Mohon tunggu...
Luthfi Purnahasna
Luthfi Purnahasna Mohon Tunggu...

Saya justru bingung jika disuruh mendeskripsikan diri saya sendiri. Biarlah orang lain yang menilai saya.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Pledoi untuk LVG

16 Maret 2016   15:45 Diperbarui: 16 Maret 2016   19:01 150 2 2 Mohon Tunggu...

Karir Manager Manchester United, Louis van Gaal tampaknya masih saja berada di ujung tanduk. Sempat memperpanjang nafas dengan empat kemenangan beruntun, akhirnya kembali tersandung kekalahan dari West Bromwich Albion. Situasi semakin memburuk bagi van Gaal, saat Manchester United menelan kekalahan dari rival besarnya, Liverpool. Para suporter kembali, untuk kesekian kalinya, mengumandangkan “sack LvG” agar manager asal Belanda tersebut segera dipecat dan digantikan dengan yang lain.

[caption caption="Sumber foto: http://i1.mirror.co.uk/incoming/article7072578.ece/ALTERNATES/s615b/Stoke-City-vs-Manchester-United.jpg"][/caption]Tetapi menurut saya, Manchester United masih pantas untuk mempertahankannya. Setidaknya hingga masa kontraknya berakhir pada 2017 nanti. Apalagi dia pernah berujar akan mengakhiri karir kepelatihannya setelah dia selesai menangani Manchester United. Tetai tampaknya merosotnya prestasi dan buruknya performa Manchester United menjadi alasan yang lebih mendominasi dalam menilai kinerja Louis van Gaal. Bahkan dia mulai dianggap lebih buruk dari manajer yang digantikannya, David Moyes, dalam statistik. Seolah lupa bahwa dia yang kembali membawa Manchester United ke papan atas klasemen Liga Primer Inggris setelah terjerembab di posisi ke 7 pada musim sebelumnya. Karena itu, saya ingin memberikan 4 alasan untuk membela Sang Meneer agar dipertahankan oleh direksi Manchester United.

Alasan pertama, buruknya permainan beberapa pemain yang diharapkan menjadi tumpuan permaian. Pada musim kedua menangani Manchester United, beberapa pemain yang diharapkan menjadi tumpuan permainan justru tidak menunjukkan performa yang bagus. Pemain yang menjadi sorotan tentu saja sang Kapten, Wayne Rooney. Dia diharapkan menjadi tumpuan lini depan Manchester United dan memimpin rekan-rekannya di depan. Tapi performanya bak pisau yang tumpul. 

Perolehan golnya tidak sebanding dengan harapan besar yang diberikan padanya. Lalu ada Memphis Depay yang juga belum menemukan permainan terbaiknya secara konsisten. Pemain yang lebih memilih dipanggil Memphis ini jelas diharapkan untuk bisa menjadi salah satu tumpuan di lini penyerangan Manchester United. Tidak hanya karena dia datang dengan prestasi yang cukup gemilang dari PSV, dia diberi keistimewaan dengan menyandang nomor punggung 7, nomor keramat di Manchester United. Tapi jauh panggang dari api. Performanya sangat tidak konsisten. Bahkan Louis van Gaal mulai sering mencadangkan Memphis. 

Lalu ada seorang Bastian Schweinsteiger yang juga tak kunjung menemukan permainan terbaiknya di Inggris. Pemain dengan ejaan huruf yang cukup sulit ini seperti masih kesulitan beradaptasi dengan permainan di Inggris. Padahal dia diharapkan bisa menjadi pemimpin lini tengah menggantikan Michael Carrick dan menerjemahkan permainan Louis van Gaal di lapangan. Hal itu masih diperburuk dengan dirinya yang kerap mengalami cedera sehingga menganggu proses adaptasinya. 

Setali tiga uang dengan pemain dengan ejaan nama yang sulit lainnya, Morgan Schneiderlin. Dia masih belum bisa memberikan kontribusi maksimal seperti saat dirinya masih bermain bagi Southampton. Di lini belakang, saya menyoroti performa Matteo Darmian, Phil Jones dan Marcos Rojo. Terutama bagi Darmian yang sepertinya belum bisa mengimbangi permainan cepat dan keras ala Liga Inggris. Sedangkan Phil Jones dan Marcos Rojo justru lebih banyak berkutat dengan cedera dan saat bermain pun masih tergolong belum baik. Buruknya performa pemain-pemain tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap permainan Manchester United yang imbasnya pada hasil buruk yang didapatkan.

Lalu alasan kedua, adalah badai cedera. Musim ini, entah karena faktor teknis atau memang sedang sial, banyak sekali pemain Manchester United yang bolak balik masuk ke daftar cedera. Mulai yang cedera panjang seperti Luke Shaw, Phil Jones, Marcos Rojo dan Antonio Valencia. Dan yang cedera ringan seperti Bastian Schweinsteiger, Matteo Darmian, Ashley Young dan bahkan yang terbaru Wayne Rooney. Badai cedera jelas menganggu pola permainan Manchester United. Louis van Gaal tidak bisa menurunkan komposisi pemain terbaiknya pada setiap pertandingan. 

Imbasnya dia harus bongkar pasang pemain dengan daftar pemain yang ada. Dia tidak bisa menurunkan komposisi terbaik seperti yang dia inginkan. Hal ini jelas tidak baik. Selain permainan yang tidak maksimal, inkonsistensi komposisi pemain yang bermain mengakibatkan tidak ada pola permainan yang pakem dan baku. Imbasnya jelas, performa buruk dan hasil yang buruk. Padahal performa pemain saja Manchester United kembali mempekerjakan seorang Rob Swire. Mantan fisioterapis yang sudah pensiun. Saya pikir dirinya cukup handal untuk bisa mengatasi badai cedera di Manchester United sekarang ini.

Selanjutnya alasan yang ketiga adalah kepercayaan pada pemain muda dari akademi. Ya, dengan buruknya permainan beberapa pemain kunci yang diikuti dengan badai cedera, tidak banyak pilihan pemain yang ada. Pilihan pun jatuh pada para pemain muda. Musim ini, Sang Meneer banyak mengorbitkan pemain muda lulusan akademi. Beberapa pemain yang cukup menonjol adalah Jesse Lingard, Cameron Borthwick-Jackson, Guillermo Varela, Tim Fosu-Mensah dan yang cukup mendapat sorotan akhir-akhir ini adalah Marcus Rashford. 

Mereka bagaikan oasis di tengah padang pasir. Para pemain muda tersebut seperti menjadi hiburan tersendiri pada saat peforma buruk belakangan ini. Terlepas dari memang keadaan yang cukup untuk memaksa van Gaal memanggil para pemain muda tersebut untuk bermain bersama tim senior, kepercayaan yang diberikan patut diberi apresiasi tinggi. Keadaan mungkin memang sedang terjepit tetapi jika Sang Meneer tidak percaya dan yakin terhadap pemain mudanya, tentunya kesempatan itu tidak bisa datang. Hal ini memunculkan harapan baru untuk bisa mengulang prestasi Class of ’92. Semoga kedepannya lebih banyak pemain dari akademi yang diberi kepercayaan untuk bermain.

Alasan terakhir untuk membela Louis van Gaal adalah belum selesainya masa transisi Manchester United dari masa kepelatihan Sir Alex Ferguson. Seperti yang kita tahu, Sir Alex mengakhiri masa jabatan kepelatihannya di Manchester United setelah hampir 27 tahun. Pada rentang waktu 27 tahun tersebut, Sir Alex telah membawa Manchester United menjadi tim tersukses di Liga Primer Inggris dan juga menjadi salah satu klub besar di  Eropa. Hal ini tentunya akan berdampak pada manajer setelahnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN