Himam Miladi
Himam Miladi Penulis

Freelance Content Writer| Blogger | Editor

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Pidato "Game of Thrones" dan Upaya Membumikan Bahasa Ilmiah dalam Budaya Populer

13 Oktober 2018   23:56 Diperbarui: 14 Oktober 2018   09:51 1633 9 3
Pidato "Game of Thrones" dan Upaya Membumikan Bahasa Ilmiah dalam Budaya Populer
Infografis Tribun Bali/Dwi Suputra

Siapa sih yang senang membaca jurnal-jurnal ilmiah? Jika tidak dalam keadaan "terpaksa" seperti hendak membuat jurnal, makalah, esai atau tulisan lain yang penuh dengan bahasa ilmiah, bisa dipastikan nyaris tak ada orang yang bisa menikmati bacaan ilmiah. Kecuali mereka yang memang sudah terbiasa membacanya seperti para profesor dan ahli-ahli ilmu pengetahuan lain. Apalagi di tengah masyarakat yang tingkat budaya literasinya masih sangat rendah, seperti di Indonesia ini.

Fakta bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah tak perlu dielakkan. Menurut data statistik dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah, satu tingkat diatas Bostwana. Jangankan membaca artikel ilmiah, membaca buku-buku yang ditulis dalam bahasa populer pun masyarakat kita masih enggan.

Ini menjadi sebuah paradoks tersendiri ketika kita membandingkan dengan budaya digital yang mendera masyarakat Indonesia. Menurut survei Hootsuite, dari 8 jam 51 menit waktu yang dihabiskan untuk menggunakan internet, 2 jam 45 menit di antaranya digunakan untuk menonton layanan video streaming. Masyarakat kita lebih senang menjadi generasi penonton daripada generasi pembaca.

Seandainya ada konten yang dibaca, kita juga cenderung lebih suka membaca hal-hal yang ringan saja. Salah satu sebabnya ada pada gaya bahasa yang dipakai. Bahasa populer lebih disukai daripada bahasa ilmiah.

Ilmu pengetahuan memang sering membuat audiens merasa tidak nyaman karena memaksa mereka berada di luar basis pengetahuan mereka. Karena itu, artikel atau tulisan yang di dalamnya penuh dengan muatan ilmu pengetahuan dan gaya bahasa ilmiah jarang menarik minat perhatian masyarakat untuk membacanya.

Semestinya ada sebuah upaya agar tulisan dengan muatan ilmu pengetahuan menjadi menyenangkan untuk dibaca. Hal ini bisa memaksimalkan audiens untuk berinteraksi langsung dengan konsep ilmu pengetahuan yang dijabarkan dalam tulisan karena mereka memang menginginkannya, bukan karena rasa "terpaksa".

Salah satu caranya adalah dengan membumikan bahasa ilmiah dalam budaya populer sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan dengan masyarakat umum.

Mengambil sesuatu yang familiar dengan audiens (misalnya superhero, karakter film atau video game) dan menautkannya dengan ilmu pengetahuan atau wacana ilmiah - yang mana hal ini tidak mereka sukai - memungkinkan mereka untuk memasuki dunia ilmiah tanpa harus dihalangi oleh tembok tak kasat mata.

Maha guru ilmu komunikasi Marshall Mcluhan mengatakan bahwa "medium adalah pesan" (McLuhan, 1964) yang dimaksudkan untuk menyoroti pentingnya pengetahuan dan cara penyajiannya. Kita harus menggabungkan medium dan pesan yang ingin kita sampaikan untuk benar-benar berkomunikasi dengan khalayak kita.

Penggunaan ikon budaya populer bisa menjadi medium yang sangat baik dan tepat, karena mereka mewakili akses yang tanpa batas untuk kepentingan masyarakat umum.

Salah satu contoh yang baik dari penggunaan budaya populer untuk menyampaikan ilmu pengetahuan/wacana ilmiah adalah pidato presiden Jokowi yang memakai analogi karakter fiksi (Thanos, The Avengers, Evil Winter serta Game of Thrones). Siapapun yang mengkonsep 2 pidato tersebut (saya yakin pak Jokowi tinggal membacanya saja) mengerti bagaimana cara membumikan bahasa ilmiah ke dalam budaya populer untuk menarik perhatian pembaca.

Terlepas dari berbagai kritik atau pujian berlebih yang dialamatkan pada dua pidato Jokowi tersebut, secara ilmu pengetahuan konsep pidato itu sudah mengikuti alur yang dianjurkan Marshal Mcluhan. Alih-alih menggunakan istilah-istilah ilmiah yang kemungkinan besar terdengar membosankan, apalagi bagi generasi milenial, pidato presiden Jokowi menggunakan metafora tokoh-tokoh fiksi populer.

Pidato Jokowi memilih Thanos untuk menggambarkan persoalan riil yang sedang melanda Indonesia seperti melemahnya rupiah, naiknya harga kebutuhan pokok, merosotnya daya beli dan lain sebagainya.

Pidato Jokowi menggunakan metafora Evil Winter untuk menggambarkan neoliberalisme yang sudah mencengkram bangsa ini. Hampir tidak ada istilah-istilah ilmiah yang baku yang digunakan untuk menggambarkan persoalan atau wacana yang hendak disampaikan.

Inilah yang semestinya bisa ditiru oleh kalangan akademisi. Dalam sebuah sesi bimbingan teknis penulisan ilmiah, saya menyoroti persoalan mengapa banyak yang tidak suka membaca jurnal-jurnal ilmu pengetahuan, yang salah satu sebabnya adalah penggunaan gaya bahasa ilmiah yang terlalu baku. Apakah kita tidak bisa membuat karya tulis ilmiah dengan bahasa populer?

Mengapa tidak bisa? Selama kaidah penulisan ilmiahnya terpenuhi, gaya bahasa apapun yang dipakai boleh saja. Atau bila bahasa ilmiah baku itu menjadi syarat mutlak yang diwajibkan, maka luangkan waktu sejenak untuk mengalihbahasakan karya tulis bermuatan ilmu pengetahuan itu kedalam budaya populer.

Saya terus terang iri dengan banyaknya situs-situs luar negeri yang mengalihbahasakan jurnal-jurnal ilmiah ke dalam bahasa yang lebih mudah dicerna. Sebut saja situs-situs seperti sciencealert.com atau sciencedaily.com. Mereka banyak mengubah jurnal-jurnal ilmiah dan kemudian memublikasiannya dalam bahasa yang lebih populer, tentu saja dengan tetap menyertakan sumber aslinya.

Sementara di Indonesia, saya belum pernah menjumpai hal yang serupa. Memang kita bisa mengunduh jurnal-jurnal ilmiah melalui situs-situs perguruan tinggi. Tapi itu masih dalam versi gaya bahasa asli. Belum ada yang mau bersusah payah mengomunikasikannya pada masyarakat umum dengan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Ada pula situs-situs khusus artikel ilmiah, misalnya tentang kesehatan yang sering memuat tulisan-tulisan ilmiah. Tapi kadangkala mereka sering lupa untuk mencantumkan sumber aslinya. Padahal ini adalah kaidah yang penting. Karena bagaimanapun juga artikel ilmiah harus memiliki sumber yang ilmiah pula.

E. Paul Zehr, dalam jurnal A Personal Philosophy for Communicating Science in Society mengemukakan model penyampaian ilmu pengetahuan menggunakan medium budaya populer seperti pada gambar dibawah yang disebutnya sebagai The FUNnel model for Science Communication:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2