Himam Miladi
Himam Miladi Penulis

Freelance Content Writer| Blogger | Editor | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Sujud Kemenangan Prabowo Bentuk Edukasi terhadap Framing Quick Count

19 April 2019   20:49 Diperbarui: 22 April 2019   17:18 1053 10 12
Sujud Kemenangan Prabowo Bentuk Edukasi terhadap Framing Quick Count
Sumber: (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Prabowo melakukan sujud kemenangan dan mengklaim pihaknya unggul berdasarkan data internal yang diperoleh dari Badan Pemenangan Nasional (BPN). Aksi sujud syukur kemenangan ini tak pelak menjadi bahan olok-olok dari para pendukung pasangan capres/cawapres 01. 

Banyak pihak yang menganggap Prabowo sedang berhalusinasi dan terkena delusi akut. Aksi ini juga mengingatkan publik pada momen serupa di tahun 2014, yang mana Prabowo yang sudah terlanjur melakukan sujud syukur dan mengklaim dirinya memenangkan pilpres ternyata harus menelan kenyataan pahit.

Terkait langkah Prabowo melakukan klaim kemenangan ini, sikap pendukung Prabowo-Sandi juga terbelah. Ada yang mendukung, ada yang menyayangkan, dan tak sedikit pula yang traumatik. Mereka menilai Prabowo akan jatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Sikap pendukung Prabowo-Sandi wajar dan sangat dimaklumi mengingat tak lama setelah masyarakat Indonesia memberikan suaranya, nyaris semua lembaga survei di Indonesia merilis hasil hitung cepat (Quick Count/QC) mereka yang menyatakan pasangan calon nomor 01 lebih unggul dengan angka di kisaran 55%, sementara Prabowo-Sandi hanya mendapatkan angka 44%.

Saya menilai dan menafsirkan langkah yang dilakukan Prabowo adalah wajar dalam perspektif politik. Sebagai seorang panglima, Prabowo merasa wajib untuk menyemangati pasukan dan pendukungnya karena sesungguhnya "pertandingan" belum selesai.

Prabowo melakukan klaim kemenangan adalah bagian dari aksi politik untuk mengimbangi banjirnya informasi dan berita hasil QC yang menyatakan pihaknya kalah. Dampak terbesar dari banjir informasi QC ini adalah terbentuknya opini yang membingkai bahwa pilpres sudah selesai dengan kemenangan pasangan calon nomor 01. Padahal faktanya, rekapitulasi perhitungan suara oleh otoritas yang berwenang (KPU) baru saja dimulai.

Di satu sisi, langkah klaim kemenangan Prabowo juga saya anggap sebagai bentuk edukasi pada publik, bahwa hasil QC tidak mencerminkan hasil akhir perhitungan suara yang sah. Dengan klaim kemenangan itu, Prabowo seolah mengajak masyarakat untuk mengawasi hasil Real Count (RC) yang dilakukan KPU, dan mengabaikan hasil QC dari lembaga survei. 

Klaim kemenangan Prabowo juga merupakan bentuk  dari "Public Warning" agar KPU tidak main-main dengan proses pengerjaan rekapitulasi hasil suara Pilpres.

Apakah ini berarti QC yang dilakukan lembaga survei tidak lagi bisa dipercaya?

Harus diakui, belakangan ini kredibilitas lembaga survei tengah berada di titik nadir. Publik sudah semakin cerdas dalam menyikapi berbagai rilis survei mereka, baik yang terkait elektabilitas sebelum pilpres maupun rilis QC pasca pilpres. Apalagi ada beberapa kasus di mana rilis survei dan QC mereka ternyata berbeda dengan fakta dan hasil perhitungan resmi.

Dalam menyikapi hasil QC pada pilpres kali ini, mari kita berpikir dengan logika yang jernih. Saya ambil contoh dari pengalaman menjadi KPPS pada pemilu 2019 ini. 

Di TPS yang saya layani (Kota Malang, Jawa Timur), perhitungan suara untuk presiden/wakil presiden sejumlah 166 surat suara baru selesai pukul 15.30 WIB. Rata-rata untuk tiap TPS bisa menghitung hingga 200-300 surat suara, tergantung kepadatan populasi di daerahnya masing-masing dan tingkat kehadiran pemilih.

Dengan fakta tersebut, mari kita ambil rata-rata waktu selesainya, sekitar pukul 16.00 WIB. Ini adalah perkiraan waktu selesai perhitungan suara di wilayah pulau Jawa. Bagaimana dengan perhitungan suara di wilayah pulau Sumatera? Tentu saja waktu selesainya bisa bergeser beberapa jam.

Sementara kita menyaksikan sendiri, lembaga survei sudah merilis hasil QC mereka sejak sore hari selepas pukul 15.00, batas waktu yang diperbolehkan KPU untuk merilis hasil QC. 

Dengan demikian, wajar apabila banyak yang mempertanyakan, apakah hasil QC itu bisa mewakili seluruh populasi? Apakah dengan sampel 5000 TPS bisa mewakili seluruh surat suara di 800 ribuan TPS dari Sabang sampai Merauke?

Secara ilmu statistik jawabannya mungkin ya, bisa mewakili. Tapi ilmu statistik dan metodologi survei toh tetap memakai margin error. Bagaimanapun juga ilmu statistik dan metodologi survei tetap tidak bisa meng-capture fakta di lapangan yang bisa terjadi setiap saat. Seperti kesalahan perhitungan, belum dilakukannya pemungutan suara, hingga tertundanya waktu pemungutan suara di banyak TPS. 

Hasil QC (yang sampelnya terbatas) bisa mendekati fakta dengan hasil RC apabila dilakukan pada wilayah yang lebih sempit dengan zona waktu yang sama.

Langkah Prabowo ini lantas diikuti oleh PDI-P yang mengatakan mereka memiliki hitung-hitungan tersendiri (berdasarkan RC internal). Dan hasilnya? Jauh berbeda dengan versi QC lembaga survei. PDI-P mengklaim pasangan calon 01 unggul 63%, sementara QC dari beberapa lembaga survei mengatakan pasangan calon 01 maksimal unggul 55%.

Nah, adakah yang mengolok-olok klaim kemenangan dan perhitungan dari PDI-P tersebut sebagaimana cibiran yang dilayangkan untuk Prabowo? Dari sini bisa kita lihat, bahwa masing-masing pihak nyata mengabaikan hasil QC dan memilih untuk mempercayai hasil perhitungan internal mereka.

Sujud sukur dan klaim Prabowo juga bisa dimaknai sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni lembaga survei melalui QC yang mereka keluarkan. Sudah cukup kita dibodohi dengan framing yang mereka bentuk, seolah QC adalah hasil akhir.

Sekarang perhatikan, adakah lembaga survei memberi edukasi pada publik dengan disclaimer pada rilis QC mereka, bahwa hasil QC tidak mencerminkan hasil nyata? Adakah mereka pernah meminta maaf bila QC atau survei mereka berbeda dengan Real Count yang sudah diputus final keabsahannya oleh otoritas yang berwenang? Adakah pertanggungjawaban dari lembaga survei bila mereka keliru? Yang ada, tulisan disclaimer dicetak dengan huruf-huruf kecil yang bisa terlewatkan oleh mata pemirsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2