Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan profesional

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Artikel Utama

Teror OPM adalah "The Art of Impossible"

13 Desember 2018   19:28 Diperbarui: 14 Desember 2018   19:58 2224 8 0
Teror OPM adalah "The Art of Impossible"
Ilustrasi TNI di Papua (KOMPAS/Aris Prasetyo)

Teror adalah salah satu sarana operasi intelijen penggalangan, menciptakan rasa takut, dan tujuan akhirnya mencapai apa yg mereka kehendaki. Ini sudah mereka lakukan, menyerang dan membantai warga sipil yang justru membangun infrastruktur untuk Papua di Nduga dan menyerang Pos TNI di Mbua.

Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Sebby Sambom yang diwawancarai oleh Jawa Pos (6/12/2018), menyatakan yang mereka tembak 24 orang itu sebagai intel TNI.

Tentang pembunuhan itu dikatakannya, "Jika mengetahui ada warga sipil, tentu kami tidak akan melukai. Bila benar ada warga sipil menjadi korban, tentunya itu tanggung jawab TNI. Seharusnya serahkan semuanya ke sipil. Selama ada TNI, kami serang."

Juga dikatakan, "Serangan kami berlanjut hingga revolusi total. Saat ini masih revolusi tahapan, serangan kecil ke titik-titik tertentu. Saat sampai revolusi tetap, semua warga non-Papua akan kami usir dari negeri ini."

Nah, itulah ancaman mereka. Targetnya TNI, tapi yg mereka bantai warga sipil. Gerakan mereka adalah bagian dari politik pemberontakan dengan aksi teror untuk menciptakan rasa takut kepada warga pendatang.

Dari sisi Intelstrat, ketika menilai kasus dalam dunia politik, napas gerakannya adalah "the art of possible". Kepentingan itu muara dari segala gerakan, bila sama, semua bisa diatur, bila berbeda saling bermusuhan. Ini yang perlu kita baca di Papua.

Sementara dalam dunia terorisme, napasnya adalah "the art of impossible". Sebelum 911, tak seorangpun pernah berpikir ada orang nekat menerbangkan dan menubrukan pesawat ke World Trade Center (WTC) hingga runtuh. Semua pihak awalnya berpikir "impossible", tapi nyatanya "possible".

Nah, untuk menangkal aksi-aksi "impossible" OPM lainnya, disarankan, sementara kodal mengamankan Papua dari upaya pemberontakan itu sebaiknya penuh di tangan TNI untuk dilaksanakannya 'counter insurgency' (intelijen, diplomasi dan tempur). Bila sudah kondusif diserahkan kembali kepada Polri.

OPM sangat mungkin melakukan serangan dalam bentuk aksi teror lanjutan dengan target utama TNI, tetapi warga sipil juga memungkinkan mereka bunuh. Perlu diketahui, yang sulit dan berbahaya, inisiatif serangan teror di tangan dan medan tempur mereka. PRAY

*) Artikel tentang "teror" di Nduga juga tayang di media arus utama kolom opini koran Sindo.