Mohon tunggu...
Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan Mohon Tunggu... Pengamat Intelijen, Mantan Anggota Kelompok Ahli BNPT

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Bahaya Subversi Jelang Pelantikan Presiden Jokowi

10 Oktober 2019   11:57 Diperbarui: 18 Oktober 2019   14:00 0 7 3 Mohon Tunggu...
Bahaya Subversi Jelang Pelantikan Presiden Jokowi
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto/AntaraFoto (M RIsyal Hidayat)

Sesuai dengan rencana, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI akan dilaksanakan pada hari Minggu 20 Oktober 2019.

Menurut Ketua MPR Bambang Soesatyo, karena pertimbangan hari Minggu agar tidak mengganggu mereka yang akan ibadah waktu pelantikan akan diundur dari jam 10.00 menjadi pukul 14.00 atau 16.00 WIB.

Pada acara pelantikan akan hadir beberapa kepala negara/pemerintahan serta raja negara-negara sahabat di gedung DPR/MPR RI Senayan.

Dari perkembangan politik dan keamanan domestik Indonesia beberapa waktu terakhir nampak kecenderungan agak lebih bergejolak walaupun diperkirakan hanya menyentuh level sektoral dan tidak besar.

Akan tetap ada pihak-pihak tertentu yang diperkirakan bisa dan akan berusaha mengganggu/menggagalkan pelantikan.

Kita harapkan para lawan politik Pak Jokowi atau kelompok yang tidak puas dengan hasil Pilpres 2019 dapat menahan diri dan tidak perlu melakukan pengerahan massa ke Senayan hari itu.

Dari persepsi intelijen, ada dua kelompok. Pertama, mau  menggagalkan pelantikan dan berusaha menjatuhkan Pak Jokowi karena tidak suka dengan kinerja atau kebijakannya serta tidak puas dengan hasil Pilpres.

Kedua, yang bertujuan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain.

Gerakan menjatuhkan pemerintahan yang sah masuk dalam ranah subversi, secara teori subversi dilakukan pihak luar yang memanfaatkan kelompok dalam negeri.

Terbaca indikasi adanya pihak luar pernah memberi signal (pressure) dan berhasil mengganggu stabilitas pilitik dan keamanan seperti kasus Papua. Oleh karena itu menjelang pelantikan, intelijen perlu memonitor ketat dan melakukan counter intelligence.

Selain itu, juga perlu diwaspadai para pendompleng lainnya, yaitu kelompok teroris yang ingin menunjukkan eksistensinya dengan menyerang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2