Mohon tunggu...
Muslimin Beta
Muslimin Beta Mohon Tunggu...

Seorang pemulung ilmu yang tinggal di SWIS (Sekitar Wilayah Sudiang),Makassar. Penggemar Sepakbola, blogger, peneliti, aktivis NGO, punya bisnis jaringan dan seorang citizen reporter yang berafiliasi pada organisasi Aliansi Penulis-Pewarta Warga Indonesia (APPWI), www.appwi.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Jalan Sinema Riri Riza di Graha Pena

19 Februari 2011   08:52 Diperbarui: 26 Juni 2015   08:28 276 0 5 Mohon Tunggu...

Diskusi yang mengangkat tema “Jalan sinema Riri Riza” dikupas di Studio Fajar TV Gedung Graha Pena lantai II Makassar, Sabtu, 19 Februari 2011. Saya datang bersama si kecil Uje sedikit terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan panitia yang dimulai sekitar pukul 11.30 wita. Ketika saya tiba di studio, sebuah film karya Riri Riza, sineas kelahiran Makassar itu dengan judul “Eliana, Eliana”.

Film ini dibuat pada tahun 2002 dalam format digital blow up ke 35 mm. Skenario film ditulis oleh Prima Rusdi dan Riri Riza dengan produser Mira Lesmana dan Riri Riza. Film ini mendapat banyak penghargaan seperti Young Cinema Awards Singapore tahun 2008, Dragons and Tigers Award Vancaouver 2009 dan Fiprescy Award 2008.

Cerita film ini berkisah tentang Eliana yang dikeluarkan dari kerja pada suatu sore karena menendang selangkangan seorang pengunjung pria yang melecehkannya. Hari yang berat karena rekeningnya telah menipis. Sore itu pula Bunda tiba di bandara membawa catatan alamat menuju rumah kontrakan Eliana. Ia membawa tiket untuk dua orang, kembali ke Padang esok paginya.

Pertemuan berlanjut dengan perjalanan taxi dimana Eliana membawa Bunda keliling kota, mencari temannya Heni yang membawa uang kontrakan. Eliana tak ingin Bunda menganggapnya seorang perantau gagal.



Setelah pemutaran film Eliana, dilanjutkan dengan diskusi dengan Riri Riza sesuai dengan tema diatas. Diskusi dipandu oleh penyair muda Makassar, Aan Mansyur. Riri Riza kelahiran Makassar 2 Oktober 1970 adalah lulusan program diploma III Penyutradaraan Film, Institut Kesenian Jakarta tahun 1993. Telah mengerjakan beberapa film documenter antara lain film biografi Sutan Takdir Alisyahbana dan penyair Agam Wispi. Ia juga terlibat sebagai sutradara dalam dua episode docudrama “Anak Seribu Pulau” pada tahun 1996. Karya terbaru “Sang Pemimpi” 2009 sequel dari film Laskar Pelangi telah memenangkan empat penghargaan internasional pada tahun 2010.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x