Mohon tunggu...
R ANGGOROWIJAYANTO
R ANGGOROWIJAYANTO Mohon Tunggu... Guru - Guru Tetap Yayasan di SMP Santo Borromeus Purbalingga

Saya adalah seorang Guru Swasta yang menyukai dunia tulis menulis dan tertarik dengan dunia pendidikan

Selanjutnya

Tutup

Sosok Pilihan

Mendiamkan Megawati

17 April 2024   11:12 Diperbarui: 17 April 2024   11:18 155
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosok Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Tulisan Megawati dalam sebuah kolom artikel di Kompas mendapat banyak ragam komentar maupun nyinyiran dari para netizen. Sekali berpendapat tulisan Megawati sanggup membuka opini yang muncul di masyarakat. Ada yang pro maupun kontra.

Pendapat Megawati bisa jadi juga merupakan keresahan beberapa masyarakat yang turut menyaksikan ada sesuatu yang janggal pada awal proses penjaringan Capres dan Cawapres kali ini. Namun bagi yang kontra tentu juga mempertanyakan mengapa tidak sedari awal tahapan penjaringan tidak diprotes keputusan dari Mahkamah Konstitusi dengan cara memboikot Pemilu.

Mungkin memboikot Pemilu bagi Megawati bukan cara yang elegan untuk menjaga demokrasi yang selama ini diperjuangkannya. Maka ketidakberesan pada awal penjaringan mungkin diprediksi membuat proses pilpres lebih mudah dimenangkan. Sesuatu yang wajar apabila sebuah kejanggalan membuat masyarakat berpikir ulang untuk menetapkan pilihannya. Simpati yang terbangun tentu akan menjadi sebuah antipati yang membuat masyarakat mengalihkan pilihannya.

Harapan akan dapat dikembalikannya rel demokrasi pada jalurnya tentu diharapkan bisa terwujud apabila Megawati dapat memenangkan Pilpres 2024. Sayang sekali harapan itu jauh dari kenyataan yang terjadi, apapun bentuk kejanggalan pada awal proses Pilpres 2024 tidak membuat masyarakat mengalihkan pilihannya, tetapi justru semakin memantapkan pilihannya. Apa mau dikata suara rakyat adalah suara Tuhan.....semua pasti sadar akan hal tersebut termasuk Megawati.

Proses penghitungan pun digugat walaupun sebenarnya bukan masalah penghitungan yang dipermasalahkan. Namun dalam sengketa Pilpres proses penghitunganlah yang dapat digugat. Setidaknya Megawati ingin mengkritik proses ketidakjelasan Pilpres dari awal masa penjaringan sampai pencoblosan.

Bukan masalah kalah dan menang, karena Megawati juga kalah pada saat melawan Susilo Bambang Yudoyono ( SBY) tetapi tidak melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi kala itu. Selama proses tahapan Pilpres dirasa wajar tentu tidak menjadi persoalan buat beliau. Kompetisi pasti menghasilkan pemenang dan yang lain kalah, tetapi selama prosesnya wajar tentu tidak menjadi masalah. Dan itu dibuktikannya pada saat melawan SBY. Tidak ada manuver politik sedikitpun yang menyokong Megawati untuk bisa dipaksakan menang, sehingga pasca pemilu kala itu pun tidak terdengar gugatan di MK.


Mendiamkan Megawati juga berarti memberi ruang kepada kritik pada jalannya proses demokrasi. Kritik Megawati walaupun dianggap tendensius karena merupakan Ketua Parpol peserta Pemilu , tetap merupakan kritik yang bermakna dan tajam yang keluar dari pemikiran seorang demokrat sejati. Megawati tidak menginginkan calonnya menjadi pemenang, tetapi yang diharapakannya hanyalah proses Pilpres berjalan sebaik-baiknya tanpa intervensi penguasa seperti pada jamannya. Agar proses Demokrasi bisa dibawa kembali pada cita-cita para pejuang demokrasi yang telah berdarah-darah menggulingkan rezim ototriter.

Mendiamkan Megawati juga menandakan cita - cita demokrasi mulai melenceng dari yang selama ini diperjuangkan para aktivis pro demokrasi. Megawati bersuara dalam keheningan dan tidak membuat gaduh seperti yang selama ini disuarakan beberapa tokoh politik. Ada yang menyarankan kalah ya sudah kalah saja......bukan itu yang diinginkannya tetapi koreksi atas perjalanan demokrasi juga harus terus disuarakan. Kegaduhan pada arena sidang di Mahkamah Konstitusi tentu tidak menghalangi gerak dinamis masyarakat. Tidak anarkis di jalanan tetapi terhormat di ruang sidang. Gaduh di media massa adalah konsekuensi dari demokrasi karena demokrasi adalah gaduh tetapi tidak anarkis.

Mendiamkan Megawati adalah kerugian bagi proses demokrasi...........tetaplah bersuara bu Mega walaupun dalam keheningan !!! 

Jadilah oposisi yang elegan seperti pada masa SBY !!! 

Salam Sehat !!!!

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosok Selengkapnya
Lihat Sosok Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun