Himam Miladi
Himam Miladi Blogger yang berjualan kopi

Coffee Writer | Blogger | www.warungwisata.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Cara Mudah Memahami Bahasa Walikan Khas Malang

8 Maret 2018   23:43 Diperbarui: 9 Maret 2018   19:42 1713 1 2
Cara Mudah Memahami Bahasa Walikan Khas Malang
Ilustrasi (halomalang.com)


Kota Malang adalah kota yang unik. Salah satu keunikannya adalah adanya bahasa walikan (kebalikan) yang lazim digunakan anak-anak muda Malang. Bahasa walikan, atau dalam istilah lokal setempat disebut Osob Kiwalan juga menjadi identitas tak resmi dari kawula muda Kota Malang.

Sejarah Bahasa Walikan Malang

Bahasa walikan khas Malang tercipta pada era perjuangan. Dukut Imam Widodo dkk dalam buku Malang Tempo Doeloe (Bayumedia, 2006) menyebutkan osob kiwalan dipakai sebagai bahasa isyarat dan kode rahasia oleh kelompok pejuang Gerilya Rakyat Kota (GRK) Malang ketika terjadi Agresi Militer II oleh pasukan Belanda pascakemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya sekitar akhir Maret 1949. 

Ketika itu, pihak militer Belanda menyusupkan banyak mata-mata di dalam kelompok pejuang Malang untuk memburu sisa laskar Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8 Maret 1949. Kelompok pejuang akhirnya berfikir, bahwa bahasa dengan sedikit modifikasi ini dirasa perlu untuk menjamin kerahasiaan, efektivitas komunikasi sesama pejuang, selain sebagai pengenal kawan atau lawan (semacam sandi).

Dalam perkembangannya, bahasa khusus yang semula digunakan oleh para pejuang ini kemudian menyebar. Pada tahun 1970-an, bahasa walikan jamak digunakan oleh para preman Kota Malang yang saat itu banyak membentuk kelompok-kelompok/gang. Sekarang, hampir semua masyarakat asli Kota Malang mengerti bahasa walikan. Akibatnya, bahasa ini akhirnya mengalami perluasan dan perubahan dibandingkan pada awal-awal perumusannya hingga akhirnya menjadi sebuah bahasa slang.

Proses Pembentukan Bahasa Walikan

Sebagaimana bahasa-bahasa lain yang digunakan sebagai sarana berkomunikasi, Osob Kiwalan juga bersifat dinamis. Artinya selalu ada perbendaharaan kosakata baru. Tidak ada rumus baku atau aturan dasar yang mengikat dalam pembentukan bahasa walikan. Ketidakteraturan perubahan pada pembalikan kosakata dalam bahasa walikanMalang tersebut menimbulkan kebingungan bagi orang awam. Namun, tetap ada beberapa kaidah sebagai dasar pembentukan kosakata bahasa walikan.

Kaidah pertama adalah membalikkan susunan huruf dari sebuah kata.

Contohnya seperti ini:

(1) oskab iki rasane nayamul

"bakso ini rasanya lumayan."

(2) ayas tak uklam ae, ker....

''saya jalan saja rek (dari kata Arek, sebutan untuk anak muda dalam budaya Jawa Timur)..

 

Pada contoh (1), terjadi pembalikan huruf secara keseluruhan. Yakni pada kata oskab yang awalnya adalah bakso dan nayamul yang berasal dari lumayan. Ini sudah sesuai dengan kaidah pertama.

Bandingkan dengan contoh (2) pada kata uklam yang berasal dari kata mlaku. Jika menurut kaidah pertama, kata mlaku yang dibalik seharusnya menjadi ukalm. Tapi karena bunyi katanya menjadi tidak enak didengar, akhirnya huruf / l/ ditempatkan setelah /k/.

Dari contoh nomor 2 diatas, ada kaidah dasar lain yang akhirnya bisa dimengerti.

Selain membalikkan susunan huruf, kaidah dasar kedua adalah kata yang dibalik harus mudah diucapkan dan enak/nyaman di dengar.

Perhatikan contoh lain berikut ini:

Osob kiwalan iku jenise kanyab...

"Bahasa kebalikan itu jenisnya banyak..."

Kiwalan berasal dari kata walikan. Seharusnya, jika susunan hurufnya dibalik secara penuh menjadi nakilaw. Pengucapan kata ini terdengar tidak nyaman. Akhirnya terjadi perubahan tidak lazim. Bukan susunan hurufnya yang dibalik, tetapi hanya merubah susunan suku kata saja. Akhiran --an tetap dipakai, tetapi diawali dengan terjadinya modifikasi dan pertukaran pada dua suku kata sebelumnya. Suku kata /wa/ dan /lik/ ditukar menjadi /ki/dan /wal/ yang kemudian ditutup dengan /an/.

Begitu pula dengan kata "banyak", yang jika dibalik seharusnya menjadi "kaynab". Karena tidak nyaman didengar, posisi huruf /y/ditukar dengan huruf /n/ sehingga menjadi "kanyab".

Sumber Bahasa

Osob kiwalan tidak menggunakan satu sumber bahasa saja. Meski berada dalam kultur Jawa Timur-an, banyak kosakata osob kiwalan yang berasal dari bahasa Indonesia. Kata-kata seperti "hamur, ayas, umak, nawak, nakam, rudit, sam, kadit, kubam, kanyab" adalah pembalikan dari kata-kata bahasa Indonesia "rumah, saya, kamu, kawan, makan, tidur, mas, tidak, mabuk, banyak". Dalam bahasa Jawa, kata-kata tersebut tidaklah terlalu sulit untuk diucapkan seandainya mengalami pembalikan. Tapi pengguna lebih memilih untuk membalikkan kata bahasa Indonesia tersebut daripada membalikkan kata-kata dari bahasa Jawa.

Kata "hamur" lebih dipilih daripada "hamo" (pembalikan dari kata omah), "ayas" lebih dipilih daripada "uka", "rudit" daripada "urut","nakam" daripada "nangam" dan sebagainya.

Hal ini menunjukkan terjadinya kesepakatan pada penggunaan kosakata bahasa yang hendak dibalik. Seperti yang terjadi pada kata "ngalup" yang berasal dari kata "pulang". Kata ini mendapat saingan dari kata "holem" yang berasal dari kata "moleh" (pulang). Beberapa pengguna masih memakai "ngalup", namun sebagian yang lain memilih untuk memakai "holem".

Adanya kesepakatan terhadap penggunaan kosakata bahasa yang dibalik juga terlihat dari fakta bahwa tidak semua kata ketika diucapkan dalam satu kalimat mengalami pembalikan. Contohnya:

"ker, numpak libom ae yo, enak kadit sanap...."

(Rek, naik mobil saja ya, enak tidak panas...)

Dari contoh diatas bisa dilihat, kata "numpak" tidak mengalami pembalikan. Padahal, bisa saja kata ini mengalami modifikasi seperti menjadi "kampun", atau jika mengambil dari bahasa Indonesia menjadi "kian". Hal yang sama dialami oleh kata "enak" yang dibiarkan tetap pada bentuk aslinya.


Siapa cepat, dia dapat

Siapapun bisa menciptakan bahasa walikan. Selain harus memenuhi dua kaidah utama di atas, ada satu syarat tambahan, yakni adanya kesepakatan untuk diterima, dalam arti kata walikan yang diciptakan bisa menyebar dengan cepat untuk kemudian diterima sebagai bagian dari osob kiwalan. Contohnya pada kata "kanelop". Kata ini berasal dari dua kata bahasa Jawa, yakni "enak" (dibalik jadi "kane") dan "pol" (artinya banget/sangat, yang dibalik menjadi "lop"). 

Satu dekade lalu, tidak ada yang menggunakan kata "kanelop" dalam pembicaraan sehari-hari. Hingga seorang penjual bakso di daerah Bunul memberi nama warung baksonya dengan nama "Bakso Kanelop". Kosakata baru ini pun kemudian menyebar cepat dan akhirnya diterima menjadi bagian dari Osob Kiwalan.

Perkembangan bahasa walikan yang akhirnya menjadi identitas khas dari masyarakat Malang membuat institusi pemerintah ikut menggunakan Osob Kiwalan dalam penyampaian program-program mereka. 

Pihak Polres Malang, Pemkot Malang, dan parpol pun turut menggunakan Osob Kiwalan agar ungkapan-ungkapan yang digunakan sebagai iklan layanan masyarakat dapat lebih mengena. Hal ini menandakan kecintaan masyarakat Malang terhadap produk asli daerah mereka sendiri sangatlah kuat.