Mohon tunggu...
puji handoko
puji handoko Mohon Tunggu... laki-laki tulen
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hidup untuk menulis, meski kadang-kadang berlaku sebaliknya.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Pertamina Panglima Lifting Migas Nasional

5 November 2020   23:39 Diperbarui: 5 November 2020   23:53 39 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pertamina Panglima Lifting Migas Nasional
foto dok. Pertamina

Kinerja Pertamina semakin membaik saja. Pandemi Covid-19 memang menghantam perusahaan Migas di seluruh dunia. Raksasa migas global berdarah-darah. Mereka merugi dengan jumlah yang luar biasa. Pada kuartal II 2020, Royal Dutch Shell, perusahaan minyak multinasional Inggris-Belanda, mencatat kerugian sebesar US$18,1 miliar atau setara Rp262,45 triliun. Sementara Chevron mencatatkan kerugian sebesar US$ 8,3 miliar atau setara Rp121 triliun. perusahaan-perusahaan lain juga mengalami nasib yang hampir sama.

Dunia memang mengalami kemurungan sejak Corona mengguncang dunia. Masyarakat membatasi diri untuk tidak pergi ke mana-mana. Akibatnya konsumsi BBM juga tuun drastis. Apalagi kemudian diikuti fenomena bola salju dengan rendahnya harga minyak mentah. Produsen minyak mentah selain Timur Tengah harus merogoh kocek lebih dalam, sebab produksi minyak mentah mereka membutuhkan biaya dasar yang lebih mahal.

Pertamina memang mendapat pukulan, tapi tidak setelak itu. Perusahaan migas nasional itu juga sudah kembali ke dalam trek yang seharusnya, seiring membaiknya harga minyak mentah dunia. Dengan begitu perusahaan bisa mengulang kesuksesannya menyetor pemasukan ke kas negara pada 2019 sebesar Rp181,5 triliun.

Hari ini, Pertamina bahkan menjadi tumpuan pemerintah dalam mencapai target produksi minyak satu juta barel per hari (bph) dan gas 12 miliar standar kaki kubik (BSCFD) di 2030. Target tersebut optimis dapat diwujudkan, seiring banyaknya blok migas yang dikelola oleh Pertamina.

"Kontribusi peningkatan banyak kita harap dari Pertamina sebagai BUMN migas pertama Indonesia yang memegang dari separuh, bahkan setelah Rokan beralih Agustus Pertamina berkontribusi 70 persen," kata Kepala Satuan Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto sebagaimana dikutip Bisnis.com, Kamis, 5 November 2020.

Dengan masuknya Blok Rokan dalam hitungan, Pertamina menguasai 70% produksi Migas nasional. Itu berarti ia menjadi tulang punggung penyedian migas di negara ini. Tugas Pertamina selanjutnya adalah melakukan kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan minyak baru. Sebab kebutuhan Migas tanah air terus meningkat setiap waktu.

Menurut data SKK Migas, kinerja hulu Migas mengalami perkembangan cukup baik, meski masih berada di tengah pandemi COVID-19. Data produksi minyak siap jual (lifting minyak) nasional per 31 Agustus 2020 tercatat sebesar 706,9 ribu barel minyak per hari (bph). Hal itu menunjukkan produksi minyak yang melampaui target. Sebab menurut Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) targetnya sebesar 705 ribu bph.

Kontribusi yang begitu besar dari Pertamina telah mengukuhkan perusahaan raksasa tersebut benar-benar mendapat mandat dari negara. Sebab sebelumnya penguasaan blok minyak dikuasai perusahaan asing. Berkat visi kemandirian energi yang dicanangkan pemerintahan Jokowi, aset-aset penting yang menguasai hajat hidup orang banyak dikendalikan oleh perusahaan negara.

Hal itu pula yang membuat Freeport mesti bertekuk lutut dan bersedia menjual sebagian besar sahamnya pada perusahaan BUMN. Setelah puluhan tahun bisa bertindak seenaknya di bumi Indonesia dengab memberika bagi hasil yang tidak seberapa.]

Ini adalah kabar yang baik di tengah masih berkecamuknya pandemi di seluruh dunia. Sudah saatnya kemandirian di bidang energi bukan lagi slogan berapi-api dalam pidato resmi. Hendaknya ia adalah kesungguhan yang bersumber dari sanubari. Sebuah cara pandang yang menghendaki seluruh kekayaan negara dinikmati oleh bangsa sendiri.

Puji Handoko

VIDEO PILIHAN