Mohon tunggu...
Himam Miladi
Himam Miladi Mohon Tunggu... Penulis

Freelance Content Writer| Blogger | Editor | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Artikel Utama

Mengucap Basmalah, Pelajaran Agama Pertama yang Sering Kita Lupakan

23 Mei 2019   21:15 Diperbarui: 24 Mei 2019   20:40 0 5 3 Mohon Tunggu...
Mengucap Basmalah, Pelajaran Agama Pertama yang Sering Kita Lupakan
ilustrasi membaca Quran. (AFP/Wakil Kohsar)

Mengucap Basmalah adalah pelajaran agama pertama yang kita peroleh. Bahkan sebelum kita diajarkan mengucap kalimat syahadat.

Mengapa orang tua kita lebih dulu mengajarkan ucapan basmalah daripada kalimat syahadat? Padahal kalimat syahadat itu justru rukun Islam yang pertama. Kalimat syahadat adalah identitas resmi kita sebagai seorang muslim.

Ucapan basmalah, yakni Bismillahirrahmanirrahiim, atau sering disingkat Bismillah saja, dari sisi pelafalan lebih mudah diucapkan dan lebih mudah diingat. Seorang balita yang baru bisa belajar bicara juga mudah untuk mengucapkan Bismillah.

Namun, lebih dari sekedar kemudahan pelafalan, ucapan Basmalah adalah pelajaran pertama kita tentang arti tauhid dan keimanan. Sebelum kita melangkah ke pelajaran berikutnya yang lebih kompleks, yakni penyaksian (syahadat).

Islam menuntun kita untuk selalu mengucap basmalah sebelum melakukan segala aktivitas. Kata Bi, yang diterjemahkan menjadi "dengan/demi" oleh para ulama dikaitkan dengan kata "memulai". Sehingga siapapun yang mengucap basmalah pada hakekatnya berkata "Dengan (demi) Allah aku memulai (aktivitas/pekerjaan ini)."

Kata Bi juga dikaitkan dengan "kekuasaan dan pertolongan". Dengan mengucap basmalah, pada dasarnya kita menyadari bahwa apapun pekerjaan/aktivitas yang kita lakukan tersebut sepenuhnya terlaksana atas kodrat (kekuasaan/pertolongan) Allah.

Ucapan basmalah tersebut juga mengandung makna permohonan, bahwa kita memohon pada Allah agar pekerjaan kita bisa terselesaikan dengan lancar dan memberi hasil yang sempurna atau sesuai keinginan kita. Dengan permohonan itu, dalam jiwa kita tertanam suatu bentuk pelemahan diri di hadapan Allah SWT.

Namun di waktu yang sama pula, saat mengucap basmalah kita menanamkan rasa percaya diri dan sikap optimis. Bahwa pekerjaan kita, atas pertolongan dan kekuasaan Allah semata sebagai sumber kekuatan niscaya akan terlaksana dengan baik. 

"Dengan mengucap basmalah saat kita mulai menulis, percayalah apa yang kita tuliskan itu akan menjadi indah dan benar. Bukan semata menurutkan hawa nafsu untuk menuliskan hoaks dan fitnah."

Dan apabila pekerjaan itu dilakukan atas bantuan Allah maka ia akan memberi hasil yang sempurna, indah, baik dan benar karena sifat-sifat Allah yang Maha Sempurna membekas/meninggalkan jejak pada pekerjaan yang kita lakukan.

ilustrasi Basmalah (sumber: nu.or.id)
ilustrasi Basmalah (sumber: nu.or.id)

Dalam ucapan basmalah, ada dua sifat Allah yang ditekankan, yakni Ar Rahman dan Ar Rahim. Ar Rahman -- Maha Pengasih/Maha Pemurah -- adalah curahan rahmat Allah pada setiap makhluknya. Sifat Maha Pemurah Allah ini dicurahkan pada siapapun juga makhluk yang ada di alam semesta ini, termasuk manusia (baik mukmin atau kafir). Sedangkan Ar Rahim -- Maha Penyayang -- adalah curahan Rahmat Allah kepada mereka yang beriman yang akan diberikanNya kelak di akhirat.

Dengan ucapan basmalah tersebut, Allah menghendaki agar seluruh sikap dan perbuatan kita selalu diwarnai oleh curahan rahmat dan kasih sayang. Kedua sifat Allah ini tak hanya ditanamkan pada manusia semata, melainkan juga untuk semua makhluk Allah, yang bernyawa atau tidak bernyawa sekalipun.

Ucapan basmalah adalah pelajaran tauhid yang penting dan paling pertama kita terima. Sayangnya, seiring bertambahnya usia kita, bertambah lupa pula kita pada pelajaran ini. Seberapa banyak dan seberapa sering kita mengucap basmalah sebelum melakukan segala aktivitas?

Yang paling mudah dan paling sering kita lakukan hanya saat sebelum makan saja bukan? Selebihnya, kita bahkan tak ingat dan tak pernah mengucap basmalah. Kita lupakan begitu saja pelajaran dan tuntunan yang pernah kita terima sewaktu kita masih kecil ini.

Seandainya kita menyadari, betapa dengan mengucap basmalah, setiap pekerjaan kita akan terlaksana dengan lancar dan baik. Menghasilkan output yang baik pula bagi kita dan tidak akan mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Saat mengucap basmalah, kita telah membentengi diri dan pekerjaan kita dari godaan nafsu dan ambisi pribadi.

Dengan mengucap basmalah saat kita mulai menulis, percayalah apa yang kita tuliskan itu akan menjadi indah dan benar. Bukan semata menurutkan hawa nafsu untuk menuliskan hoaks dan fitnah. Curahan kasih sayang yang kita tanamkan melalui ucapan basmalah itu akan membuat tulisan kita menjadi bermanfaat bagi yang membacanya. Memberi inspirasi, pengetahuan atau informasi yang dibutuhkan pembaca.

Dengan mengucap basmalah, hitung-hitungan kita akan menjadi benar dan tidak salah dalam memasukkan angka. Salah dan sangat keliru jika sampai ada yang beranggapan, "dua tambah dua sudah pasti sama dengan empat, baik itu didahului ucapan basmalah atau tidak."

Dua tambah dua memang sama dengan empat. Namun jika didahului dengan ucapan basmalah, jumlah itu setidaknya diucapkan dengan indah dan baik. Lain halnya bila tidak mengucap basmalah, bisa jadi hasil sebenarnya yang tercatat adalah empat, tapi dalam kenyataannya yang diucapkan adalah tiga. Karena yang satu tercecer atau terselip di saku si penjumlah yang enggan mengucap basmalah.