Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan profesional

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Artikel Utama

Menhan Ryamizard dan Suksesnya Diplomasi Pertahanan RI-AS

7 Desember 2018   10:31 Diperbarui: 7 Desember 2018   11:39 1115 5 0
Menhan Ryamizard dan Suksesnya Diplomasi Pertahanan RI-AS
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Menhan AS James Mattis di Washington DC, Amerika Serikat/japantimes.co.jp

Saat ini, para pengamat intelijen di dunia mengamati dengan serius perkembangan geopolitik dan geoekonomi yang sedang terjadi dan dipastikan akan semakin berpengaruh terhadap kelangsungan hidup sebuah negara. 

Sebagai contoh kegagalan Venezuela yang semakin dilanda krisis terparah di dunia, inflasinya super tinggi, mencapai satu juta persen, uang menjadi tidak ada harganya. 

Dahulunya negara ini diberikan karunia oleh Tuhan dengan minyak berlimpah, yang kini terjadi justru negara ini hampir bangkrut. Kesalahannya jelas pada manusianya, setelah  Hugo Chavez meninggal dunia.

Dalam menyikapi perkembangan dunia yang semakin tricky dan complicated, kita harus pandai, cerdas dalam membacanya. Komponen intelstrat di negara manapun mengamati pergeseran area konflik dari kawasan Eropa dan Timur Tengah ke kawasan Asia Pasifik. 

Ada tiga negara yang dicermati para analis, yaitu Amerika, China (Tiongkok) dan Rusia. Sederhana membacanya, AS memainkan strategi diplomasi kekuatan militer, China menggunakan kekuatan dan  kemampuan ekonomi, dan Rusia dengan operasi intelijen berupa perang hybrida.

Dari sisi geopolitik dan geostrategi, maka aktor utamanya di kawasan Asia Pasifik adalah Amerika dengan China. Kita tahu terjadinya perang dagang antar keduanya, yang mengimbas demikian banyak negara di dunia.

Indonesia termasuk salah satu korban akibat dua gajah yang saling bersikukuh dan merasa merekalah yang berkuasa.

Pandangan pemerhati Australia terhadap Indonesia
Profesor Stephen Smith, Mantan Menteri Pertahanan/Mantan Menteri Luar Negeri beserta beberapa tokoh dan penulis di Australia beberapa waktu yang lalu menyusun sebuah laporan (Perth USAsia Centre Special Report) dengan judul Expanding Horizons: "Indonesia's Regional Engagement in the Indo-Pacific Era".

Laporan tersebut menilai tentang peluang dan tantangan yang dihadapi Indonesia di bidang ekonomi, keamanan serta peran diplomatik Indonesia di Indo-Pasifik.

Laporan menyebutkan, bahwa Indonesia telah lama menjadi negara yang penting secara sistem di kawasan Asia. 

Wilayah dan penduduknya yang besar, pertumbuhan ekonomi yang berkecepatan tinggi, serta lokasi strategisnya di sepanjang poros maritim utama Asia telah mendudukkannya sebagai pemain sentral dalam semua perkembangan ekonomi dan keamanan di kawasan ini.

Pada tahun 1998, prioritas kebijakan utama pemerintah Indonesia lebih difokuskan kepada masalah domestik: "mengkonsolidasikan transisi demokrasi dalam sistem politik, mengelola tantangan keamanan internal yang kompleks, dan mendorong transformasi ekonomi melalui industrialisasi dan urbanisasi". 

Sementara negara lainnya melakukan peran aktif dalam beragam proses ASEAN di Asia Tenggara. Indonesia dinilai belum menyatakan diri sebagai pemimpin di kawasan Asia untuk tataran yang lebih luas.

Ketika lembaga demokrasi melakukan konsolidasi, negara semakin mendapatkan kapasitas untuk lebih aktif terlibat dalam inisiatif regionalisme. Pertumbuhan yang konsisten dan berkecepatan tinggi menjanjikan untuk menjadikan Indonesia mesin penggerak pertumbuhan ekonomi di Asia.

Pada saat yang sama, gagasan tentang siapa dan apa yang membentuk Asia sedang berubah, dengan model "Asia-Pasifik" yang lebih tua memberi jalan kepada konsep 'Indo-Pasifik' yang diperluas secara geografis.

Mengingat posisi strategisnya berada di titik tumpu Pasifik dan Samudera Hindia, 'pergeseran Indo-Pasifik' ini memberi arti bahwa Indonesia harus siap menjadi sebuah kekuatan regional yang signifikan. 

Bagaimana Indonesia menjalankan peran ini, jelas  akan memiliki dampak yang berkesinambungan terhadap arsitektur ekonomi, keamanan dan diplomatik di kawasan ini.

Diplomasi pertahanan Menhan Ryamizard ke AS
Dari perkembangan pergeseran geopolitik Asia Pasifik kepada konsep Indo Pasifik yang digagas oleh AS, maka Indonesia dari sisi posisi geografis dinilai menjadi negara sentral kawasan regional yang sangat diperhitungkan oleh negara-negara di sekitarnya. 

AS dengan cepat membaca kebutuhan Indonesia menjadi mitra dalam persaingannya  dengan China (Tiongkok), AS tidak suka dengan ulah China yang semakin reaktif dan ganas dalam menguasai kawasan Laut China Selatan.

Pada era pemerintahan Presiden Obama tahun 2009 saat menggeser kepentingan AS dalam konsep Rebalancing, Obama menyatakan membutuhkan Malaysia dan Indonesia sebagai mitra, di samping AS sudah memiliki beberapa negara sekutu di kawasan Asia Tenggara. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4