Mohon tunggu...
putri alycia
putri alycia Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa UIN Malang

Masa depan adalah milik mereka yang menyiapkan hari ini.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Sudah Sekolah tapi Tak Berubah, Apa yang Salah?

29 September 2022   17:34 Diperbarui: 29 September 2022   18:20 159 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Di Indonesia terdapat 23,33 juta jiwa yang bersekolah, tapi tidak semua orang dalam populasi tersebut yang memiliki perilaku baik, masih banyak kita temui remaja berseragam tapi seringkali berperilaku layaknya remaja yang tidak berpendidikan.  Pasti sering terbesit dalam benak kita kenapa hal itu bisa terjadi? Melihat begitu banyak berita mengenai perilaku menyimpang seorang siswa masih sering kita lihat dan kita dengar di lingkungan tinggal kita. Yang ternyata hal tersebut dapat memberikan stigma buruk kepada si pelaku, kemudian yang terjadi adalah masyarakat akan menyangkut paut kan dengan dimana dia sekolah? Siapa orang tuanya? Dan stigma buruk lainnya mengenai kelayakan Yayasan sekolah tersebut dalam mendidik muridnya, bagaimana pola asuh yang dilakukan orangtua nya sehingga remaja tersebut menjadi begajulan.

Berangkat dari opini penulis di atas, kali ini kita akan membahas mengenai alasan sebenarnya dibalik penyebab seorang remaja, khususnya remaja yang berstatus murid atau siswa memiliki perilaku yang menyimpang, siapakah yang salah? Apakah tempat dia bersekolah? Apakakah karena pola asuh orang tuanya? Atau karena hal lain? Yuk kita belajar bersama- sama dengan membaca sampai akhir ya....

Sekolah adalah sebuah Lembaga yang menangani proses Pendidikan, memiliki tugas untuk menumbuhkan dan mengembangkan keimanan serta ketakwaan kepada Tuhan Ynag Maha Esa, budi pekerti yang luhur, pengetahuan dan ketrampilan, menumbuhkan daya penilaian yang benar, meneruskan warisan budaya manusia, dan menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai, di samping tugas pokoknya mempersiapkan anak didik untuk penghidupan atau mata pencaharian kelak. 

Nilai-nilai di atas dianggap sangat penting di tumbuhkan karena situasi baru telah di gambarkan dalam masyarakat kita di samping mempunyai pengaruh- pengaruh positif seperti kemakmuran dan kemudahan yang semakin bertambah seperti materialism, individualism, sekulerisme, dan sebagainya (Kaswardi, 1993).

Berbicara mengenai Pendidikan dan pembangunan manusia, ma tidak mau kita harus berbicara mengenai nilai kemanusiaan. Membangun, berarti memperbaiki atau menyempurnakan. Dengan demikian membangun manusia yang terutama adalah memperbaiki atau menyempurnakan manusia. Hal itu mengandaikan bahwa pendidik dan anak didik bekerja sama untuk menumbuhkan serta mengembangkan kemampuan anak didik dalam menghayati dan mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan (Hadiwardoyo dalam Kaswardi, 1993).

Dapat dikatakan bahwa dewasa ini Pendidikan sekolah menjadi semakin penting. Menurut Vembriarto (1993), bahwa sebagaimana halnya dengan proses sosialisasi pada umumnya, Pendidikan disekolah mempunyai dua aspek penting yaitu aspek individual dan aspek sosial. Pada satu pihak Pendidikan disekolah bertugas mempengaruhi serta menciptakan kondisi yang memungkinkan perkembangan pribadi anak secara optimal. Dipihak lain Pendidikan sekolah bertugas mendidik anak agar dapat mengabdikan dirinya kepada masyarakat.

Narwako dan Bagong (2010:98) menyatakan bahwa perilaku menyimpang adalah perilaku dari para warga masyarakat yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan atau norma social yang berlaku. Tindakan menyimpang yang dilakukan para remaja tidak selalu berupa tindakan kejahatan besar seperti merampok, korupsi, menganiaya atau membunuh orang lain. Bisa jadi hanya berupa tindakan pelanggaran kecil-kecilan semacam berkelahi dengan teman, mengejek teman, melawan guru, bolos sekolah, dsb.

Menurut Jensen (Suwarno, 2012:255-156) factor yang menyebabkan siswa berperilaku menyimpang adalah: Pertama Faktor Individu, perilaku menyimpang yang dilakukannya adalah atas pilihan, interes, motivasi atau kemampuannya sendiri; kedua Faktor Budaya, berkurangnya atau menghilangnya pranata-pranata masyarakat yang selama ini menjaga keseimbangan atau harmoni dalam masyarakat. 

Orangtua yang sibuk dan guru yang kelebihan beban merupakan penyebab dari berkurangnya fungsi keluarga dan sekolah sebagai pranata control; ketiga tekanan yang besar dalam masyarakat, misalnya kemiskinan, menyebabkan sebagian dari anggota masyarakat yang memilih jalan rebellion melakukan kejahatan atau kenakalan; keempat kenakalan atau perilaku menyimpang adalah akibat salah pergaulan. Anak- anak nakal karena bergaulnya dengan anak- anak yang nakal juga.

Menurut Jensen dalam teori sosiogenik, yaitu mencari sumber penyebab kenakalan atau perilaku menyimpang siswa atau remaja pada factor lingkungan keluarga serta masyarakat. 

Pada teori ini yang menyebabkan kenakalan atau perilaku menyimpang di kalangan remaja atau siswa adalah murni karena sosilogis atau social-psikologis, misalnya di sebabkan oleh pengaruh struktur social yang deviatif, tekanan kelompok, peranan social, status social atau karena internalisasi simbolis yang keliru. Maka faktor-faktor kultural dan social sangatlah mempengaruhi, atau bahkan dapat mendominasi struktur Lembaga-lembaga sosial dan peranan sosial setiap individu di tengah masyarakat, serta status individu di tengah kelompok partisipasi sosial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan