikan.

4.berburuk sangka terhadap niat baik;

Hal ini merupakan kesukaan lain dari manusia negeri. Akan sangat sulit mengajak manusia negeri untuk sebuah kebaikan. Prasangka terhadap pelopor kebaikan akan muncul dengan berbagai bentuk dan cara.Segala sumber daya akan dikerahkan untuk menyelidiki latar belakang si pelopor, kata pembuka “jangan-jangan…” menjadi pertanyaan kritis yang terlontar. Penulis juga tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Sudah terlalu banyakkah keburukan di negeri hingga kehilangan “trust” antar manusianya. Salah satu kemungkinan yang perlu dibuktikan lebih lanjut, atau ada hal-hal lain yang menjadi faktor penyebab.

5.berdebat untuk hal administratif daripada substantif;

Jenis kesukaan ini yang selalu membuat sebuah rapat akan berlarut-larut tapi tanpa hasil. Perdebatan sengit akan terjadi, tapi bukan membahas substansi. Waktu rapat akan tersita hanya untuk merumuskan hal yang bersifat administrasi. Ketika memasuki tahap pembahasan substansi masalah, semuanya sudah lelah sehingga semangat yang muncul adalah bagaimana rapat segera ditutup. Negeri menjadi tidak efisien dan tidak efektif.

6.mempermasalahkan asal sebuah konsep dari pada bersama-sama mewujudkan konsep tersebut;

Ego sektoral negeri sangat tinggi. Manfaat sebuah konsep kebaikan bukan prioritas kajian, manusia negeri lebih peduli pada asal muasal konsep dimaksud. Jika berasal dari komunitas yang sama maka akan didukung habis-habisan dan sebaliknya jika bukan dari asal yang sama, maka akan ditentang dan dijegal habis-habisan pula.

7.tertawa bahagia melihat penderitaan orang lain dan sedih menyaksikan kesuksesan orang lain;

Ntah mengapa manusia negeri begitu senang melihat orang lain lebih menderita dari dirinya. Dan begitu kecewa ketika sukses itu milik orang lain bukan dirinya. Manusia negeri merasa girang dan mensyukuri jika keburukan terjadi pada orang atau kelompok lain dan terbakar kecemburuan negatif saat ada keberhasilan dinikmati oleh orang atau kelompok lain.

8.ribut untuk hal sepele dan cuek untuk hal besar;

Manusia negeri peduli pada banjir namun santai saja pada kebiasaan buang sampah sembarangan. Manusia negeri sangat marah dengan koruptor, namun menggunakan calo untuk mengurus sesuatu karena tidak mau antri. Manusia negeri berseminar ria tentang global warming, tapi menebang pohon di depan rumah karena terganggu dengan sampah daun yang ditimbulkan.

9.berwacana hal-hal besar lalu meninggalkannya;

Begitu banyak konsep-konsep besar yang dihasilkan manusia negeri. Tapi hanya menjadi hiasan perpustakaan atau lemari kerja. Manusia negeri akan berlomba-lomba membuat konsep kebaikan, namun enggan mewujudkannya atau berharap ada orang lain yang akan mewujudkan konsep dimaksud. Manusia negeri cukup bangga dan puas jika sudah menghasilkan sebuah grand design kebaikan dan kehabisan enerji untuk implementasinya. Manusia negeri begitu addict membuat banyak regulasi namun tidak untuk penegakkannya.

Setelah membaca tulisan ini, saya yakin Anda akan bereaksi. Dan reaksi tersebut bisa bermacam-macam seperti :

1.mempertanyakan latar belakang penulis kok bisa-bisanya berkesimpulan seperti di atas;

2.metode penelitian yang digunakan apakah justified atau tidak;

3.membenarkan lalu beralih ke sosmed berikutnya;

4.menyangkal habis-habisan poin-poin di atas;

5.berkomentar pendek, “Ah teori, semua orang juga tahu itu. Buktikan dong penulis sudah berbuat apa emang?”

6.terdiam lalu mulai berbuat sesuatu dan bersinerji dengan pihak mana pun untuk negerinya.

Apapun reaksinya, hanya Anda dan Tuhan yang tahu. Namun, setelah merespon spontan tulisan ini luangkan waktu sejenak membaca lagi 9 poin di atas untuk membuktikan kesimpulan yang telah dikemukakan tidak benar satu pun.

Salam untuk negeri.

VIDEO PILIHAN