Mohon tunggu...
Putri Beny Mawarsih
Putri Beny Mawarsih Mohon Tunggu... Lainnya - Beban keluarga

Manusia yang menyukai 3K. Kucing, Kaktus, Kuota.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Si Tou Timou Tumou Tou

25 Januari 2021   01:08 Diperbarui: 2 Februari 2021   00:29 516 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi, adalah seorang politikus, jurnalis dan guru dari Sulawesi Utara. Ia merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia. Sam Ratulangi sering disebut sebagai tokoh multidimensional. Filsafat yang terkenal dari beliau adalah "si tou timou tumou tou" yang artinya manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.
Filsafat tersebut terkesan sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam. Berbicara pada ranah keagamaan, manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia memiliki akal dan perasaan. Manusia memiliki kendali atas dirinya sendiri. Manusia memiliki kemampuan untuk menentukan baik atau buruk sesuai versinya sendiri. Lalu bagaimana manusia dapat dikatakan sudah memanusiakan manusia lainnya?
Hakikatnya manusia adalah makhluk yang tidak dapat untuk bertahan hidup sendirian. Semandiri apapun seorang manusia pasti tetap membutuhkan makhluk hidup lain untuk membantunya bertahan hidup. Manusia dapat dikatakan manusia apabila sudah mampu memanusiakan manusia lain. Menjadi manusia bukanlah sebuah hasil melainkan sebuah proses dari kehidupan.
Menjadi manusia tidak harus selalu terlihat sempurna. Bahkan ketidaksempurnaan-pun juga masih dianggap menjadi manusia. Menjadi manusia tidak melulu tentang kebahagiaan. Bahkan kesedihan-pun juga masih bagian dari manusia. Menjadi manusia tidak terikat dengan kondisi baik-baik saja. Bahkan saat tidak baik-baik saja-pun akan tetap disebut manusia.
Manusia perlu kesedihan, kekecewaan, keputusasaan, kerumitan, dan hal-hal menyakitkan lainnya karena hal itu akan membantu proses pendewasaan. Bersedih dan air mata bukan sebuah kejahatan, tangisan juga masih termasuk dari bagian manusia. Bahkan jika kamu sedang tidak baik-baik saja. Yasudah tidak apa-apa. Hidup memang tidak selalu baik-baik saja. Manusia perlu untuk tidak baik-baik saja.


Memanusiakan manusia adalah proses penerimaan sisi lain dari manusia lain. Tanpa menghakimi, tanpa perlu merasa paling suci. Jika kalian melihat seorang teman sedang bersedih atau bahkan menangis, stop mengatakan "jangan menangis". Tidak ada yang salah dari menangis. Manusia berhak terlihat lemah. Bersyukurlah kalian jika ada teman yang mau menangis di hadapan kalian. Apakah kalian tahu artinya? Artinya dia mempercayai kalian untuk melihat sisi lemahnya dengan harapan kalian mampu menjadi penopang ketidakmampuannya memikul beban.
Kemudian jika suatu waktu kalian melihat teman kalian sedang marah karena tersinggung terhadap sesuatu, stop mengatakan "gitu aja baper". Perasaan manusia ibarat sebuah laut. Bahkan laut yang terlihat tenang di permukaan, mempunyai dasar yang riuh. Begitu juga manusia. Kita tidak pernah tahu bagaimana perasaannya yang paling dalam. Ketersinggungan merupakan hak semua manusia. Alih-alih mencemoohnya, alangkah baiknya jika menenangkannya.
Manusia memiliki hak atas sebuah penghargaan. Menghargai manusia lain merupakan kewajiban seorang manusia. Bentuk penghargaan yang paling sederhana dan sangat mudah dilakukan adalah mengucapkan "maaf, tolong, dan terima kasih". Kata "maaf" untuk memohon pengampunan atas sebuah kesalahan. Kata "tolong" untuk memohon bantuan ketika berada dalam kesulitan. Terakhir, kata "terima kasih" untuk menyampaikan rasa senang ketika diberi pertolongan.
Sederhana namun bermakna. Manusia seringkali lupa bahwa hal-hal sederhana yang kita lakukan dapat memberi arti lebih bagi manusia lain. Tanpa kita sadari penerimaan sisi dari manusia lain, pemakluman atas "tidak baik-baik saja"-nya manusia lain, dan sikap menghargai manusia lain merupakan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk memanusiakan manusia lain.


"Si tou timou tumou tou" sebuah kalimat dengan makna yang sangat hebat. Kamu tidak perlu membuktikan seberapa hebatnya kamu, seberapa kuatnya kamu, seberapa berjayanya kamu untuk dapat dikatakan sebagai manusia. Kamu hanya memanusiakan manusia lain untuk dapat menjadi manusia.


Pertanyaannya, apakah kalian sudah merasa menjadi manusia?

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan