Mohon tunggu...
Muslimin Beta
Muslimin Beta Mohon Tunggu...

Seorang pemulung ilmu yang tinggal di SWIS (Sekitar Wilayah Sudiang),Makassar. Penggemar Sepakbola, blogger, peneliti, aktivis NGO, punya bisnis jaringan dan seorang citizen reporter yang berafiliasi pada organisasi Aliansi Penulis-Pewarta Warga Indonesia (APPWI), www.appwi.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pengetahuan Dasar Antropologi Bagi Mahasiswa Kesehatan

11 September 2013   18:35 Diperbarui: 24 Juni 2015   08:02 5212 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pengetahuan Dasar Antropologi Bagi Mahasiswa Kesehatan
13797379221380811063

Judul : Pengantar Antropologi Kesehatan

Penulis : Eliza Meiyani

Tahun Terbit: 2013

Penerbit: Leutikabooks dan CEPSIS Makassar

[caption id="attachment_289805" align="alignleft" width="400" caption="Dr Elisa Meiyani (Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea, Makassar)"][/caption] Secara umum, buku Eliza Meiyani yang sehari-hari menjabat sebagai Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea Makassar  ini  membahas  tentang antropologi sebagai suatu bidang ilmu. Buku ini sejatinya adalah buku ajar dengan tujuan agar mahasiswa dapat memahami konsep-konsep dan metode-metode ilmu antropologi dan ilmu-ilmu bagian antropologi, terutama sub-bidang kesehatan dan gizi.

Dengan membaca buku ini, penulis buku yang tercatat sebagai Dosen PNS dalam lingkup Kopertis Wilayah IX Sulawesi ini  mengharapkan mahasiswa akan mampu memahami dan menjelaskan hal yang berkaitan dengan pengertian dan wilayah kajian ilmu antropologi, konsep-konsep tentang makhluk manusia, masyarakat, kebudayaan dan kepribadian, perubahan masyarakat dan kebudayaan sosial, serta hubungan dan kontribusi antropologi terhadap pemahaman tentang fenomena sehat-sakit dan peningkatan derajat kesehatan.

Secara garis besar, buku ini mengulas tentang pengertian dan ruang lingkup Antropologi Kesehatan dan Gizi, akar antropologi kesehatan serta makanan dan kesehatan. Selain itu, juga membahas tentang  pendekatan dan metode ilmiah Antropologi seperti pendekatan historis, komparatif, holistik, emik dan etik serta metode penelitian lapangan Antropologi yakni Pengamatan dan Wawancara. Dimensi lain yang dimuat dalam buku ini tentang manusia dan masyarakat yang mencakup defenisi dan pengertian masyarakat, komunitas, kategori sosial, golongan sosial, kelompok dan perkumpulan. Selain itu juga unsur-unsur masyarakat yakni pranata, lembaga, status, peranan dan struktur sosial.

Porsi pembahasan tentang kebudayaan juga diulas dalam buku ini mulai dari defenisi dan pengertian kebudayaan, sifat dan unsur-unsur kebudayaan, serta  kognisi, sikap dan perilaku. Hubungan antara Kebudayaan dan Kepribadian juga menjadi topik kajian didalam buku ini seperti konsep internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi. Selain itu diulas tuntas, sisi perubahan Masyarakat dan Kebudayaan serta Difusi Kebudayaan  menyangkut persebaran kebudayaan dan prosesnya yakni Akulturasi dan Asimilasi. Sedang pada bagian akhir membahas tentang perubahan sosiobudaya dan kesehatan.

---000---

Menurut Eliza Meiyani,  yang membedakan antara antropologi dengan disiplin ilmu sosial lainnya adalah tidak pada masyarakat (primitif dan eksostis) yang menjadi fokus kajiannya, tetapi pada pendekatan dan metode ilmiahnya. Lagipula, ruang lingkup kajian antropologi menjadi semakin rumit dibandingkan dengan 50 tahun yang lalu, tatkala ketiga pendekar antropologi tersebut di atas memperkenalkan kepada khalayak mengenai ciri khas kajian disiplin antropologi.

Spektrum kajian antropologi amat luas, meliputi mulai dari kajian yang mengkhusus pada biologi dan evolusi manusia sampai pada kajian mengenai kehidupan sosial manusia kontemporer, baik yang berdomisili di pedesaan maupun yang di perkotaan. Demikian luasnya menyebabkan di dalam disiplin ini berkembang beberapa bidang spesialisasi, atau ilmu-ilmu bagian dari antropologi. Secara umum antropologi terbagi atas dua bidang ilmu, yakni :  Antropologi Biologi  dan  Antropologi Budaya.

Adapun nama sub-sub bidang antropologi sosial yang serupa dengan bidang yang digelutinya adalah  Antropologi Hukum;  Antropologi Politik;  Antropologi Ekonomi;   Antropologi Pendidikan;   Antropologi Arsitektur;  Antropologi Musik;  Antropologi Pariwisata;  Antropologi Agama; dan  Antropologi Pembangunan. Sedangkan nama sub bidang antropologi sosial yang disesuaikan dengan orientasi teorinya adalah  Antropologi Psikologi;  Antropologi Simbolik; dan  Antropologi Kognitif. Dewasa ini, telah berkembang pula sub bidang Antropologi Kesehatan. Wilayah kajian sub bidang ini adalah mempertautkan antara kesehatan dan penyakit dari segi biologi dengan konseptualisasi dan pengobatan dari segi budaya.

Mengutip pendapat Cecil Helman (1985), antropologi kesehatan adalah sub disiplin antropologi yang mengkaji tentang bagaimana orang dalam kebudayaan-kebudayaan dan kelompok sosial yang berbeda menjelaskan tentang sebab-sebab sehat-sakit, tipe-tipe perawatan yang mereka percayai, dan kepada siapa mereka dirawat bilamana menderita penyakit tertentu. Selain itu, antropologi kesehatan juga mengkaji tentang bagaimana kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek tersebut berkaitan dengan perubahan-perubahan biologis dalam organisme manusia, baik pada saat sehat maupun ketika sakit.

Foster dan Anderson (1986) mengemukakan bahwa antropologi kesehatan merupakan istilah yang digunakan oleh pakar antropologi untuk : (1) memberikan defenisi yang komprehensif dan integratif berkenaan dengan hubungan timbal balik biobudaya, tingkah laku manusia di masa lalu dan masa kini dengan derajat kesehatan dan penyakit tanpa mengutamakan perhatian pada kegunaan praktis dari pengetahuan tersebut; dan (2) partisipasi profesional mereka dalam program-program yang bertujuan memperbaiki derajat kesehatan melalui pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai hubungan antara bio-budaya dengan kesehatan, serta melalui perubahan tingkah laku ke aras yang diyakini akan meningkatkan derajat kesehatan.

Pakar lain yang dikutip oleh Eliza Meiyani yang aktif di ICMI Sulsel ini adalah Hasan dan Prasad mendefenisikan antropologi kesehatan sebagai cabang dari ilmu mengenai manusia yang mempelajari aspek-aspek biologis dan kebudayaan manusia (termasuk sejarahnya) sebagai kerangka acuan untuk memahami kedokteran, sejarah kedokteran, hukum kedokteran, aspek-aspek sosial kedokteran dan masalah-masalah kesehatan manusia. Selanjutnya Fabrega mendefenisikan antropologi kesehatan dengan mengacu pada isi studi yang dihasilkannnya. Adapun studi yang dimaksud : (1) menjelaskan berbagai faktor, mekanisme, dan proses memainkan peranan dalam atau mempengaruhi cara-cara dimana individu dan kelompok-kelompok terkena oleh atau berespon terhadap sakit atau penyakit; dan (2) masalah-masalah itu dipelajari dengan menekankan pada pola-pola penyakit.

Bidang perhatian antropologi kesehatan meliputi sejumlah perspektif, namun secara konseptual semuanya dapat dijajarkan dalam satu kontinum, yaitu pada ujung yang satu disebut kutub biologi dan pada ujung lain disebut kutub sosial budaya. Dari kutub biologi terdapat ahli-ahli antropologi yang perhatiannya terfokus pada pertumbuhan dan perkembangan manusia, peranan penyakit dalam evolusi manusia dan paleopatologi (studi mengenai penyakit-penyakit purba). Pakar antropologi yang perhatiannya terfokus pada bidang tersebut mempunyai kesamaan perhatian dengan pakar genetika, anatomi, sereologi, biokimia, dan sejenisnya. Dari kutub sosial budaya terdapat pakar antropologi yang perhatiannyan terfokus pada sistem medis tradisional (etnomedicin), masalah-masalah petugas kesehatan dan persiapan profesional mereka, tingkah laku sakit, hubungan antara dokter dengan pasien, dan dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan kesehatan Barat (modern) kepada masyarakat-masyarakat tradisional.

Akhirnya, penulis yang merupakan alumnus Antropologi UNHAS ini berpendapat bahwa antropologi kesehatan merupakan pertautan antara disiplin ilmu biologi dan sosial budaya. Akan tetapi sifat pertautannya tidaklah longgar. Sebab masalah-masalah yang dihadapi kedua disiplin ilmu itu saling membutuhkan data dan teori. Hal itu, misalnya dapat dilihat pada penyakit jiwa yang tidak dapat dipahami semata-mata dalam kerangka faktor fisiologi atau biokimia, atau faktor-faktor sosial budaya yang bersumber pada stres belaka, tetapi kedua jenis data tersebut penting dalam rangka mendapatkan pemahaman yang mendalam dari faktor-faktor yang berpengaruh. Demikian pula dengan makanan, dimana cara makan dan makanan yang dipilih berkaitan dengan derajat nutrisi. Serupa pula dengan epidemiologi yang didasarkan atas pengetahuan bahwa tingkah laku manusia sangat mempengaruhi faktor yang menularkan berbagai penyakit.

Demikian pakar antropologi dapat menjelaskan kepada petugas kesehatan mengenai bagaimana kepercayaan-kepercayaan tradisional serta praktek-prakteknya bertentangan dengan asumsi-asumsi pengobatan Barat (modern);  bagaimana faktor-faktor sosial mempengaruhi keputusan-keputusan perawatan kesehatan dan bagaimana kesehatan dan penyakit semata-mata merupakan aspek dari keseluruhan pola kebudayaan yang hanya berubah bila ada perubahan-perubahan sosial budaya yang mencakup banyak hal.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x