Purnama Tambunan
Purnama Tambunan profesional

"Hidup itu bak menaiki sepeda. Sepeda harus terus bergerak untuk menjaganya tetap seimbang." (A. Einstein)

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

BWF Annual General Meeting 2018, Ada Isu Apa Saja?

15 Mei 2018   22:35 Diperbarui: 15 Mei 2018   23:03 1214 1 1
BWF Annual General Meeting 2018, Ada Isu Apa Saja?
BWF Annual General Meeting 2018, Ada Isu Apa Saja? (sumber: bwfcorporate.com)

Tepat pada tanggal 19 Mei 2018, sehari sebelum turnamen Thomas & Uber Cup digelar, badan bulu tangkis dunia (Badminton World Federation, BWF) mengadakan Annual General Meeting di Centra Grand & Bangkok Convention Centre. Pada pertemuan tersebut akan dibahas beberapa isu demi kemajuan bulu tangkis ke depan.

BWF telah mengirimkan sejumlah dokumen kepada negara-negara peserta untuk dipelajari. Dokumen tersebut tersedia online di sini. Salah satu dokumen berisi konsep perubahan sejumlah peraturan terkait tiga isu besar yang digaungkan BWF. Apa saja isu tersebut?

Sistem Skor Pertandingan

BWF mengusulkan perubahan sistem skor dari 3 x 21 menjadi 5 x 11. Berikut matriks sandingan perbedaan kedua sistem.

Sistem skor 3 x 21 vs 5 x 11 (dokumen pribadi)
Sistem skor 3 x 21 vs 5 x 11 (dokumen pribadi)
Apa alasan BWF mengubah sistem skor? Menurut BWF perubahan ini merupakan bentuk inovasi agar bulu tangkis tetap mampu bersaing di tengah-tengah pasar yang makin jenuh. Tetap eksis. Setidaknya ada tiga tujuan yang hendak dicapai lewat perubahan sistem skor ini: pertama, membangun "ketegangan" lebih cepat (pertandingan lebih intens); kedua, meningkatkan gairah dalam pertandingan; ketiga, memperpendek durasi pertandingan (agar penyiaran di televisi lebih optimal dan mengurangi dampak fisik bagi pebulu tangkis).

Dengan sistem baru ini, pebulu tangkis dituntut untuk siap sejak awal dan bermain "bersih" sejak awal. Pebulu tangkis harus berkonsentrasi penuh. Bila konsentrasi buyar dan bermain "jorok" (sering melakukan kesalahan) maka jangan harap dapat bersaing dalam kompetisi olahraga yang semakin ketat ini.

Sistem skor ini sebetulnya sudah pernah diterapkan pada turnamen Chinese Taipei Masters Grand Prix 2016. Muhammad Rian Ardianto yang turun dalam turnamen tersebut berpendapat sistem skor tersebut cocok dengan karakter permainannya yang cepat dan menyerang. Pebulu tangkis top Malaysia, Lee Chong Wei, merasa sistem skor yang baru dapat membantu memperpanjang karirnya karena berkurangnya durasi pertandingan.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti, berpendapat lain. Karena durasi pertandingan menjadi lebih cepat, Susy memandang perubahan sistem skor ini membuat penonton tidak dapat menikmati seni dan keindahan permainan bulu tangkis.

Saya pribadi belum pernah melihat pertandingan dengan sistem skor 5 x 11. Sepertinya jalannya pertandingan akan lebih seru karena para pebulu tangkis dituntut untuk bermain ngotot sejak awal. Sistem skor ini kurang cocok dengan pebulu tangkis tipe "lambat panas". Bila peraturan ini diterapkan, pelatih harus putar otak untuk menyiapkan strategi yang pas bagi pebulu tangkis tipe ini.

Mengurangi Coaching di Lapangan

Saat interval maupun pergantian set, biasanya pelatih memberikan coaching kepada pebulu tangkis. Ke depan, BWF akan mengurangi coaching ini. BWF juga mengusulkan fasilitas time-out. Time-out merupakan tambahan waktu yang dapat diminta pebulu tangkis bila diperlukan. Durasi maksimum time-out adalah 120 detik.

Pebulu tangkis hanya mendapatkan 1 x time-out di sepanjang set ke-1 s.d. ke-3/ke-4. Dan 1 time-out tambahan pada set ke-5. Coaching dari pelatih hanya dapat dilakukan selama time-outĀ berlangsung. Seperti halnya challenge, inisiatif time-out datang dari pebulu tangkis sendiri. Pebulu tangkis harus pandai memanfaatkan time-out ini (menentukan saat yang tepat untuk menggunakannya).

Pebulu tangkis dapat mengajukan time-out segera setelah terjadinya rally dan segera setelah pertandingan di set tertentu berakhir. Permintaan time-out diajukan dengan cara mengucapkan "Time-out" atau menggerakkan tangan membentuk huruf T.

Pengurangan coaching di lapangan ditanggapi pelatih pebulu tangkis Denmark, Kenneth Jonassen. Menurutnya, sesi coaching di lapangan merupakan hal unik dalam bulu tangkis dan merupakan bagian yang juga dinikmati penonton. Saya pun sependapat. Sesi coaching ini bagian yang bisa "dijual" untuk menghibur penonton. Lewat sesi coaching ini kita dapat melihat interaksi pelatih dengan pebulu tangkis. Kita juga dapat mengetahui berbagai tingkah pebulu tangkis saat mendengarkan arahan dari pelatih. Yang menarik, telinga kita jadi mengenal istilah-istilah aneh yang digunakan pelatih Indonesia saat memberikan arahan: "sodok", "rem... rem...", "jagain setengah-nya", "depannya jangan terlalu masuk". Haha.

Sesi coaching sebaiknya tetap diizinkan setiap pergantian set. Dengan demikian, time-out tidak diperlukan lagi.

Perubahan Peraturan Service

Semula, saat melakukan servis, ketinggian shuttle cockĀ ketika dipukul dengan raket harus berada di bawah pinggang (sejajar tulang rusuk bagian bawah) server. Teknisnya, tidak mudah bagi service judge untuk menentukan bagian bawah rusuk. Agar penilaian servis lebih mudah dan objektif, BWF mengubah aturan servis di mana shuttle cock harus berada kurang dari 1,15 m (diukur dari dasar lapangan) ketika dipukul dengan raket. Aturan servis baru ini dalam proses uji coba, dimulai sejak perhelatan All England bulan Maret lalu. Jika disepakati, maka akan ditetapkan menjadi aturan baku.

Saya menyambut baik niat BWF untuk membuat metode servis yang lebih terukur. Sayangnya, alat ukur yang digunakan masih konvensional. Alat ukur tersebut berupa dua lempeng plastik trasparan dengan garis horizonal, di mana posisi garis ini 1,15 m dari dasar. Kedua lempeng ditempatkan saling berhadapan pada bagian atas tiang logam yang berdiri tegak lurus.

Alat ukur tinggi service (foto oleh Jeppe Ludvigsen)
Alat ukur tinggi service (foto oleh Jeppe Ludvigsen)
Alat ukur batas ketinggian servis ditempatkan di sisi kanan dan kiri service judge. Bagaimana cara menggunakannya? Service judge cukup mengatur penglihatannya sedemikian rupa sehingga garis horizontal pada tiap-tiap lempeng plastik berhimpit menjadi satu garis. Posisi ini dianggap mencapai ketinggian 1,15 m.

Service judge saat menilai ketinggian service (foto oleh Sven Heise)
Service judge saat menilai ketinggian service (foto oleh Sven Heise)
Penentuan tinggi 1,15 m dengan cara ini kurang akurat. Penilaian sangat bergantung pada sudut pandang yang melihat. Fotografer bernama Mark Phelan melakukan eksperimen dengan alat ini. Hasilnya, garis yang berimpit dapat diperoleh dari sudut pandang yang berbeda. BWF perlu mengembangkan alat ukur lain yang lebih akurat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2