Mohon tunggu...
Purnawan Andra
Purnawan Andra Mohon Tunggu... A sinner with no name

Peminat kajian sosial budaya masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Politik

Biji-biji Catur Kubu Warna Putih

24 April 2020   11:41 Diperbarui: 24 April 2020   11:59 9 0 0 Mohon Tunggu...

Politik dalam arti luas adalah sebuah cara untuk meningkatkan taraf kehidupan yang lebih positif semisal memperjuangkan khalayak miskin, emansipasi perempuan, pemberantasan kebodohan dan kepentingan lingkungan hidup. 

Untuk itu, segala hal dilakukan untuk memperjuangkan posisi politik dalam struktur kekuasaan dan pemegang kebijakan melalui visi dan misi, maksud dan tujuan yang mulia, tapi kerap kali utopis karena klise, hanya memenuhi asas kepatutan dalam kampanye. Semua itu menjadi pemanis bibir dari lidah yang tak bertulang, karena segala hal yang dilakukan itu akhirnya hanya demi kemenangan partai, kelompok atau golongan bahkan pribadi tertentu saja. Dengan demikian politik berada diluar panggung pergulatan ide antarpartai.

Politik kerap kali mengalami peyorasi makna menjadi integrasi kuasa, moralitas dan kepentingan pribadi melalui kebijakan yang "dimungkinkan" (Bullock & Trombley, 1999). Untuk itu, panggung politik menjadi wahana adu taktik. Itu sebabnya dinamika politik kerap disama-dan-bandingkan dengan strategi perang Sun Tzu, Bharatayudha hingga taktik strategi pertandingan sepakbola. Yang paling sering tentu saja menganalogikan dinamika politik dengan langkah-langkah strategi permainan catur karena didalam catur juga tersirat dasar logika, alur pemikiran dan rancangan taktis yang sejajar dengan strategi perang ataupun politik.

Ajidarma (2015) menjabarkan salah satu taktik yang sering dalam permainan catur adalah taktik penjepitan (pinning), yang dijelaskan sebagai suatu serangan terhadap satu buah catur yang menutupi buah catur kedua dari serangan. Pihak yang diserang dengan cara ini disebutkan telah terjepit. 

Ini merupakan serangan dari dua arah yang dideskripsikan bahwa Ratu Putih (Q4) dan Menteri Putih (KN5) kepada Kuda Hitam (KB2), yang jika pergi akan membuat Raja Hitam (KN2) dan Ratu Hitam (Q1) terancam. Jika tidak pergi, ia akan terbunuh dan Raja Hitam serta Ratu Hitam tetap terancam. Seorang pelaku politik, dengan sedikit imajinasi, akan mudah menggantikan Raja Hitam dan Ratu Hitam sebagai buah catur dengan "tokoh-tokoh sasaran" dalam politik yang sesungguhnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa taktik lainnya adalah serangan ganda (double attack). Jenis serangan ini, yakni serangan serempak oleh satu buah catur atas dua buah catur yang bermusuhan, disebut sebagai esensi permainan catur, yakni serangan yang ekonomis dan menguntungkan. Ini akan menarik bagi pemain catur (atau pelaku politik) yang tahu bagaimana mendapatkan efek maksimum dari buah caturnya. Digambarkan, ketika Menteri Hitam (K4) siap lari dari ancaman Kuda Putih (KN4), Pion Putih (KR3) maju mengancam Kuda Hitam. Jika Kuda Hitam lari, akan tewaslah Menteri Hitam, jika tidak lari, matilah Kuda Hitam. Dalam catur (ataupun politik), dengan taktik yang jitu, bahkan pion pun dapat melakukan langkah-langkah menentukan!

Permainan catur adalah permainan taktik. Hampir 99 persennya mengandalkan taktik belaka. Oleh karenanya catur kerap dianalogikan, jika bukan direferensikan, menjadi sumber gagasan untuk memahami permainan kekuasaan dalam politik. Maka siapapun yang membutuhkannya, menyerap ide gagasan dibalik langkah-langkah catur dan mengalihwacanakannya, siapa pun dia akan menjadi pelaku politik.

Menarik menyitir logika pengamat politik UGM Bayu Dardias, yang menyebut bahwa politik di negara kita juga seperti papan catur, mulai dari institusi di bawah, cabang/ranting hinga ke pusat, termasuk istana. Ada berbagai macam peranan disana, mulai dari pion, benteng, kuda, menteri hingga ster. Mereka mempunyai peran masing-masing.

Di balik itu semua, meski berada di pihak yang sama, yaitu kubu berwarna putih, masing-masing biji catur mempunyai isi otak yang berbeda-beda. Di bagian depan, pion berfungsi sebagai prajurit penjaga garda depan sebelum musuh mendekati raja hingga menjadi martir demi keselamatan raja. Pada saat yang sama, dalam logika otak strategi, deretan pion-pion tersebut juga bisa dan (harus) siap menjadi pihak yang dikorbankan. Oleh siapa? Oleh pemegang kekuasaan -- yang menempatkan pion di posisinya sekarang ataupun para punggawa yang ada di belakangnya. Hal ini menjadi keniscayaan karena selain berada di depan, pion-pion tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai pajangan di etalase, manekin yang memperindah tampilan (istana).

Lebih lanjut dikatakan, diantara deretan pion-pion ini ada politisi kawakan bersorban yang siap membela raja mati-matian, ada juru bicara yang sering salah bicara dan pion-pion milenial. Sekali lagi, karena di depan merekalah yang pertama menyongsong bahaya, pertama yang ingin berebut muka di media. Pion-pion ini fungsinya sebagai staff, dengan ruang kecil otoritas, dan sering tidak menentukan pengambilan kebijakan. Di samping pion yang kelihatan, ada pion-pion tidak kelihatan, mereka menyebar di mana-mana mulai di kampus-kampus sampai ke jaringan aktifis. Sebagai imbalan atas kerja kerasnya di garis depan, beberapa menduduki jabatan komisaris di perusahaan negara.

Di belakangnya ada deretan para punggawa yang berada lebih dekat di sekeliling raja. Pada situasi normal, di sela rapat kabinet, di dalam pesawat, di sela-sela acara peresmian bandara, bendungan atau jalan tol, para pembesar berusaha mendekat ke raja. Kesempatan ini sedikit banyak sirna di era Corona, sehingga, hanya punggawa yang punya akses ke sumberdaya dan jaringan yang paling diuntungkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x