Mohon tunggu...
Purnawan Andra
Purnawan Andra Mohon Tunggu... A sinner with no name

Peminat kajian sosial budaya masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Film

Ziarah: Memberi Wajah pada Sejarah

12 Juni 2020   00:12 Diperbarui: 12 Juni 2020   00:12 28 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ziarah: Memberi Wajah pada Sejarah
Poster film Ziarah

Menonton Ziarah (2017) yang ditulis dan disutradari oleh BW Purba Negara, membuka banyak peluang bagi kita untuk menafsir ulang pemahaman tentang masa lalu dan masa depan.

Tokoh utamanya, Mbah Sri, adalah seorang perempuan tua yang bersikeras mencari kuburan suaminya, Prawiro Sahid, yang pamit berjuang saat Agresi Militer II tahun 1948 dan tak pernah pulang sejak itu. Ia tidak percaya pada nisan tak bernama di Taman Makam Pahlawan. Ia hanya ingin agar nantinya bisa dimakamkan di samping kuburan suaminya.

Usia tak bisa mencegah mbah Sri bertualang diantara bentang kehidupan lanskap alam desa-desa di Jawa dan berbagai romantikanya. Dialog tentang warisan tanah, keris yang wingit atau sketsa ruang rumah yang direncanakan Prapto dan calon istrinya, berkelindan diantara deru mesin mobil bak terbuka menyusur gigir bukit.

Mbah Sri bergerak diantara rimbunan peristiwa yang memperoleh konteks dalam sejarah sosial kita: pendudukan Belanda, tragedi 1965, narasi bunuh diri pulung gantung serta tragedi pembangunan Waduk Kedung Ombo. 

Tokoh kita menemu banyak cerita dan keterangan lewat omongan orang yang hanya punya kenangan samar, sekilas dan tak lengkap tentang suaminya - seseorang yang barangkali memang bukan siapa-siapa dalam konstruksi sejarah masyarakat (apalagi bangsa).

Hal ini menarik kita pada pemahaman yang lebih penting dan mendasar tentang memaknai sejarah. Kembang yang ditebar di permukaan waduk setelah mendengar cerita bahwa makam suaminya berada di dasarnya, atau doa yang dipanjatkan di depan dua pusara bertuliskan nama suaminya dan nama seorang perempuan lain, menguatkan pesan tersebut.

Dengan caranya bertutur, Ziarah memberi "wajah baru" pada sejarah yang selama ini kuno dan membosankan berisi ingatan peristiwa dan angka tahun kejadian, menjadi berwajah lebih akrab dan dekat. Semisal peristiwa G30S/PKI yang penting dalam sejarah itu. Dalam memori kita selama ini ia identik dengan peristiwa pembunuhan yang massif, Gerwani menyanyi Genjer-genjer, atau kematian Ade Irma Suryani.

Akibatnya, pemaknaan tentangnya akan selalu berkisar tentang "darah itu merah, Jenderal", bukan sebuah konstruksi logika riil yang harusnya dilakukan untuk mengobati luka bangsa yang terus menganga ini. Sejarah menjadi lubang hitam yang gelap, antah berantah dan tak bisa dipartisipasi secara aktif dan kolektif oleh generasi masa kini.

Sejarah semestinya memiliki wajah-wajah yang common dan lebih manusiawi, bukan wajah tokoh-tokoh yang mengeras dan angkuh seperti selama ini kita hapal. Wajah-wajah seperti mbah Sri (diperankan Ponco Sutiyem), mbah Tresno (Ledjar Subroto) atau Prapto (Rukman Rosadi) inilah yang mendekatkan sejarah sebagai sebuah sensuous yang lebih "masuk akal". 

Dengannya, Ziarah menjadi penting, dan kita butuh film-film semacam ini. Fiksi yang dibangunnya menjadi daya tawar bagi keseragaman pola yang ditawarkan oleh film-film kita yang lebih banyak bercerita tentang masa kini yang urban, banal, dan heboh atau mencoba membayangkan masa depan yang utopis.

Padahal yang menautkan sejarah dengan masa depan adalah ingatan. Maka orang-orang berusia lanjut yang menjadi pemeran tokoh-tokoh Ziarah ini menjadi penting karena mereka adalah orang-orang yang berada di ambang batas. Mereka adalah batas terjauh dari ingatan sejarah dan akhir hidup yang pasti akan tiba. Karena jika mereka kemudian meninggal, bukankah tidak akan ada lagi sejarah?

Barangkali di titik itulah kita akan merasa kehilangan. Dan untuk itu, kita perlu (ber)ziarah.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x