Pringadi Abdi Surya
Pringadi Abdi Surya pegawai negeri

Lahir di Palembang. Treasury Analyst. Pernah menulis buku kumpulan puisi, cerpen, dan novel. Kumpulan puisinya memenangkan Anugerah Pembaca Indonesia 2015. Catatan pribadi http://catatanpringadi.com Instagramnya @pringadisurya dan Twitter @pringadi_as

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Petani Filantropis dari Sumatera Selatan

13 Oktober 2017   17:39 Diperbarui: 13 Oktober 2017   18:34 774 12 8
Petani Filantropis dari Sumatera Selatan
Supartijo saat diwawancarai MetroTV. Sumber: Metro TV

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Misalnya, saya tiba-tiba merasa bangga mengenal seseorang yang membangun sebuah start-up dengan tema agrikultura. Ia menciptakan Tanihub yang membantu para petani baik dalam pemodalan maupun mempertemukan mereka dengan pembeli utama. Padahal ia dulu teman seangkatan saya di Matematika ITB yang para lulusannya rata-rata bekerja di bank. Lulusan Matematika ITB yang lain memilih mundur dari Bank dan memilih menjadi pebatik. Ia mengembangkan kearifan lokal Batik Bogor dan berjuang memperkenalkan Batik hingga ke luar negeri.

Teman saya yang lain, yang sama-sama lulusan STAN, memilih mundur sebagai PNS. Mereka memilih berwirausaha. Rata-rata mereka membangun bimbingan belajar. Bahkan saya kaget, sekitar seminggu lalu, salah satu teman yang sering duduk di samping saya, diwawancarai oleh Net tentang usahanya membuka bimbel CPNS. Teman saya satu ini juga yang sering membujuk saya keluar dari pegawai negeri, tetapi selalu saya tolak karena alasan klise: pengabdian.

Saya bingung ingin menuliskan kisah hidup siapa sampai saya mengingat seseorang yang berbeda, dengan kisah yang luar biasa.

Mungkin tak ada yang tahu bagaimana perasaan seorang anak berusia 4 tahun terpisah dari orang tua kandungnya. Anak itu diangkat anak oleh keluarga lain lalu dibawa pergi bertransmigrasi ke Sumatra Selatan.

Kehidupan yang keras ia jalani dengan segala keterbatasan. Ia membiayai sekolah dari kerjanya ngangon dan mencari rumput untuk makanan ternak. Ia menjalani hidup dengan makan nasi hanya dengan lauk kepala ikan asin yang ditumbuk. Semua hal yang sulit dibayangkan ia lakukan.

Karakternya yang pekerja keras membuat ia diterima sebagai pegawai honor, dan selama itu, ia belajar banyak hal, termasuk berwirausaha. Ia tahu caranya membuat mata tidur, maka ia menanam biji karet dan membuat mata tidur untuk dijual. Sikapnya yang luwes dan pandai bergaul membuatnya memiliki banyak relasi. Ia bahkan mengantar sendiri mata tiduritu antar-Kabupaten yang jaraknya ratusan kilometer dengan sepeda motornya.

Sebagai lulusan SPMA (setingkat SMA), ia tak menyerah soal pendidikan. Ia menyisihkan penghasilannya untuk berkuliah meski sudah memiliki keluarga dengan beberapa anak. Pada umur 38 tahun, ia baru menerima gelar Insinyur. Dan menjadi Insinyur kedua yang ada di wilayah tempat ia tinggal. Ia pun menjadi seorang penyuluh perkebunan dan telah mengunjungi banyak daerah di Sumatra Selatan.

Blessing in disguise. Ketika krisis moneter terjadi pada tahun 1997, ia justru mendapat berkah tak terduga. Nilai tukar yang melemah membuat modalnya naik 7 kali lipat dan ia memiliki kapasitas yang lebih besar untuk berusaha. Ia pun memiliki divisi usaha perkebunan karet dari hulu ke hilir, mulai dari menjual biji karet (kelatak), mata tidur, bibit karet poly bag, hingga ke getah karet. Dari karet, kemudian dia merambah perkebunan kelapa sawit. Dan setelah itu, kemampuan dan pengetahuannya yang di atas rata-rata membuat beliau dipercaya untuk membuat kebun dan mengelola kebun-kebun milik orang lain. Ia mengumpulkan mereka dalam satu manajemen kelompok tani.

Kacang tidak boleh lupa kulit. Baginya, wirausaha hanyalah efek samping karena kecintaannya pada bidang perkebunan. Beliau juga memiliki hasrat yang tinggi pada pendidikan. Beliau mengingat masa hidupnya ketika tinggal di Pematang Panggang (daerah di Lintas Timur antara Palembang dengan Lampung). Pada saat itu, beliau sering dianggap gila oleh masyarakat setempat karena nderesatau mengambil getah dari pohon karet. Kegigihannya dalam menyosialisasikan nilai ekonomi karet pada akhirnya membuat hampir semua penduduk di sana, kini, bergantung pada karet. Di daerah itulah ia mengenang masa sulit hidupnya dan kemudian membangun sebuah sekolah, pondok pesantren yang operasionalnya disubsidi dari hasil kebunnya yang ada di sana.

LPT Nurul Ilmi. Sumber: Kemdikbud
LPT Nurul Ilmi. Sumber: Kemdikbud

Tak puas hanya dengan satu sekolah, beliau akhirnya membuat kelompok tani yang ia pimpin bersepakat menyisihkan sebagian keuntungan untuk membangun sekolah lain di Banyuasin. LPT Nurul Ilmi. Hal ini dilatarbelakangi pula oleh keadaan sekolah di Kabupaten Banyuasin yang ia anggap sangat jarang yang berkualitas. Anak-anak Banyuasin cenderung bersekolah di Palembang. Maka ia membangun sebuah sekolah untuk memfasilitasi hadirnya kualitas di sebuah kabupaten kecil, dengan harga yang terjangkau karena adanya subsidi dari kelompok tani yang ia pimpin. Ibarat slogan sebuah resto, rasa bintang lima, harga kaki lima.