Himam Miladi
Himam Miladi Penulis

Freelance Content Writer| Blogger | Editor | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Kontroversi Iklan Aplikasi HAGO yang Melecehkan Martabat Guru

13 Mei 2019   22:26 Diperbarui: 14 Mei 2019   10:27 2198 22 17
Kontroversi Iklan Aplikasi HAGO yang Melecehkan Martabat Guru
foto layar dokumentasi Himam Miladi (sumber video: Channel YouTube Warung Wisata)

Sebuah iklan tentang game online dari HAGO menuai kontroversi di kalangan netizen dan pemerhati pendidikan. Iklan berdurasi 30 detik tersebut ditayangkan di sebuah televisi swasta pada waktu acara sahur.

Kontroversinya terletak pada materi atau kontek iklan yang ditayangkan. Dalam iklan tersebut, diceritakan seorang guru yang digambarkan sebagai guru killer, galak, sedang menulis materi pelajaran Sejarah Indonesia di papan tulis. Seorang siswa sedang dihukum berdiri dengan satu kaki sambil memegang kedua telinganya.

Sementara siswa lain di kelas terlihat mengikuti pelajaran dengan menahan kantuk, karena takut terkena hukuman yang sama jika bapak guru yang galak itu mengetahui muridnya tidak mencatat materi pelajarannya.

Saat guru menerangkan dan siswa di kelas menyimak pelajaran, seorang murid yang datang terlambat masuk kelas. Mengetahui kedatangan murid tersebut, ekspresi bapak guru pun berubah. Dari semula menampakkan wajah sangar, mendadak berubah jadi lunak. Tak nampak aura kemarahan yang terpampang di wajah bapak guru tersebut, meskipun tahu ada muridnya yang datang terlambat.

Justru, bapak guru itu menghampiri murid yang terlambat itu dengan sikap seperti seorang pembantu. Badannya dibungkukkan, tanda sangat menghormati si murid.

Bahkan bapak guru itu tanpa ragu membawakan tas muridnya. Lalu mempersilahkan anak didiknya tersebut untuk duduk di bangkunya dengan posisi badan terbungkuk-bungkuk, seperti gestur seorang jongos pada tuan mudanya.

Murid itu kemudian dengan santainya duduk dengan gaya "songong", dagu terangkat tanpa berkata apa-apa. Semua temannya di kelas yang melihat ke arahnya dengan mulut ternganga, seolah takjub. Punya ilmu apa murid yang terlambat itu hingga bisa menaklukkan guru yang dikenal paling galak?

Ternyata ilmu si murid tersebut sederhana sekali. Dia cuma jago main game online. Dan kebetulan bapak guru itu adalah salah satu lawan main game yang pernah dikalahkannya.

Di akhir iklan diperlihatkan adegan si murid dan bapak guru yang killer itu sedang main game online bersama di taman sekolah.

Berikut video iklan tersebut:

Ada 5 alasan mengapa iklan aplikasi HAGO ini dinilai kontroversial dan memantik reaksi keras dari kalangan pendidik.

  1. Pertama, iklan ini menyebarluaskan permainan game online dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Sosok guru, yang seharusnya bisa mengarahkan murid-muridnya untuk belajar di sekolah justru digambarkan ikut bermain game online di taman sekolah.
  2. Kedua, iklan ini melecehkan dan merendahkan martabat guru. Seorang guru, yang seharusnya memiliki kewibawaan di hadapan murid-muridnya, digambarkan harus tunduk dan patuh, terbungkuk-bungkuk layaknya seorang pelayan pada majikan.
  3. Guru yang seharusnya menjadi panutan bagi anak didiknya, di dalam iklan itu ditampilkan sebagai sosok yang mudah terpengaruh oleh game online. Padahal berdasarkan pandangan para pendidik dan orang tua, game online memiliki korelasi yang negatif terhadap konsentrasi para siswa.
  4. Iklan ini juga menampilkan pola hukuman dan sanksi bagi siswa yang sudah tidak relevan dengan perkembangan pendidikan masa kini. Selain itu, iklan aplikasi HAGO ini juga memperlihatkan bentuk diskriminasi hukuman terhadap siswa. Ada siswa yang dihukum berdiri di depan kelas, sementara siswa lain yang datang terlambat malah disambut bagaikan seorang tuan besar.
  5. Di luar materi konten iklan yang merendahkan martabat guru, iklan ini juga dinilai melecehkan profesi guru Sejarah. Pasalnya, materi pelajaran yang sekilas diperlihatkan dalam iklan tersebut tidak sesuai dengan kronologi pendidikan Sejarah bagi siswa kelas menengah atas (SMU) sebagaimana yang tertera dalam kurikulum pendidikan sejarah tahun 2013.

Masalah game online memang masih menjadi polemik yang kontroversial di kalangan pendidik. Wacana untuk memasukkan e-sport dalam kurikulum, sebagaimana yang pernah dilontarkan Menpora beberapa waktu lalu juga ditentang banyak pihak.

E-sport, khususnya game online dinilai tidak sejalan dengan maksud dan tujuan pendidikan karakter yang menjadi pondasi kurikulum pendidikan di Indonesia.

Bahkan di banyak negara maju sekalipun, e-sport belum diijinkan untuk masuk dalam kurikulum pendidikan mereka, baik di tingkat menengah atas maupun tingkat pendidikan dasar.

Iklan aplikasi HAGO, yang malah mempromosikan permainan game online tidak seharusnya ditayangkan di televisi.

Apalagi iklan ini tayang pada di bulan Ramadan, pada waktu sahur di mana anak-anak pada saat itu mungkin banyak yang menonton televisi. Waktu sahur yang seharusnya dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai agama dan pendidikan moral bagi anak-anak malah disusupi dengan iklan yang sangat tidak mendidik.

Adanya iklan aplikasi HAGO yang permisif terhadap permainan game online dilakukan di sekolah dikhawatirkan bisa mempengaruhi pola pikir anak-anak sekolah. Bahwa game online sekarang ini tidak lagi dilarang. Bahwa guru di sekolah pun juga ikut bermain game online.

Hal ini jelas sangat membahayakan kelangsungan pendidikan karakter dalam kurikulim pendidikan nasional kita. Seiring dengan banyaknya kasus-kasus tindak asusila yang dilakukan siswa, baik terhadap guru maupun teman sekolahnya, iklan aplikasi HAGO ini sangat patut untuk dilarang penayangannya.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2