Posma Siahaan
Posma Siahaan internist

Bapaknya Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan. Novel onlineku ada di https://posmasiahaan.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Pemilu Damai dalam Filosofi Pempek dan Cuko

12 Oktober 2018   03:17 Diperbarui: 12 Oktober 2018   03:35 666 21 17
Pemilu Damai dalam Filosofi Pempek dan Cuko
Ikan, Pempek, Cuko, Sendok, Piring (dok.pri.)

"Cukonya pedas. Saya makan pempeknya saja, ya...." Kata seorang teman asal kota lain ketika berkunjung ke Palembang dan diajak mencicipi kuliner khas daerah ini. Baginya cuko adalah asesoris, boleh dimakan, boleh tidak, fakultatif.

"Sisain cuko-nya, ya. Awas kalau habis...." Pesan teman SMA dulu di Palembang, sekarang di Jakarta ketika kami reuni kecil-kecilan di sebuah "mall" di Cilandak dan dia datangnya belakangan.

Saya sengaja membawa 300 pempek ke sebuah restoran yang bersedia menggorengkan pempek dan mengijinkan makan disitu asal tetap memesan makanan mereka. Alhasil begitu sampai di tempat si teman ini bukan memburu pempeknya, tetapi langsung mengambil mangkuk kecil dan meminum cukanya dulu, seolah kehausan. Padahal cukanya pedas, lho.

Mutu pempek ditentukan oleh dua hal, kandungan mutu dan jenis ikan si pempek dan cukonya. Hal itu saya bahas di sini.

Ringkasnya, pempek itu ada yang tidak ada ikannya sama sekali, namanya pempek dos, hanya tepung dan penyedap rasa ikan, ada pempek ikan "busuk" (tidak segar, sisa tidak laku kemarin) dan ada ikan kualitas super (segar, belum amis) dan berapa persen komposisi ikan dibanding tepung juga menentukan mutu rasa pempek. 

Sementara cuko sendiri adalah kuah atau saus penyedap pelengkap pempek yang mutunya ditentukan "racikan" si pembuatnya. Komposisi gula merah atau kecap, cabai, bawang merah, bawang putih, garam dan udang tumbuk sangat menentukan kelezatannya.

Dalam politik praktis, pempek ibarat kandidat sementara cuko adalah tim suksesnya. Kandidat bermutu tinggi ibarat pempek dengan kualitas ikan 99,9% tetapi tim suksesnya kacau balau, pembuat keonaran, penyebar fitnah dan sialnya ketahuan, ini ibarat cuko yang cabenya terlalu banyak, garamnya keasinan, udang tumbuknya sudah kadaluarsa dan membuat diare pemakannya. Ini pasti akan gagal kalau diperhadapkan ke pelanggan yang orang Palembang asli pemuja pempek-cuko satu paket. Tetapi tidak masalah bagi orang lain yang memang tidak terlalu "butuh" cuko.

Sebaliknya kandidat yang tidak punya kualitas apa-apa atau hanya ikut-ikutan berpolitik, ibarat pempek dos biasa, tetapi memiliki cuko bermutu tinggi, misalnya berkampanye simpatik, sejuk, dapat menjawab serangan lawan dengan anggun dan penuh rasa hormat, ibaratnya si pempek-cuko perpaduan jenis ini lebih asyik dimakan ramai-ramai di "mall", karena cuko itu sendiri dapat dipakai sebagai saus makanan lain, seperti pisang goreng, telur dadar, tahu goreng, bahkan mi.

Idealnya, memang mutu si kandidat 100% ikan dan cukonya 100% pas untuk lidah semua orang, maka kalau di bidang politik itu juga pasti pas untuk jalan bersama kandidat lain, menang atau kalah itu urusan yang di Atas, toh biaya politiknya juga dapat dari donatur dan bukan uang pribadi.

Tetapi bayangkan kalau kandidat adalah bermutu pempek dos dan kuah cukonya gagal di lidah, ini ibarat kandidat karbitan dengan tim sukses tidak simpatik yang mungkin saja lolos menjadi kandidat dengan biaya sendiri dan besar pula jumlahnya. Kalau kalah biasanya akan cari ribut saja.

Mungkin ada yang tidak setuju "cocokologi" ala filsuf "jadi-jadian" ini, boleh komentar dibawah ini, tetapi kalau lebih 3 alinea sebaiknya buat "postingan" baru, biar puas.

Salam kompasiana, salam kompal, selamat bertemu di kompasianival 3 November 2018, saya sudah daftar dan sudah beli tiket.  See u!!

dari FB Kompal
dari FB Kompal