Himam Miladi
Himam Miladi Blogger yang berjualan kopi

Coffee Writer | Blogger | www.warungwisata.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

PSSI, Dua Alasan Ini Sudah Cukup Untuk Menghukum Tegas Aremania

16 April 2018   11:33 Diperbarui: 16 April 2018   12:11 1204 3 0
PSSI, Dua Alasan Ini Sudah Cukup Untuk Menghukum Tegas Aremania
(BOLASPORT.com/SUCI RAHAYU)

Pertandingan Liga 1 antara tuan rumah Arema FC melawan Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan Malang pada Minggu (15/4/2018) berakhir dengan kericuhan. Suporter tim tuan rumah Aremania melampiaskan kekecewaan mereka terhadap kepemimpinan wasit dengan turun ke lapangan dan melakukan aksi anarki ke pemain Persib sesaat sebelum pertandingan berakhir.

Laga kedua tim sebenarnya berlangsung seru dan panas. Arema FC mampu unggul terlebih dahulu melalui gol yang dicetak pemain asingnya Thiago Furtuoso di menit ke-18. Persib balik membalas dengan cepat 1 menit kemudian lewat gol dari Ezechiel Ndouasel. Kedudukan 1-1 bertahan hingga babak pertama berakhir. 

Di babak kedua, tempo permainan berlangsung cepat dan panas. Ezechiel Ndouasel akhirnya mampu menambah gol keduanya dan membuat Persib unggul 2-1 di menit ke-77. Saat itu suporter Aremania terlihat sudah mulai terpancing emosi mereka. Hal ini karena beberapa keputusan wasit Handri Kristanto yang dinilai merugikan tim Arema FC. 

Diawali dengan kejadian pemain arema Ahmet Atayef yang dijatuhkan di lapangan tengah namun tidak dinilai sebagai pelanggaran sehingga para pemain Persib dengan leluasa menggedor pertahanan Arema yang berujung gol kedua Persib Bandung. 

Emosi suporter Aremania memuncak tatkala pemain Dedik Setiawan diganjar kartu merah pada menit ke-88 kerena menyikut pemain Persib Bandung Ardi Idrus. Beberapa suporter terlihat beranjak dari tribun dan hendak menuju ke lapangan. Kemarahan suporter Aremania meledak ketika tak lama kemudian wasit memberi hadiah tendangan penjuru bagi Persib.

Kericuhan suporter berawal dari tribun ekonomi bagian timur. Mereka mengamuk berlarian masuk ke tengah lapangan. Kemudian, suporter yang duduk di tribun bagian selatan dan utara juga ikut turun memenuhi lapangan. Mereka melampiaskan kemarahan dengan memburu wasit dan para pemain Persib Bandung. Selain itu, Aremania juga melempari lorong ruang ganti pemain yang saat itu digunakan wasit dan para pemain Persib untuk mengevakuasi diri. 

Media officer Arema FC Sudarmadji mengatakan tindakan suporter Aremania tersebut dipicu oleh kekecewaan terhadap kepemimpinan wasit Handri Kristanto yang dinilai berat sebelah. "Kronologi dalam konteks manajemen tadi sudah berdiskusi bahwa gerakan penonton itu banyak bereaksi karena keputusan wasit," katanya.

Apapun pembelaan dari pihak klub Arema FC dan suporter Aremania, PSSI harus cepat menindaklanjuti kerusuhan ini dengan hukuman yang tegas. Baik itu untuk klub Arema FC karena tidak mampu mengendalikan suporter mereka serta memberi perlindungan pada tim tamu, terlebih lagi hukuman tegas juga harus diberikan untuk Aremania. 

Tindakan mereka yang masuk ke lapangan dan berbuat anarki mengakibatkan pertandingan harus dihentikan tanpa diakhiri peluit dari wasit. Ini sudah sangat menodai sportivitas olahraga. Apalagi kericuhan yang mereka lakukan mengakibatkan beberapa pemain dan pelatih Persib Bandung terluka. Belum lagi banyak suporter terutama suporter wanita yang juga ikut menjadi korban.

Faktor lain yang membuat Aremania layak dan harus mendapat hukuman tegas adalah chant/nyanyian rasis yang selalu mereka dengungkan di stadion saat Arema FC menjadi tuan rumah. Nyanyian berisi ujaran kebencian ini ditujukan Aremania untuk suporter Persebaya Surabaya, atau Bonek. 

Siapapun yang menjadi lawan Arema FC di Stadion Kanjuruhan atau Stadion Gajayana Malang, Aremania selalu bernyanyi rasis terhadap Bonek. Padahal, Persebaya tidak sedang menjadi lawan, dan Bonek juga tidak sedang ikut menonton pertandingan. Bahkan ketika Persebaya sedang vakum akibat dualisme dan perselisihan dengan PSSI, Aremania tak henti-hentinya bernyanyi rasis terhadap Bonek.

Hukuman dan sanksi tegas layak dan harus diterima Aremania. Ini sekaligus untuk memberi pelajaran pada Aremania, serta suporter lainnya di Indonesia supaya mereka menjunjung tinggi sportivitas dalam sepakbola. 

Seburuk apapun kepemimpinan wasit, hendaknya mereka tetap menghargai dan tidak berbuat anarki. Sepakbola Indonesia tidak akan pernah maju jika perilaku suporter seperti Aremania, atau suporter lain yang masih kerap berbuat ricuh dan menyanyikan nyanyian rasis terhadap suporter lainnya masih terus berlangsung.