Himam Miladi
Himam Miladi karyawan swasta

“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller” (Ibnu Batuta) @warungwisata.com

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight headline

30 Tahun Arema dan Dualisme yang Tak Kunjung Usai

11 Agustus 2017   18:52 Diperbarui: 12 Agustus 2017   03:36 683 1 0
30 Tahun Arema dan Dualisme yang Tak Kunjung Usai
https://www.gambarkatabaru.com

Kelompok suporter Aremania memperingati hari lahir klub kesayangan mereka yang ke-30 tahun. Sebuah pencapaian usia yang cukup matang bagi klub dari Kota Malang ini. Akan tetapi, dari semenjak berdiri 11 Agustus 1987, baru kali ini Aremania menghadapi sebuah persoalan yang cukup pelik. Ada 2 klub, dan dua kelompok suporter yang memakai nama Arema, yakni Arema Indonesia dan Arema FC. Yang jadi pertanyaan adalah, hari ini Arema yang mana yang berulang tahun?

Hingga saat ini, cuma ada satu orang saksi hidup lahirnya klub berlogo singa mengaum ini, yakni Ovan Tobing. Yang lain sudah tidak ada. Ovan Tobing adalah humas Persema ketika beliau mengundang Acub Zainal, administratur Galatama menonton laga Persema melawan Perseden Denpasar. Periode 1980 an, atmosfer sepak bola di Kota Malang praktis dikuasai oleh Persema, dengan Stadion Gajayana sebagai kandangnya. Sebenarnya, ada banyak klub-klub lokal di Kota Malang saat itu, seperti Senaputra FC, atau Armada 86 yang kemudian menjadi cikal bakal Arema Malang.Tapi, belum ada yang terpikir untuk membentuk sebuah klub yang berlaga di Galatama, sebagai maskot kompetisi klub "swasta" saat itu.

Acub Zainal, yang kemudian mendapat gelar kehormatan "Ebes" (artinya bapak, bahasa ngalam) melihat potensi penonton yang sering membludak saat Persema bertanding di Gajayana kemudian melontarkan ide untuk mendirikan klub "swasta" yang akan berlaga di Galatama. Ide ini kemudian diseminarkan oleh SIWO PWI Malang. Menurut Ebes, sudah saatnya Kota Malang mempunyai klub Galatama sendiri karena potensi dan antusias masyarakat yang sangat besar.

Sebelum Arema, Acub Zainal sebelumnya juga sudah mendirikan klub Perkesa 1976 bersama koleganya Dirk "Derek" Sutrisno, pendiri klub Armada 86. Dan untuk kedua kalinya, Acub meminta bantuan Dirk untuk membantu mendirikan Arema. Nama klub itu awalnya Aremada, gabungan dari Armada dan Arema. Nah, mengenai nama Arema sendiri asal-usulnya masih simpang siur, meski saat ini selalu identik dengan akronim dari "Arek Malang" (anak malang). Beberapa pemerhati sepak bola Kota Malang mengklaim, nama Arema diambil dari nama Kebo Arema, patih kerajaan Singosari saat diperintah raja Kertanegara (nama Kebo Arema ada di Kidung Harsawijaya).

Karena kesibukannya sebagai administratur Galatama, Acub kemudian menugaskan anaknya, Lucky Acub Zainal untuk menindaklanjuti pendirian klub Galatama di Kota Malang. Oleh Ovan Tobing, Lucky dipertemukan dengan Dirk Sutrisno. Dalam beberapa kali pertemuan, empat orang yakni Lucky Acub Zainal, Ovan Tobing, Dirk Sutrisno dan Slamet Pramono akhirnya sepakat untuk membentuk klub Galatama dengan nama Aremada, yang sedianya akan didaftarkan untuk mulai ikut kompetisi Galatama VIII. Pemainnya sebagian besar dari klub Armada 86 milik Dirk, ditambah beberapa pemain eks Arseto Solo. Beberapa bulan kemudian, nama Aremada diganti menjadi Arema 86. Sayangnya, klub baru ini mulai kelimpungan akibat pendanaan. Ovan Tobing kemudian menyarankan pada Lucky supaya klub ini diambil alih penuh oleh ayahnya, Acub Zainal.

Akhirnya, Acub Zainal pun setuju menyuntikkan sejumlah dana untuk Arema 86. Acub kemudian mendaftarkan badan hukum klub ke notaris Pramu Haryono dan pada tanggal 11 Agustus 1987 klub bernama Arema pun resmi lahir. Menurut Ovan Tobing, tidak ada alasan khusus terkait tanggal tersebut, sekedar mengalir saja. Mengenai nama, Acub lah yang menghapus angka 86, sehingga tinggal Arema saja. Acub pun mengganti logo dari yang semula burung garuda menjadi kepala singa, disesuaikn dengan zodiak bulan agustus, yakni Leo.

Pelatih pertama Arema adalah Sinyo Aliandoe, mantan pelatih Persija dan Timnas Indonesia. Acub sendiri lah yang meminta Sinyo untuk menukangi klub yang baru lahir itu. Pemain Arema pertama tentu saja sebagian besar dari klub Armada 86 milik Dirk Sutrisno. Kemudian atas peran Ovan Tobing, bergabunglah beberapa pemain dari klub-klub Galatama lainnya seperti Arseto, Niac Mitra, hingga Persema Malang sendiri. Para pemain ini kemudian dikumpulkan di mess milik Lanud Abdurrahman Saleh, Malang. Tentu saja itu berkat nama Acub Zainal yang notabene jenderal militer.

Di awal mengikuti kompetisi Galatama, prestasi Arema konstan biasa saja. Namun, berkat pondasi tipikal permainan yang ditanamkan Sinyo Aliandoe, perlahan Arema berhasil menjelma jadi kekuatan yang menakutkan bagi lawan-lawannya di Galatama. Hingga kemudian berhasil menjadi juara Galatama periode kompetisi 1992/1993 dibawah asuhan pelatih M Basri. Beberapa pemain Arema di tahun juara itu pun kemudian menjadi pemain andalan dari Timnas Indonesia seperti Aji Santoso, Mecky Tata dan Singgih Pitono.

Sayangnya, prestasi Arema kembali menurun saat mengarungi kompetisi Liga Indonesia, hasil dari peleburan kompetisi Galatama dan Perserikatan. Faktor utamanya adalah masalah pendanaan. Karena praktis sejak berdiri hingga tahun 2003, pendonor utama Arema adalah keluarga Acub Zainal, terutama Lucky Acub Zainal. Keadaan ini tentu saja tak bisa diteruskan, hingga akhirnya Lucky bersedia menjual sebagian besar saham miliknya ke PT. Bentoel Internasional Tbk. Hasil dari penjualan saham/akuisisi inilah yang kelak akan menimbulkan dualisme di tubuh Arema, karena adanya salah persepsi terkait akuisisi tersebut.

Setelah dipegang Bentoel, kondisi Arema perlahan membaik, bahkan prestasinya semakin memuncak. Usai terdegradasi di divisi 1 pada tahun 2003, setahun berikutnya Arema mampu menjuarai divisi 1 (tahun 2004), dan dua kali juara Copa Indonesia (2005 & 2006). Kebersamaan Arema dengan Bentoel harus usai di tahun 2009 ketika PT Bentoel yang diakuisisi oleh British American Tobacco bermaksud melepas seluruh sahamnya. Untuk menampung saham dari Bentoel tersebut, dibentuklah Yayasan Arema dengan ketua yayasan Muhammad Nur. 

Saham dari PT Bentoel tersebut kemudian diambil alih oleh Yayasan dengan dana dari Nirwan Dermawan Bakrie. Pengambil alihan ini kemudian diresmikan dengan dibentuknya badan hukum baru bernama PT. Arema Indonesia, dengan komposisi saham Yayasan Arema (93%) dan Ir. Lucky Andriandana Zainal (7%). 

Usai di lepas Bentoel, prestasi Arema semakin memuncak hingga berhasil menjadi juara Indonesia Super League di tahun 2010, dengan pelatih Robert Rene Alberts.

Dualisme Arema muncul berbarengan dengan dualisme PSSI dan kompetisi. Ketika PSSI mengesahkan IPL sebagai kompetisi resmi, ketua Yayasan Muhammad Nur bersama Lucky mendaftarkan Arema Indonesia untuk mengikuti kompetisi IPL. Sementara itu, muncul kubu lain dalam Yayasan Arema, yakni kubu Rendra Kresna yang beralasan saat pelepasan saham Arema oleh Bentoel, pihak Rendra lah yang mendapat amanat. Dua kubu ini kemudian sama2 membentuk klub, yang mana keduanya mengikuti kompetisi yang berbeda pula. Arema versi M Nur, yang kemudian mendapat suntikan dana dari konsorsium Ancora mengikuti kompetisi IPL, sementara Arema versi Rendra yang mendapat suntikan dana dari Cronus mengikuti kompetisi ISL. Anehnya, keduanya menggunakan badan hukum yang sama, yakni PT. Arema Indonesia, meski kemudian Arema versi Rendra mengganti nama menjadi Arema Cronus, tapi itu tidak mengubah badan hukumnya.

Dalam perkembangan terkini, dualisme itu masih tetap ada. Langkah PSSI dengan mengabulkan semua permohonan klub terhukum/baru membuat Arema kembali terbagi dua. Pihak almarhum Lucky, yang kini diwakili oleh istrinya Novi mengklaim sebagai pemegang badan hukum PT. Arema Indonesia, dan berlaga di Liga 3. Sementara Arema Cronus, yang dari awal memang menggunakan badan hukum Arema Indonesia memilih untuk membuat badan hukum baru, PT. Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia, dan mengubah nama klub menjadi Arema FC berlaga di Liga 1.

Akan tetapi, di hari jadi yang ke-30 kali ini, persoalan dualisme tersebut sementara terpinggirkan. Aremania seakan tidak peduli, klub mana yang 'asli' dan mana yang 'baru jadi'. Aremania hanya mengingat satu hal, di tanggal inilah klub kebanggaan mereka lahir.