Andri,dr,SpKJ,FAPM
Andri,dr,SpKJ,FAPM Psikiater

Psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik Medis. Lulus Dokter&Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society dan Academy of Psychosomatic Medicine sejak tahun 2010. Anggota dari American Psychosomatic Society dan satu-satunya psikiater Indonesia yang mendapatkan pengakuan Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine dari Academy of Psychosomatic Medicine di USA. Dosen di FK UKRIDA dan praktek di Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang (Telp.021-29779999) . Twitter : @mbahndi

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama featured

Berkawan dengan Depresi, Cegah Bunuh Diri

10 September 2014   13:12 Diperbarui: 20 Maret 2017   08:00 763 12 8
Berkawan dengan Depresi, Cegah Bunuh Diri
14103153111123415080

[caption id="attachment_358265" align="aligncenter" width="538" caption="Sumber: empireclaims.co.uk"][/caption]



Berkawan Dengan Depresi, Cegah Bunuh Diri


Oleh : Andri,dr,SpKJ,FAPM (Dokter Spesialis Jiwa)


Judul artikel saya di atas mungkin mengejutkan bagi sebagian orang, apalagi yang tidak pernah bersinggungan dengan pasien-pasien gangguan jiwa. Lebih banyak lagi mungkin yang menganggap depresi adalah suatu gangguan kejiwaan yang erat dengan kegilaan. Suatu asumsi yang sama sekali salah.


Setiap tahunnya 800.000 orang meninggal karena bunuh diri. Itu artinya ada satu orang yang meninggal karena bunuh diri setiap 40 detik di dunia ini. Laporan dari tahun 2012 menyebutkan bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor lima dari orang yang berusia 30-49 tahun. Secara umum data tahun 2012 mengatakan bahwa dari 20 kali percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang, satu berhasil bunuh diri. Data tahun 2012 juga yang mengatakan bahwa bunuh diri menjadi penyebab ke-15 terbanyak sebab meninggal seseorang (1.4%).


Multifaktorial


Berbicara tentang bunuh diri tentunya tidak semudah mengatakan bahwa hal ini diakibatkan karena kurangnya iman atau keegoisan dari si pelakunya. Gangguan jiwa terutama depresi dan penyalahgunaan zat adiktif seperti alkohol menyumbang peran dalam terjadinya bunuh diri. Pemahaman dan kesadaran kita sendiri akan bunuh diri mungkin masih sangat kurang. Keprihatinan hanya yang bisa kita lakukan tapi tidak banyak yang mungkin kita bisa perbuat.


Masalah gangguan jiwa sangat berhubungan dengan banyak faktor. Tidak semua masalah gangguan jiwa terkait dengan masalah psikologis dan sosial lingkungan. Faktor biologis juga mempunyai peranan penting. Itulah mengapa tidak semua orang yang mengalami tekanan dalam hidupnya akan menjadi depresi. Kemampuan adaptasi, faktor genetic bawaan dan dukungan lingkungan akan sangat mempengaruhi terjadinya depresi pada seseorang.


Gangguan depresi merupakan gangguan jiwa yang sering dialami oleh seseorang. Banyak penelitian mengungkapkan angka kejadian depresi berkisar antara 10-15% dari berbagai penelitian populasi. Bahkan pada pasien yang mengalami kondisi medis umum yang berat dan kronis (lama), angka kejadian depresi bisa mencapai lebih dua kali lipatnya. Secara global Depresi lebih sering dialami oleh wanita daripa laki-laki dengan perbandingan 2 : 1. Selain Depresi unipolar (lebih sering disebut Depresi saja atau Major Depressive Disorder dalam bahasa inggris) terdapat juga Depresi pada pasien Gangguan Bipolar.


Kita tentu masih ingat baru-baru ini banyak kejadian dihubungkan dengan Gangguan Bipolar. Kematian aktor terkenal Robin Williams tentunya sangat disayangkan apalagi Robin meninggal karena bunuh diri. Riwayat penggunaan alkohol yang panjang, gangguan bipolar dan episode depresi yang panjang telah merengut jiwa aktor dan komedian yang telah banyak membuat tertawa banyak orang. Sungguh ironis kenyataan yang terdapat pada pasien-pasien gangguan depresi dan gangguan bipolar.


Stigma Gangguan Jiwa


Upaya peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang gangguan jiwa sering kali mengalami masalah. Stigma yang melekat kuat pada pasien-pasien gangguan jiwa sering kali menjadi penyebabnya. Stigma GILA bukan hanya disematkan oleh orang yang awam akan kesehatan namun juga kalangan tenaga kesehatan seperti dokter dan paramedik juga tidak lepas dari pemahaman yang salah dan menjadi stigma gangguan jiwa.


Gangguan jiwa selalu diidentikan dengan kegilaan. Ketika menyebut gangguan jiwa kebanyakan orang akan berpikir ke suatu kondisi gangguan yang membuat seseorang  selalu hilang akal dan tampak kacau balau. Gangguan jiwa seperti selalu merujuk pada suatu kondisi  di luar medis dan membahayakan. Padahal banyak sekali tipe gangguan jiwa yang ada dan beberapa di antaranya bisa sangat dikontrol dengan terapi yang tepat.


Sayangnya sering kali keluarga terdekat pasien juga menstigma pasien yang mengalami gangguan depresi. Rasa malu memiliki keluarga yang mengalami masalah kejiwaan membuat sering kali pertolongan pengobatan menjadi terhambat. Banyak kasus gangguan depresi terlambat untuk ditangani karena mengalami penundaan akibat pasien dan keluarganya tidak mau membawa pasien ke dokter jiwa. Pasien depresi sendiri akan sulit untuk bisa berobat dengan inisiatif sendiri apalagi dalam kondisi yang sudah berat. Ketidakmampuan untuk berpikir, rasa putus asa, ketiadaan tenaga membuat pasien sulit untuk berobat saat mengalami fase depresinya. Orang terdekat pasien yang harus berinisiatif untuk membawa pasien ke dokter jiwa agar mendapatkan penanganan segera


Saling Terhubung


Tahun ini tema hari pencegahan bunuh diri sedunia adalah “ Suicide Prevention : One World Connected” . Tema ini menekankan bagaimana keterhubungan antara orang-orang yang mengalami masalah dengan gangguan jiwa terutama depresi sangat penting. Isolasi sosial telah dikemukakan oleh beberapa penelitian menjadi penyebab meningkatnya angka bunuh diri terutama pada pasien depresi. Sebaliknya data mengungkapkan adanya hubungan yang kuat antar manusia mengurangi risiko bunuh diri.


Menawarkan persahabatan, mendekati dan menjadi teman bagi orang-orang yang mengalami masalah dengan kejiwaannya dan malah bukan menjauhinya adalah suatu tindakan yang dapat menyelamatkan seseorang. Dukung mereka dengan empatik dan sarankan pengobatan yang tepat. Berikan kepada mereka akses ke pelayanan kesehatan jiwa yang tepat untuk mengatasi kondisi gangguan depresinya. Banyak penelitian mengatakan semakin cepat gangguan depresi ditangani maka keberhasilan terapinya juga akan semakin baik. Jangan halangi orang dengan gangguan jiwa untuk berobat. Penuhi diri kita sendiri dengan informasi yang benar tentang gangguan jiwa dan itu akan membuat kita menjadi lebih mampu berbuat yang benar untuk teman-teman, saudara bahkan kita sendiri dalam mencegah bunuh diri. Mari kita bersatu untuk mengurangi beban saudar-saudara kita yang mengalami gangguan jiwa. Siapapun bisa termasuk anda. Salam Sehat Jiwa