Mohon tunggu...
Puja Mandela
Puja Mandela Mohon Tunggu... Jurnalis di apahabar.com

Pria biasa, lulusan pesantren kilat, penggemar singkong goreng, tempe goreng, bakso,fans garis miring The Beatles, Iwan Fals, Queen, musik rock 60s, 70s.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Sambal Acan Raja Banjar dan Tekad Aulia Abdi Lestarikan Budaya Melalui Bisnis Kuliner

23 Agustus 2019   09:36 Diperbarui: 26 Agustus 2019   07:01 187 4 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sambal Acan Raja Banjar dan Tekad Aulia Abdi Lestarikan Budaya Melalui Bisnis Kuliner
Suasana Kopiwriting di Cafe Eat Boss Banjarmasin, Kamis (22/08). Foto : Puja Mandela

BANJARMASIN - Pada event JNE Kopiwriting bertajuk "UKM Lokal di Pasar Digital" yang digelar di Cafe Eat Boss Banjarmasin, Kamis (22/08/2019), owner Sambal Acan Raja Banjar, Aulia Abdi, menceritakan pengalamannya masuk ke bisnis kuliner. Ia juga berbagi cerita tentang perjuangannya mempromosikan sambal istimewa racikan istrinya kepada masyarakat luas.

Semua bermula pada 2014 dengan modal Rp 100 ribu, Aulia Abdi dan istrinya mulai merintis usaha kuliner. Bermodalkan cita rasa warisan kakeknya, ia terus berupaya mengolah sambal sampai mendapatkan cita rasa yang ia inginkan.

"Prosesnya butuh waktu enam bulan sampai ketemu rasa sambal yang kami inginkan," katanya.

Tepat pada 17 Mei 2014, Aulia berhasil menemukan cita rasa sambal yang ia anggap pas dengan lidahnya. Rasanya, pedas tetapi juga segar karena ada campuran buah binjai dan mangga. Aulia juga menilai sambalnya memiliki cita rasa yang Banjar banget.

Setelah itu, Aulia mulai memperkenalkan sambalnya kepada keluarga dan teman-temannya. Suatu kali ia memperkenalkan sambalnya kepada seorang kenalannya di Facebook. Kawannya itu lalu membuat testimoni pertama kepada Sambal Acan Raja Banjar.

"Saya lupa namanya. Tapi, dia bikin testimoni pertama kali. Rasanya pedas," kata Aulia sembari menirukan komentar kawan Facebooknya.

Perjuangan Sambal Acan Raja Banjar belum selesai. Aulia masih terus mempromosikan produk kebanggaannya kepada orang-orang terdekat. Ia juga mulai mengemas Sambal Acan Raja Banjar ke dalam kemasan cup plastik.

Secara perlahan ia juga sudah mulai melayani pemesanan dari pelanggan via online. Sayangnya, kemasan cup plastik itu tak cukup kuat, sehingga dalam beberapa kali pengiriman, kemasan sambal rusak.

"Sempat ada kendala 20 Cup tapi hancur saat dikirim melalui jasa pengiriman. Di situlah kami mulai belajar bahwa kemasannya harus diganti," jelasnya.

Satu tahun kemudian, Sambal Acan Raja Banjar menjadi populer. Sambal tersebut seakan menjadi menu pelengkap yang wajib tersedia di meja makan. Cita rasanya yang khas membuat sambal itu mudah nempel di lidah masyarakat. Sambal Acan Raja Banjar juga diklaim tanpa bahan pengawet.

Aulia Abdi menerangkan sebenarnya cita rasa sambal berasal dari cerita-cerita orang tua zaman dahulu di komunitas masyarakat Banjar. Cerita-cerita itu terus berkembang sampai ke generasi Aulia dan istrinya.

"Cita rasa seperti itu sebenarnya datang dari generasi ke generasi. Kami mendapat kisah tentang kenikmatan sambal Banjar dari orang tua kami," ungkapnya.

Saat ini bisnis kuliner Aulia Abdi sudah berkembang sangat pesat. Ia bahkan sudah pernah mengirim produknya kepada seorang warga Banjar yang tinggal di Sidney, Australia.

Dengan modal awal hanya Rp 100 ribu, kini Aulia sudah bisa membayar karyawan dan membangun cabang Rumah Makan Sambal Acan Raja Banjar yang menyajikan kuliner khas Banjar seperti aneka ikan bakar dengan sayur santan.

Saat ini rumah makannya sudah memiliki beberapa selain di Banjarmasin, yakni Banjarbaru, Martapura, dan Barabai. Pada awal September 2019, ia juga akan membuka cabang di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu.

Ia mengaku bersyukur karena kemudahan teknologi juga banyak membantu promosi Sambal Acan Raja Banjar. Salah satu pihak yang sangat membantu promosi Sambal Acan Raja Banjar adalah JNE. Melalui jasa pengirimannya, sudah banyak produk Sambal Acan Raja Banjar yang dikirim ke dalam maupun di luar daerah.

"Apalagi di JNE ada aplikasi Pesona Nusantara.  Itu sangat membantu penjualan di tingkat nasional," katanya.

Branch Manager JNE Banjarmasin Depi Hariyanto bersama Owner Sambal Acan Raja Banjar Aulia Abdi. Foto : Puja Mandela
Branch Manager JNE Banjarmasin Depi Hariyanto bersama Owner Sambal Acan Raja Banjar Aulia Abdi. Foto : Puja Mandela

Selain Aulia Abdi, JNE Kopiwriting bertajuk "UKM Lokal di Pasar Digital" juga menghadirkan sejumlah narasumber lainnya seperti Branch Manager JNE Banjarmasin, Depi Hariyanto, Kepala Dinas Koperasi UKM dan Naker Kota Banjarbaru Muhammad Rustam, dan Asisten II Bidang Perekonomian Setdako Banjarmasin, Doyo Pudjadi.

Event tersebut juga dihadiri 20 Kompasianer Banua Kalimantan Selatan atau biasa disebut Kombatan serta puluhan wartawan media cetak dan online. JNE Kopiwriting ini merupakan event ketiga setelah JNE sukses menggelar event serupa di Bandung dan Padang. Selanjutnya, Kopiwriting akan digelar di Malang, Yogyakarta, dan Cirebon.

Branch Manager JNE Banjarmasin, Depi Hariyanto, menerangkan perkembangan usaha kecil menengah di Kalimantan Selatan memang maju pesat. Hal itu dapat dilihat dari peningkatan pengiriman produk usaha kecil menengah.

"15 persen dari total pengiriman JNE didominasi usaha kecil menengah," ungkapnya.

Ada tiga produk usaha kecil menengah di Kalimantan Selatan yang saat ini paling banyak dikirim via JNE yakni lampit atau tikar yang terbuat dari rotan, kerajinan purun yang diolah menjadi tas, dan kerupuk amplang.

JNE sendiri terus berkomitmen untuk membantu mengembangkan usaha kecil menengah masyarakat di Kalsel. Tak hanya di level nasional, tetapi juga di tingkat internasional.

Puja Mandela,
Banjarmasin 23 Agustus 2019

VIDEO PILIHAN