Mohon tunggu...
Intan Puri Hapsari
Intan Puri Hapsari Mohon Tunggu... Freelancer

Penikmat alam semesta. Pengamat fenomena dunia. Pecinta seni manusia berevolusi dan berinteraksi Penulis jadi jadian yang ingin terus belajar.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Terjebak Kapitalis

4 Desember 2019   01:04 Diperbarui: 4 Desember 2019   01:08 0 0 0 Mohon Tunggu...

"Berapa harga yang pantas untuk membayar selembar t-shirt yang kita kenakan pada hari ini?" kalau berbicara tentang definisi harga itu sendiri, penjelasannya pasti akan relatif. Jawabannya bisa beragam tergantung darimana sudut pandang itu diambil. Begitu pula bagaimana sejarah perjalanan Tshirt itu bisa sampai ke tangan konsumen. 

Pernahkan anda membayangkan bahwasanya pakaian yang kita kenakan pada hari ini bisa saja turut berpartisipasi akan duka seseorang di luar sana? Dunia yang kita pijak ini, saling berkaitan satu sama lain bak sebuah sistem roda dimana perputarannya sangat bergantung kepada sang pemilik!. Hanya penguasa sistem saja yang dapat mengontrol kuantitas dan kualitas rantai penggerak roda tersebut.

Sampai hari ini, ideologi kapitalis telah menjadi penggerak roda perekonomian dunia. Sistem inipun secara tidak langsung menjadi kunci permainan guna bersaing di pasar global. Saya rasa memutar roda perekonomian dengan hanya mengandalkan daya beli masyarakat (konsumsi massal) akan menjadi buah simalakama jika tidak dikelola dengan bijak. Saya mengambil contoh industri fast fashion sebagai hasil dari sistem serba cepat asal menguntungkan ini. Tragedi robohnya pabrik Rana Plaza di Bangladesh pada tanggal 24 april 2013 menjadi simbol akan bahayanya perekonomian kapitalis tanpa batasan. Kecelakaan ini disebabkan oleh human error, korupsi, dan kelalaian pengawasan standar mutu bangunan. Pemilik gedung sebagai penanggung jawab utama tragedi ini, tega mengabaikan 1135 jiwa pegawai yang melayang demi menarik keuntungan yang sebesar besarnya. Karl Marx sudah pernah memprediksi bahwa sistem kapitalis akan terus mencari jalan untuk membuat pekerjaan menjadi lebih produktif secara kuantitas. Sistem ini menjanjikan harga bersaing bahkan cenderung murah sehingga dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Konsekuensi langsung dari permainan sistem ini adalah lenyapnya perusahaan yang sudah tidak lagi menghasilkan benefit yang maksimal. Kelas proletariat sebagai pionir perekonomian ini juga akan semakin menjamur, ironisnya nasib mereka hanya bergantung dari kepuasan para investor akan dividen yang mereka terima.

Klien dari konveksi di Rana Plaza ini, sudahlah tidak asing lagi ditelinga kita. Merk-merk internasional yang cenderung dipuja oleh penggemar mode tampaknya lupa akan kode etik yang seharusnya diterapkan. Saya mengamati setelah tragedi ini terjadi, industri fashion pun ingin memulihkan image mereka kembali. Kali ini mereka mengumbar janji untuk menghasilkan produk yang lebih sustainable dan bertanggung jawab akan asal usul hasil produksi mereka. Namun hal ini bukan berarti akhir dari sistem kapitalis yang sudah menjadi harga mati bagi perusahaan multinasional untuk bersaing di pasar bebas. Globalisasi pasar bukan hanya persoalan persaingan pasar secara bebas saja, dunia global inipun sudah terkait secara finance. Industri multinasional fast fashion juga mendapatkan suntikan dana dari investor internasional. Masih segar diingatan saya ketika Amerika mengalami krisis Subprime 2008 yang membawa efek domino ke berbagai negara. Hal ini membuktikan bahwa dunia ini terkait satu sama lain dalam satu sistem finance yang pada suatu hari bisa meledak. Mondialisasi pasar dunia menjadikan negara berlomba-lomba untuk menjadi pengekspor dunia. Deng Xiaoping memondialisasikan Cina ke dunia pada tahun 80-an dan telah berhasil membuatnya menjadi negara pabrik terbesar di dunia. Sistem kapitalis yang dibungkus dengan ideologi Negara Komunis mengantarkan Cina mengembangkan PIBnya dengan sangat pesat bersanding dengan Amerika. Cina merombak sistem perekonomian mereka menjadi liberal dan mengandalkan generasi imigran yang siap untuk mengisi posisi proletariat di masyarakat. Harga kerja para buruh menjadi nilai jual produk made in China. Demi persaingan, harga jual suatu barangpun terkadang harus meminimalisirkan harga jual keringat para kaum proletariat. Beberapa tahun belakangan ini, Cina telah mengambil langkah untuk lebih memperhatikan kaum marginal. Demonstrasi kaum buruh Cina menuntut hak asasi mereka untuk lebih diperhatikan telah membuat investor memutar otak, mencari solusi demi mempertahankan sistem kapitalis yang merajai dunia. Negara dengan tenaga kerja yang tak kalah bersaing dengan Cina seperti Bangladesh atau Eropa Timur menjadi pilihan baru bagi para investor.

Sistem perdagangan dunia notabenenya diatur oleh WTC (World Trade Organization), mencangkup 160 anggota dari negara-negara yang menguasai 98% perekonomian dunia. Namun, saya masih menemukan keganjilan dengan sistem pencarian untung tanpa henti ini. Saya bukan penganut ideologi tertentu karena semua ideologi pasti ada sisi baik dan buruk yang saling melengkapi. Saya hanya cemas akan roda yang terus berputar tanpa henti ini. Teori invisible hand Adam Smith memang membawa konsep pasar bebas dengan dibumbui oleh persaingan ketat. Sebuah konsep yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak : produsen dan konsumen. Sebenarnya teori ini memiliki tujuan yang baik yaitu produsen berusaha untuk memuaskan konsumen agar menjadi pembeli tetap demi menjamin kelangsungan bisnis mereka. Ya, teori ini tepat sasaran jikalau praktiknya belum tercampur oleh banyak tangan! Tangan-tangan yang saya bicarakan di sini adalah para investor. Dahulu rasa puas hanyalah berkutat antara pembeli dan penjual. Sedangkan sekarang kehadiran orang ketiga seringkali berada di antara transaksi jual beli. Investor pun wajib hukumnya untuk dipuaskan karena bisa dibilang mereka adalah ujung tombak dari modal perusahaan. Investor geram karena dividen tidak memenuhi target, produsen akan bertekuk lutut mencari berbagai cara demi kelangsungan bisnis kedepan. Kegelisahan investor ketika dividen yang dijanjikan oleh produsen tidak sesuai dikarenakan terkadang modal yang mereka tanam bukanlah modal kapital yang nyata. Modal ini dapat berupa pinjaman dari Bank yang menggembor-gemborkan "cara jitu memutar uang melalui produk investasi". Kalau sudah begini, investor pun akan stress untuk mempertanggungjawabkan hasil benefit perusahaan ke bank.

Roda perputaran uang demi perdagangan bebas seperti layaknya rantai sepeda yang tidak boleh putus di tengah jalan. Faktor-faktor yang menyokong perdagangan ala sistem kapitalis, bak roda yang harus berputar tanpa henti. Tapi, sampai kapan dan bagaimana sistem ini bisa memuaskan semua kalangan? Jikalau penguasa tersebut tidak pernah mengenal rasa puas? Kaum mana lagi yang patut dikorbankan demi berjalannya perekonomian pasar bebas yang makin global ini? Seperti penggambaran Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History and The Last Man bahwa setiap manusia memiliki "Thymos" yang merupakan bagian dari jiwa mereka. "Thymos" ditafsirkan sebagai bagian dari jiwa manusia untuk memperoleh pengakuan harkat dan martabat dari sesamanya. "Thymos" terpecah lagi menjadi "isothymia" dan "megalothymia". Isothymia menginginkan kesetaraan dengan sesamanya sedangkan megalothymia mendambakan pengakuan harkat martabat yang lebih tinggi daripada sesamanya.

Secara logika, kalau saya menarik benang merah "thymos" ini ke sistem politik, Demokrasi dan Kapitalis merupakan bentuk dari isothymia yang seimbang. Kesetaraan di sini dapat diartikan bahwasanya manusia mendapatkan kesempatan untuk saling bersaing dengan bebas sesuai kapasitasnya. Namun, jika kesetaraan derajat manusia ini tidak dikelola dengan bijaksana maka jiwa megalothymia dapat muncul dan membahayakan keseimbangan ekosistem. Keinginan untuk lebih unggul dari orang lain seharusnya bisa menjadi pemicu sistem yang kompetitif. Sayangnya, ego manusia yang terkadang tidak pernah puas akan semakin tergoda oleh kata "kekuasaan". Berkuasa dan memiliki kekuatan untuk merealisasikan keinginan menjadi tolak ukur keberhasilan hidup.

Lalu, bagaimana cara jitu untuk mengerem sistem kapitalis yang sudah mengakar dan menjamur? Kembali ke akar permasalahannya, semua keputusan tergantung oleh Sang Penguasa! Sang penguasa negara, sang penguasa perusahaan, sang penguasa partai politik, merekalah yang menjadi kunci dari rentetatan semua permasalahan di bumi ini. Negara Komunis, Sosialis atau pun Demokrasi tidak menjamin persamaan derajat manusia akan selalu diagung-agungkan. Rakyat seringkali menjadi korban pertama dari Ego manusia yang berlebihan ini. Di negara Komunis, di mana ideologi pemerataan kekayaan dijunjung tinggi terkadang hanyalah sebatas ideologi KTP saja. Pemerataan hanya berlaku bagi segelintir kelompok yang berkepentingan. Sebaliknya di Negara demokrasi pesunting sistem kapitalis, jenjang sosial antara kelas bawah dan kelas atas terlihat semakin terbentang dengan berkembangnya pasar bebas dan globalisasi. Kaum pekerja hanya akan sampai di dua pilihan : bekerja atau kelaparan? Bursa kerja tidak bisa lagi menawarkan pilihan beragam bagi kaum marginal ini.

Sampai di sini, saya hanya bisa berandai-andai. Seandainya semua manusia bisa terlahir dengan Ego Isothymia saja, niscayanya, dunia ini tidak akan mengenal permasalahan duniawi yang kita alami hari ini. Seandainya, setiap manusia bisa dibekali oleh pendidikan nilai moral, dengan mengedepankan rasa kemanusiaan di atas Ego Megalothymia. Pastinya setiap manusia akan memiliki batasannya sendiri dalam bertindak. Mereka pun akan lebih mengenal kata "cukup" itu lebih baik daripada kata "berlebihan". Dengan demikian, mungkin saja saga tragedi Rana Plaza II tidak akan pernah lagi menghiasai jurnal berita dikemudian hari.

VIDEO PILIHAN